
"Jaerin, jangan melepaskan genggaman tangan mu. Kita harus bersembunyi." Ucap sehun yang masih mencoba mencari jalan keluar, atau sekedar tempat persembunyian sementara. Sayangnya kali ini ia benar-benar lengah, bahkan senjata api pun tak ia bawa. Tanpa persiapan sama sekali.
"Jaerin, sudah ku katakan jangan melepaskan genggaman tanganku." Pekik sehun kesal sendiri, karena kini tangannya tak lagi menggenggam lengan jaerin.
"Ck, apa—"
"Ready for game baby? Let's play."
Suara mendayu, berbisik begitu sensual itu membuat sehun menegang, dirinya menyadari bahwa jaerin tak ada lagi dalam jangkauannya, hilang entah kemana.
Jrreep
Kemudian lampu diseluruh vila itu kembali menyala, membuat sehun dengan segera mencari keberadaan jaerin yang hilang entah kemana. Tak ada lagi di sisinya, benar-benar raip bagaikan sulap, tak tersisa.
"JAERIN!"
"JUNG JAERIN!"
Teriak sehun dengan sangat kencang, mulai menyusuri seluruh vila dengan kecepatan penuh. Berlari berusaha menemukan, menuju halaman depan vila yang kini menampilkan pemandangan para pengawalnya terkapar tak berdaya dengan luka tusuk dan tembak.
"SIALAN!" Geram sehun frustasi, ditariknya rambut miliknya merasa sangat pening, karena semua ini tidak sesuai ekspektasinya.
Sehun kembali berlari, masuk kedalam vila mencari keberadaan wonhoo. Ia sudah yakin, bahwa jaerin telah diculik oleh para mafia itu, sebab hanya jaerinlah satu-satunya kunci yang bisa mereka manfaatkan untuk mendapatkan data ini.
Dari arah taman belakang terlihat woonhoo yang tertatih-tatih dengan luka tusuk pada bagian otot bisep tangannya, berdarah dengan baju robek serta kaki tergores pisau cukup dalam. Berjalan menghampiri sehun, yang masih berputar-putar, kebingungan, tak fokus sebab kehilangan jaerin karena kelalaiannya.
"Pak... " Lirih wonhoo ketika berhasil mendekati sehun, kemudian terjatuh kelantai, tidak lagi tahan, sebab luka yang ia alami itu juga cukup parah, untungnya wonhoo dapat bertahan.
"Hoo, astaga." Pekik sehun, membantu wonhoo mencari tempat yang lebih baik.
Mereka sampai disebuah sofa kecil menuju taman belakang, sehun menidurkan wonhoo diatas sofa itu. "Pak, saya... Sudah menelfon anak buah kita yang berada di korea, mereka... Akan segera kemari." Rintih wonhoo, memegangi luka pada bagian tangannya.
Sehun meringis, merobek kemeja yang ia gunakan. Membalutkan robekan itu pada luka yang berada ditangan wonhoo, agar darah tidak terus mengalir. "Pak, Jaerin..."
"Kita kehilangan dirinya woo." Jelas sehun yang tetap melakukan tugasnya membalut luka wonhoo.
"Kejar dia, jangan sampai mereka mendapatkan jaerin." Ucap wonhoo yang sudah menepis tangan sehun dari kakinya yang terluka.
"Tidak akan bisa wonhoo. Mereka sudah pergi." Tegas sehun, memilih mengabaikan ucapan wonhoo dan memilih membersihkan luka itu dengan alat seadanya.
"Mereka ingin bermain bersama dengan kita, itulah yang seseorang katakan padaku sebelum jaerin hilang." Jelas sehun, sangat telaten membalut luka pada kaki wonhoo.
"Bos! Bos!"
Sehun mencari arah suara, ketika namanya disebut. Karena memang dirinyalah satu-satunya bos yang ada disini, pastinya panggilan itu diberikan padanya. Benar saja, dilihatnya 5 orang pengawal datang dengan tergesa-gesa, berlari menghampiri sehun.
"Maaf boss, kami adalah tim yang mendapatkan piket mencari makanan hari ini." Ucap salah satu dari kelima lelaki berseragam itu.
"Baguslah kalian selamat, cepat susuri tempat ini, bantu teman-teman kalian yang masih bisa di selamatkan." Perintah sehun pada kelima lelaki yang berhasil, atau lebih tepatnya beruntung bisa selamat.
"Baik bos!" Jawab mereka kompak, kemudian meninggalkan sehun bersama dengan wonhoo.
"Berapa orang yang menyerang kalian?" Tanya sehun dengan wajah serius.
