
Gadis itu, jaerin membuka matanya merasakan nyeri di setiap persendian tulangnya, jaerin terdiam sebentar lalu menghembuskan nafas pelan.
Ternyata itu hanya sebuah mimpi
Harapnya
Namun semua itu tidak benar, jaerin tersentak kaget saat memperhatikan kamar tidur yang sekarang dia lihat, interior nya, desain kamarnya dan juga tempat tidur nya.
Ini bukan milik jaerin!
Jaerin menyibak selimut nya, menatap tubuhnya yang tak lagi menggunakan sebuah piyama bergambar bintang, melainkan dress panjang berwarna putih bak sebuah gaun kerajaan eropa.
Jaerin menggeleng pelan.
Ini tidak mungkin!
Jaerin mencubit salah satu pipinya, hingga merasakan sakit yang tiada tertahankan karena ulahnya. Hal ini semakin membuktikan bahwa kejadian semalam adalah nyata dan bukan sebuah mimpi.
Lalu sekarang jaerin berada di tempat siapa?
Pertanyaan itu terjawab ketika pintu besar kamar itu terbuka, menampilkan seorang lelaki dengan pakaian formal menatap jaerin dingin.
Jaerin bingung, ini menjadi sebuah kepastian bahwa kisah semalam bukanlah mimpi, melainkan aliran takdir yang telah di gariskan dan tak bisa di rubah jalan ceritanya.
Lelaki itu, sehun berjalan menghampiri jaerin yang sudah membawa tubuhnya kesudut ruangan, dengan getaran ketakutan yang sangat kentara jaerin berusaha menghindar.
Jaerin menatap takut kearah sehun, yang dia takutkan sehun akan melakukan hal yang sama seperti semalam, walau hanya sebuah ciuman tapi itu cukup menbuat jiwa kenyamanan jaerin berteriak.
"Kau sudah bangun?" Tanya sehun yang sudah duduk di sudut menemani jaerin yang terus mengumpat dalam diam.
"Jaerin.." Sehun mengelus elus pucuk rambut jaerin yang berwarna hitam legam, kulit jaerin yang pagi itu terlihat cukup bersinar karena terpapar cahaya matahari pagi membuat sehun terpesona.
__ADS_1
Menurut sehun jaerin selalu mempunyai hal yang begitu menggoda.
"Sehun... Aku ingin pulang... " Lirih jaerin dalam isakan tangisnya yang mulai terdengar.
"Disini rumah mu jaerin, kau tidak akan pergi kemanapun." Jawab sehun dengan wajah yang masih teramat dingin, sebenarnya dia menginginkan membawa tubuh jaerin dalam pelukannya, namun hal itu urung dia lakukan karena sehun yakin jaerin akan menolak seluruh sentuhannya.
"Jika kau takut aku membongkar rahasia mu, percayalah aku tidak akan menceritakan itu pada siapapun, kau bisa hidup dengan tenang sehun." Jelas jaerin yang sekarang sudah berani menatap kedua manik mata sehun yang berwarna hazel.
"Bukan itu yang ku mau jaerin! Aku menginginkan mu!" Tegas sehun yang sudah membuat ekspresi menakutkan di hadapan jaerin.
Jaerin yang mendengar ucapan sehun tertawa meremehkan, sekarang jaerin berdiri dengan kepalan tangan yang sudah dia tahan sedari tadi.
"Lalu? Kau menginginkan ku untuk di bunuh secara perlahan olehmu!? Kau menginginkan aku mati menyedihkan di tanganmu?! Itu yang kau inginkan?" Bentak jaerin, membuat sehun terkejut bukan main untuk beberapa tahun sehun mengenal jaerin tak pernah sedikit pun jaerin membentaknya ataupun mengancamnya.
Jaerin adalah gadis baik dengan senyuman yang memabukan.
"Bukan itu yang ku inginkan jaerin! Kau tak mengerti!" Balas sehun tak kalah dengan jaerin yang sedikit membentak.
"Apa kau akan percaya jika aku menjelaskan segalanya?" Tanya sehun menatap intens seluruh wajah jaerin yang begitu manis.
"Mungkin, jikalau kau menjelaskan alasan yang benar bukan hanya sebuah bualan." Jaerin melipat kedua tangannya menaruhnya di dadanya, sambil membalas tatapan sehun.
Jaerin sudah bersikap sebaik dan semanis mungkin di hadapan sehun, namun rencana itu tak berhasil pada sehun yang terus saja berputar putar dengan banyak kebohongan yang memuakkan.
