
Vomment guys, biar makin cintah:D
***
Dalam dirimu mengalir
Sungai panjang
Darah namanya
Dalam diriku menggenang
Telaga darah
Sukma namanya
Dalam diriku meriak
Gelombang suara
Hidup namanya
Dan karena hidup itu indah
Aku menangis sepuas puasnya
-sapardi djoko damono
__ADS_1
Jaerin memutuskan untuk menuruti permintaan sehun, toh permintaannya juga tak terlalu sulit hanya sarapan pagi, jaerin juga tak terlalu perduli dengan sehun sekarang, karena sekuat apapun dia menolak sehun akan tetap mencecarnya, tapi satu keteguhan yang masih dia pegang sampai sekarang, adalah berusaha kabur!
Tak perlu banyak kata, jaerin langsung membawa tubuh lemahnya untuk turun ke ruang makan, tentunya menemui sehun, dengan sempoyongan jaerin menuruni anak tangga yang lumayan berjejer panjang. sekali lagi Jaerin hanya bisa mengeluh nafas panjang, tak takut jika dia harus terjatuh dari tangga ini, setidaknya itu di se-menyakitkan tinggal bersama dengan sehun dalam rasa yang penuh keraguan dan kepastian.
Jaerin membenarkan rambutnya depannya yang sudah menjamah bagian wajahnya, sambil menuju arah ruang makan, jaerin juga tak terlalu tahu letak ruang makan itu, siapa tahu dia salah arah lalu malah bertemu jalan keluar, so lucky, tapi tak mungkin.
Baru saja jaerin salah arah, seorang pembantu menggiring nya menuju jalan yang tepat, karena pembantu itu bilang bahwa sehun telah menunggunya, jaerin hanya mengangguk mengikuti langkah wanita dengan seragam hitam putih yang ia gunakan.
Jaerin mengedarkan pandangannya, ketika menyadari harum citrus tiba tiba menyapa hidungnya, bau ini tiba tiba membuatnya teringat pada adik semata wayangnya yang sudah meninggal, menarik senyum pasrah, Jaerin hanya duduk di samping sehun ketika telah sampai meja makan.
Jaerin menelan salivanya ketika melihat begitu banyak makanan yang begitu menggoda, dia tidak munafik, jaerin sangat lapar dan membutuhkan pemenuh kebutuhannya, hanya saja, sekali lagi dia berada diambang kedilemaan, haruskan dia dengan senang dan menunjukan dengan gamblang bahwa dia benar-benar lapar dihadapan sehun, atau diam, menolak agar sehun merayunya atau memaksanya, lucu memang, tapi jika kalian berada di posisi jaerin sekarang pasti kalian paham.
Pasti
"Makan yang banyak, setelah selesai makan kau bisa pergi mengunjungi makam keluargamu." Ucap sehun sambil memakan sarapannya tanpa peduli dengan jaerin. "Aku tak lapar, bisakah kau mengajakku segera?" Oh oke, ternyata iblis didalam hati jaerin masih bersemayam dengan kuat. Di dorongnya piring berisi makanan itu agar menjauh darinya, bukan tak suka hanya takut tak kuat menahan bau makanan ini.
Jaerin mengangguk, menarik nafas secara perlahan untuk menetralkan pikirannya, pasalnya ini adalah pertama kalinya jaerin dibentak oleh sehun, karena pada sebelumnya jaerin hanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sehun, walau kini telah berubah.
Jaerin menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya, dan ternyata rasa makanan itu tak seindah penampilannya, jaerin ingin muntah karena rasa makanan ini.
***
Jaerin di bantu oleh sehun turun dari dalam mobil Limousin milik sehun, sehun juga membantu jaerin berjalan menggunakan kursi rodanya, hal ini di sebabkan karena jaerin mengalami mual ketika mencoba memakan masakan yang dibuat oleh koki sehun, jaerin sampai menangis menjerit ketika berusaha mengeluarkan cairan apapun yang berada didalam perutnya, perutnya perih dan terasa sakit, sakit malah.
Sehun yang panik langsung membawa jaerin menuju rumah sakit terdekat, ini keadaan darurat, dia tidak peduli dengan seluruh pandangan masyarakat atau siapapun yang melihat dirinya membawa seorang gadis kerumah sakit, sehun juga tahu, rumah sakit yang ia datangi bukan sembarang rumah sakit, karena dia bisa mendapatkan akses mudah hanya dengan menyebutkan namanya, tak heran setelah sehun menbentak seorang suster karena lamban, pegawai itu langsung dipecat.