Luka pada bagian kaki dan otot bisep tangan wonhoo telah berhasil sehun perban, walau dengan alat seadanya, setidaknya dapat menghambat. Sehingga wonhoo tidak kehilangan banyak darah.
"Banyak, mereka menyerang setelah lampu padam. Kami panik hingga tak sadar satu persatu dari pengawal mulai terbunuh." Jelas wonhoo yang kini menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Apa kau tidak sempat memberikan serangan balik?" Tanya sehun lagi, yang sepertinya kembali merasakan sebuah kejanggalan, tidak biasanya pengawlanya lengah seperti ini.
"Tidak sempat, semua pengawal terbunuh dengan mudah. Hingga beberapa orang berusaha melakukan hal yang sama padaku, hanya saja aku berhasil bersembunyi."
"Baiklah, mereka memang benar-benar serius. Kau lihat ciri-ciri mereka?"
"Tidak banyak, karena gelap. Aku hanya melihat sebuah pisau yang hanya dimiliki oleh satu organisasi mafia didunia."
"Pisau Black shadow."
***
Jaerin meringis, merasakan betapa peningnya kepala. Luar biasa berdenyut, hingga membuatnya kembali mengaduh kesakitan. Berusaha membuka matanya, setelah sadar dan tahu bahwa dirinya baru saja menjadi korban penculikan.
__ADS_1
Saat pertama kali membuka mata, pandangan pertama yang ia temukan adalah sebuah ruangan dengan dominasi kayu disetiap sisinya, entah lantai, maupun dinding terbuat dari kayu alami. Jaerin menarik kedua tangannya, merasakan sakit teramat pada pergelangan tangannya dan ia tahu bahwa sekarang dirinya tengah disekap.
Tapi anehnya, mulut maupun kaki jaerin tidak terikat, semuanya dibiarkan begitu saja. Meremehkan, seakan melepaskan diri dari jerat tali pada tangan sudah membuat jaerin kesusahan.
"Aku dimana?" Gumam jaerin, tempat ini benar-benar asing dimatanya.
Tak lama, sebuah pintu besar yang berada tak jauh dari tempatnya terbuka. Suara derap langkah seirama terdengar, begitu rapih layaknya suara sepatu prajurit terutama karena lantai disini terbuat dari kayu. Benar saja, tidak lama barisan pengawal memakai seragam masuk kedalam ruangan itu, juga dengan seorang lelaki dan perempuan yang di kawal begitu ketat oleh pengawal.
Barisan itu terbuka, menampilkan seorang lelaki dengan tampang gagah, menggunakan setelan jas dan wajah tampan, menghampiri jaerin. "Hi baby, sudah bangun?" Tanya lelaki itu dengan sebuah seringaian yang menyeramkan.
Jaerin hanya mendecih, ia tidak tahu siapa lelaki ini, yang jelas dia adalah musuh karena dengan kondisinya sekarang sudah menyatakan bahwa jaerin merupakan tawanan mereka. "Oh astaga, kau benar-benar cantik pantas saja sehun mempertahankan mu hingga sekarang." Puji lelaki itu, kini menarik rahang wajah jaerin, menggerakann kekiri dan ke kanan.
Jaerin menepis tangan lelaki itu dengan cara membuang mukanya, merasa sangat jijik begitu mendapat sentuhan dari lelaki itu. "Wow, selain cantik, kau juga jual mahal." Tambahnya dengan kekehan kecil.
Kesal karena dengan ucapan lelaki itu, jaerin dengan sigap menendang bagian vital lelaki itu menggunakan lututnya.
Duuagg
"Ah, kurang ajar!" Lelaki tadi mengaduh kesakitan, sembari memegangi bagian kelaminnya yang terasa nyeri karena tendangan jaerin dengan lutut kakinya yang tidak main-main.
"Bos, kau baik-baik saja?" Tanya para pengawalnya yang terlihat sangat khawatir.
"Aku baik, jangan lukai gadis itu. Dia sangat langka." Perintahnya pada seluruh anak buah yang sudah menodongkan pistol pada jaerin.
Mendapatkan perintah itu dari atasannya, para pengawal tadi mulai menurunkan pistolnya. Kembali berjaga disamping lelaki itu dengan gagah, melindungi, menjaga hingga rela mati karena memang itu adalah tugasnya.
Lelaki yang sebelumnya meringis kesakitan itu kini kembali berjalan, menuju sebuah meja yang searah dengan tempat jaerin duduk sekarang. Wajahnya memang sangatlah tampan, rambut klimis serta penampilannya yang rapih membuatnya terlihat sangat menawan. Tidak menyeramkan, maupun urakan sangat tertata, dengan pakain super mahal.