"Kalau begitu aku akan menceritakannya, tapi kau harus sarapan terlebih dahulu, jangan sampai kau sakit." Sehun memberanikan diri mengusap pucuk kepala jaerin yang langsung di tepis kasar oleh jaerin.
"Aku tak butuh belas kasihan mu!"
Rahang sehun mengeras, dia tidak mengerti apapun yang dia lakukan akan selalu salah di mata jaerin, padahal selama 4 tahun belakangan ini sehun berjuang agar bisa kembali bertemu dengan jaerin dan memimpikan menikahi jaerin suatu saat nanti, karena memang itulah janjinya saat pergi meninggalkan jaerin beberapa tahun yang lalu.
Walau pada kenyataannya dia harus dipisahkan dengan rasa benci jaerin yang sungguh menyesakkan hati sehun.
__ADS_1
Kemungkinan kecil sehun akan mendapatkan hati jaerin kembali, tapi apapun yang akan terjadi sehun akan tetap berusaha membuat jaerin kembali percaya pada betapa besar rasa cintanya pada jaerin.
"Ini rumahku! Kau harus mematuhi segala peraturanku."
"Aku tak meminta mu untuk membawa ku kemari, aku bisa pergi dari sini jika memang aku telah membuatmu tak senang dengan kehadiranku, itu lebih baik." Jawab jaerin santai, gadis itu memang sangat pandai berbicara apa lagi berdebat, sebenarnya ini adalah turunan karena ibunya sendiri adalah seorang pengacara.
"Kau! Kenapa kau sekarang menjadi gadis keras kepala yang menyebalkan!" Sehun dengan kasar menarik pergelangan tangan jaerin membuat jaerin meringis kesakitan.
"Kau harus tahu aku tak mau menjadi gadis baik atau penurut di hadapan lelaki ******** sepertimu. Ingat itu!" Jaerin menarik tangannya dari genggaman tangan sehun dengan kasar, dia membenci sehun dengan segala rasa tak berdosa dalam dirinya, yang masih dengan santai bisa hidup walau telah membunuh seseorang.
Terpujilah keangkuhan sehun yang sangat melewati batas, betapa tampan lelaki ini tak akan bisa sebanding dengan apa yang dia lakukan, memalukan!
"Kau menantang ku jaerin? Kau tak tahu bahwa aku adalah pria yang tak bermain dengan ucapan?" Sehun menyeringai, berharap jaerin akan ketakutan dengan ancamannya, tapi ingatlah, jaerin keras kepala dia tidak akan mudah di jinakkan jika hanya dengan sebuah gertakan.
"Lakukan...Kau ingin membunuhku bukan? Lakukan sekarang! Aku akan lebih senang ketimbang harus tinggal dengan lelaki bejat sepertimu." Jawab jaerin sengit, biarkan sehun terluka itu akan membuat jaerin senang.
"Kau menginginkan bukti?" Tanya sehun masih dengan senyum miring yang menakutkan, tapi sekali lagi ingat, jaerin adalah gadis dengan sejuta ucapan kasar siap menghujam siapapun yang telah membuatnya terluka.
"Lakukan... Aku akan tertawa puas jika kau berhasil melukaiku. Walau pada akhirnya aku tahu bahwa sampai saat ini kau tak berani untuk sekedar memukulku, pecundang!" Jaerin tertawa, tawa yang meremehkan membuat sehun mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah! Kau menang litle girl, aku sudah berbelas kasih padamu, tapi kau keras kepala menolak seluruh tawaran ku yang menggiurkan." Sehun berjalan pelan meninggalkan kamar jaerin, jaerin tersenyum getir well rencananya untuk terlihat kuat dihadapan sehun berhasil.
Jaerin melemaskan bahunya, merasakan air mata tengah deras mengalir dari kedua pelupuk matanya, tangannya bergetar ketakutan sekaligus takjub dengan segala acting kuat miliknya.
Andaikan ada yang tahu bahwa saat ini dirinya lemah, butuh sebuah sandaran untuk sekedar menenangkan ataupun membawanya dalam sebuah pelukan.
Tapi jaerin harus menelan pil pahit mengetahui tidak ada satupun dari Keluarganya yang bisa merengkuh tubuh lemahnya, karena seluruh keluarganya telah tiada, pergi dengan rasa tak bersalah karena membuat jaerin berada dalam posisi ini.
Dia ingin semua ini berakhir, sangat. Tapi dia tak mampu menampik bahwa dia takut akan kematian karena masih merasa belum cukup amal untuk mejawab segala pertanyaan tuhan.
Sebuah pernyataan yang dapat menggambarkan hidup jaerin adalah
__ADS_1
Mati segan hidup tak mau