Karena kepala pemimpin rumah sakit tahu, sehun bukanlah orang yang sembarangan.
__ADS_1
Jaerin dirawat di ruang IGD VVIP yang hanya berisi orang orang khusus yang memiliki jabatan penting, menurut dokter maag yang di idap oleh jaerin kambuh, dikarenakan jaerin tidak mengisi lambungnya dengan makanan sedikitpun.
Sehun meggeram frustasi, terlalu pening memikirkan kondisi jaerin yang semakin memburuk, apalagi semenjak sehun membawa nya ke mansion miliknya, sehun berpikir apakah dia telah sangat mengekang jaerin, apa dialah yang membuat jaerin seperti ini. Entahlah dirinya sendiri bingung dengan sikap jaerin yang kini tak dapat di pahaminya.
Dan kini jaerin memaksa sehun untuk mengunjungi makam keluarganya, dan kali ini sehun tidak dapat menolak karena dia sebelumnya sudah berjanji pada gadis dengan wajah pucat ini.
Dan sinilah sehun dan jaerin berdiri, berdua di sebuah pemakaman yang cukup elit tempatnya, sangat mewah dan sangat luas untuk sebuah pemakaman. Sehun membawa jaerin ketempat dimana keluarganya dimakamkan secara berdekatan, jaerin menatap kosong kearah batu nisan dengan menampangkan nama kedua orang tuannya dan satu adiknya, yang mati sia sia karena ulah sehun yang tak jelas apa alasnnya.
Jaerin tersenyum miris, lalu menghapus setetes air mata yang mengalir dari deras, jaerin menggunmam tak jelas di hadapan batu nisan keluarganya. Sementara sehun hanya diam berada dibelakang jaerin.
"Hai? Eomma, appa? Dan adikku jung hwan il, apa kabar? Kalian merindukan kakakmu? Aku baik eomma, appa, hwan, hanya saja berada dalam keadaan hidup tidak, mati juga masih tetap bernafas, sulit bukan?" Jaerin meletakan sebuah bunga kepada masing masing batu nisan yang berderatan.
"Eomma, appa, hwan maaf yah, aku belum bisa melindungi kalian, aku terlalu lemah, tapi kalian jangan khawatir kata lemah dalam kamus ku sudah tak ada." Jaerin memperhatikan ketiga nisan itu sambil tertawa kecil, tertawa sendiri karena ucapannya.
"Aku ingin bertanya, boleh tidak aku ikut menyusul kalian bertiga, rasanya hidup ini berat tanpa adanya kalian, bolehkan appa, aku tak bahagia berada didunia, malah terasa sesak seperti berada didalam ruangan kecil yang minim udara. Sakit sekali." Jaerin mengelus dadanya, tak memperdulikan bahwa sehun ikut terbawa perasaan mendengar ucapan jaerin, gadisnya yang ceria telah hilang entah kemana, dan dialah yang membuat semua itu terjadi, karena sehun lah jaerin menjadi sad girl seperti sekarang.
"Kalian pasti bahagia disana, apalagi kamu hwan, senang bukan mendapatkan perhatian lebih dari eomma dan appa, tak perlu lagi iri padaku, karena kini aku sama sekali tak bisa merasakan pelukan hangat eomma dan appa, tidak bisa hwan" Jaerin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia terisak sambil tersenyum sesekali, tidak tahu kenapa tiba tiba jaerin ingin tertawa sekeras kerasnya, tapi setelahnya bersedih kembali.
Mungkin dia sudah gila
"Jaerin! Kau tak punya banyak waktu." Sehun sudah memberi tanda dengan menjauhkan kusri roda yang digunakan jaerin dari pusara terkahir keluarganya.
"Sebentar sehun, aku mohon..." Jaerin memohon dengan tulus, tak mau berdebat didepan makam keluarganya.
"Eomma, appa, hwan, kalian tunggu kakak untuk menyusul kalian yah, kakak tak bisa berjanji tapi kakak usahakan secepatnya." Lirih jaerin dengan senyuman lemah dengan tawa yang kemudian beriringan setelah isak keterlukaan.
Sehun mengepalkan tangannya, menenangkan dirinya sendiri agar tak melukai benda yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
"Bye Eomma, appa, hwan" Jaerin melambaikan tangannya pada ketiga nisan yang tak bisa menjawab lambaian tangan jaerin yang penuh dengan kerinduan.