"Panggilkan wanita itu, aku ingin tahu keberadaan sehun sekarang." Ucap lelaki yang sama pada salah anak buahnya.
Salah satu dari mereka mengangguk, pergi meninggalkan ruangan itu, mengikuti perintah sang atasan. "Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau inginkan?" Tanya jaerin pada akhirnya.
"Aku? Ah iya, aku lupa berkenalan. Namaku adalah kim suho. Pemimpin sekaligus pemilik organisasi mafia BLACK SHADOW." Jawabnya dengan senyuman tipis, yang malah terlihat menyeramkan, layaknya seringaian.
Jaerin menyerngitkan alisnya bingung dengan jawaban yang diberikan oleh suho, ia tidak tahu menahu tentang organisasi mafia yang lain, kecuali black rose, tentu saja. "Tidak perlu dipikirkan jika kau tidak mengenal ku, maupun organisasi kami, perlu kau tahu. Sehun adalah anggota organisasi ini." Tambah suho, menatap jaerin dengan mata nakal.
"Jadi kau adalah bos sehun? Dan kau mengkhianati anak buah mu sendiri?" Tanya jaerin.
"Ya, aku yakin." Jawab jaerin dengan keyakinan penuh.
Setelahnya suara tawa terdengar begitu menggelegar, mengisi setiap sudut ruangan walau tawanya begitu menyeramkan."Baiklah, kita lihat." Ucapnya setelah berhasil menghentikan tawanya.
Kemudian suara decitan pintu terdengar, membuat jaerin mengalihkan pandangannya hingga matanya bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Sangat dekat, tak asing lagi dengan segala seluk beluk kehidupan jaerin, seseorang yang selama ini ia percaya. Dan yang menjadi motivasinya untuk mencari dan pergi. Orang yang selalu ada ketika dirinya bersedih, tempatnya berlindung.
"Hai jaerin?" Sapanya, lalu melangkahkan kakinya mendekat pada suho, berdiri disamping lelaki itu dengan sebuah senyuman angkuh.
"KAU! Apa yang kau lakukan? Kenapa?!" Tanya jaerin, matanya membelalak tak percaya, berpikir bahwa sekarang ia buta, sebab yang ada disamping suho adalah orang tepercayanya.
"Kau terlalu lugu jaerin, bodoh, dan mudah diperbudak. Aku benci wanita seperti itu." Hardiknya dengan smrik, yang tercetak jelas pada wajahnya.
"Bagus. Lakukanlah." Tambah suho, memperkeruh suasana.
"Tapi bukannya selama ini—"
"Aku tidak bodoh seperti mu jung jaerin, jika aku tidak mendapatkan apa yang ku mau darisana. Maka aku akan berpaling kesini, bukan bertahan berharap keajaiban akan datang. Aku bukan dirimu." Jelasnya, benar-benar menunjukan sebuah kebencian pada jaerin.
"Bukankah kita bersahabat josline?" Tanya jaerin lagi kini mulai merasa air matanya penuh, berusaha ia tahan di pelupuk mata.
"Sahabat? Hahah, kau benar-benar gadis bodoh. Seharusnya kau berpikir, sejak kapan aku berhenti bersahabat denganmu? Sejak kau merebut segala yang ku inginkan jaerin." Jawab josline.
"Apa maksudmu?" Tanya jaerin bingung.
"Kau seharusnya tahu, bahwa aku menyukai wonwoo, dan kau dengan santainya mendapatkan semua kasih sayang wonwoo. Hingga tidak sadar bahwa aku mencintai wonwoo." Jelas josline menggebu, matanya menyorotkan banyak kemarahan dan kebencian yang terpusat pada jaerin.
"Semua orang terpedaya dengan sikap mu yang polos. Untungnya tuhan membalas segala doaku, rasakanlah kehilangan itu." Tambah josline.
Jaerin menganga tak percaya, ia tahu selama ini josline mencintai wonwoo. Jaerin juga berusaha menjauh, hanya saja wonwoo dan dirinya sudah seperti adik kakak. Sehingga sangat sulit untuk menjauh dari lelaki tampan yang satu itu.
Diam, jaerin hanya bisa menahan rasa sakit dihatinya, kembali kehilangan kepercayaan untuk kesekian kalinya. Dia pikir ini mungkin menjadi awal yang baru untuknya dan josline, namun nyatanya berbeda.
"Jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu."
__ADS_1
Kini jaerin paham maksud dari perkataan orang yang pernah menyelamatkannya waktu itu, ternyata dia mencoba memperingatkan, bahwa orang terdekat bisa jadi menjadi musuh yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Lebih berbahaya, terutama karena josline adalah seseorang yang jaerin percaya.
"Sudah selesai reuninya?" Tanya suho.
"Reuni? Cih." Ucap josline mendecih tak suka, menatap jijik pada jaerin yang sekarang sudah terikat diatas kursi, penampilan acak-acakan dengan air mata yang berusaha ia tahan.
"Baiklah, sekarang kita menuju pertunjukan akhir." Ucap suho dengan seriangan.
Tiba-tiba sebuah layar muncul dari atas lantai, bentuknya persegi sama seperti tv hanya saja full screen sangat lebar. Layar itu menampilkan sebuah video dimana seseorang yang Jaerin kenal tengah berbincang-bincang dengan seorang lelaki yang berada beberapa meter didepannya.
"Sehun? Apa yang ia lakukan?" Gumam jaerin, fokus melihat interaksi sehun dengan seseorang berwajah tampan disana. Wajahnya sangat asing bagi jaerin, tidak tahu menahu siapa lelaki itu.
"Setelah melihat video ini, aku yakin kau akan menarik ucapan mu bahwa kau percaya pada sosok ******** seperti oh sehun." Ucap suho percaya diri.
Jaerin tetap fokus pada layar itu, melihat apa yang sedang terjadi disana. Tidak ada suara, hanya tampilan saja, sepertinya sengaja memasang mode mute agar tidak mendengar suara.
"Apa kau pikir sehun mempertahankan mu hanya karena cinta? Bulshit."
"Cinta itu tidak ada Jaerin. Sehun adalah lelaki yang penuh dengan dendam, ia lahir dan ia hidup hanya untuk membalaskan dendam. Cinta tidak ada dalam kamus hidupnya." Ucap suho memperpanas suasana.
"Dia menyelamatkanmu karena ada sesuatu yang dia inginkan, dan kita lihat apa yang akan ia lakukan jika dia sudah mendapatkan data itu."
Berusaha menepis semua ucapan yang dikatakan oleh suho, pura-pura tidak tahu. Juga melawan seluruh fakta dan ketakutan yang selama ini berusaha ia pendam. Benar, jaerin tidak menampik itu adalah kenyataan hanya saja ia sudah mencoba percaya. Setidaknya dia ingin tahu apa dia sudah bertindak benar.
Disana telihat sangat jelas sehun sedang berdiskusi dengan lelaki lain, tampak sangat serius. Terkadang lawan bicara sehun tertawa, seperti meremehkan. "Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, tapi sepertinya harus ku katakan padamu." Ucap suho lagi.
"Sehun hendak menjual data itu, agar dirinya bisa mendapatkan uang. Sadarkah jika selama ini sehun selalu mementingkan pekerjaannya? Karena itu, dia ingin mendapatkan uang sebanyak mungkin. Memanfaatkan dirimu agar bisa mendapatkan data yang orang tua mu sembunyikan. Lalu setelahnya dia dapat membalas dendam padamu, Siapalah yang mau mempertahankan seorang anak yang telah membunuh seluruh keluarganya? Bukankah kau bodoh jaerin?"
Tepat.
Ucapan suho berhasil membuat jaerin mengalihkan pandangannya pada suho. Menatap tajam lelaki itu, mulai merasa luluh. Suho memang benar adanya, jaerin tidaklah lebih dari seorang anak pembunuh. Dan kedua orang tua jaerin adalah yang telah membunuh keluarga sehun. Wajarkah jika sehun mempertahankannya jika tidak ada maksud dan tujuan tertentu.
"Seharusnya kau bersyukur dan berterimakasih padaku, sebab aku membawamu kemari sebelum sehun membalas dendam dan menyiksamu secara perlahan."
"Kau mau ikut bersamaku? Kau akan ku jadikan anak buah kesayangan, karena sikapmu yang pemberani dan sepertinya sifat kedua orang tuamu menurun padamu. Siapa tahu setelah ku latih kau akan menjadi pembunuh profesional." Tawar suho.
Sungguh itu terdengar sangat menggiurkan, tapi dengan segera jaerin tepis. Ia tak ingin menjadi pembunuh seperti kedua orang tuanya, sudah cukup sampai disini penderitaan yang ia rasakan. Tidak akan pernah ingin ia coba untuk kedua kalinya.
"Tidak akan selama aku ada disini."
*DOOR
DOOR
DOOR*
***
READY FOR THE ENDING?
Sehun dan jaerin.
Sorry ara masih amatir buat ngedit yang kaya gitu hahahah😂
__ADS_1