
**Part ini santai banget, so jangan di bawa tegang🌚
Wkwkwkw
Happy reading mafly♡**Â
Â
 ***
  Membuka matanya pelan, mengusap keningnya yang terasa begitu pening. Berusaha bangkit dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, di benarkanya rambut hitam panjangnya dengan jari-jari tangannya, agar tak terlalu berantakan.
  Jaerin, gadis cantik itu baru terbangun dari tidur siangnya. Sebenarnya dia ketiduran, entah karena lelah fisiknya, atau batinnya. Mungkin saja bisa keduanya. Hari ini banyak sekali kejutan yang ia dapatkan, begitu mengejutkan.
  Jaerin hendak bangkit, sudah bersiap turun dari atas ranjangnya. Namun urung ia lakukan begitu pintu kamarnya terbuka, diharapkan jaerin adalah sosok sehun yang akan menemuinya. Tapi sayang, begitu seseorang itu masuk yang datang adalah sahabatnya sewaktu kuliah.
 Josline.
 Wanita yang sekarang memiliki nama cloe itu datang membawa sebuah nampan. Mendekati jaerin yang masih terduduk diatas ranjang. Hingga sampai, berdiri dihadapan jaerin.
 "Sehun memintaku untuk memberikan mu makan malam jika kau sudah bangun." Ucap josline, meletakan nampan itu diatas nakas.
 "Padahal kau tidak usah repot-repot membawanya kemari." Jawab jaerin, mengambil piring yang berada diatas nakas, untuk memakan nasi dan lauk pauk yang di siapkan.
 "Tapi itulah yang sehun inginkan." Jawab josline, yang ikut mendudukan tubuhnya diatas ranjang berdua bersama jaerin.
 Jaerin tak menjawab ucapan josline dan memilih memakan, makanan itu dengan lahap. Jujur, dia memang kelaparan, sejak kembali dari rumah orang tuanya siang tadi, selera makannya hilang. Kehidupannya memang terlalu rumit untuk di cerna oleh orang lain, dirinya pun yang menjalankan tak tahu harus memulai segalanya dari mana. Semuanya terasa aneh, baru dan merupakan hal asing untuk jaerin. Belum pernah ia coba sebelumnya.
  "Ku dengar kau dan sehun pagi tadi mengunjungi rumahmu?" Tanya josline akhirnya membuka pembicaraan.
  Jaerin hanya menjawabnya dengan anggukan, mulutnya masih sibuk dengan makanan yang ia kunyah. Terlampau nikmat, sampai tak ingin berhenti, sekedar memberikan jawaban untuk pertanyaan josline.
  "Apa kau menemukan apa yang aku katakan?" Tanya josline terdengar sangat serius, menatap begitu penasraan pada Jaerin.
 Dan ketika pertanyaan itu terlontar dari mulut josline, seketika jaerin menghentikan aktivitasnya. Meletakan sendok ke atas piring, kemudian kembali menaruhnya keatas nampan yang berada di nakas. Seketika seleranya benar-benar hilang, padahal ia sudah berusaha untuk terlihat biasa saja, seakan tidak ada yang terjadi. Namun sebaliknya, semakin ia mendengar tentang keluarganya, terasa pula sakit didalam hatinya.
 Ini begitu tak adil.
  Berpikir untuk mati saja, agar semua ini berakhir dan dirinya pun tidak akan menanggung beban apapun. Termasuk tentang data sialan itu, dia bahkan menyesal sebab terlalu penasaran. Sampai akhirnya dirinya menemukan kenyataannya.
  "Ya, aku menemukannya." Jawab jaerin, mengambil segelas air dan meminumnya.
 Josline terlihat begitu antusias dengan jawaban yang diberikan oleh jaerin. Seperti berharap akan sesuatu, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah.
 "Apa kau menemukan data yang aku maksud?" Tanya josline lagi, semakin ingin menggali informasi, semoga saja itu berguna.
 "Tidak, hanya bukti bahwa sehun menggeledah rumahku. Hanya itu." Jawab jaerin, memilih bangun dari duduknya, menyingkirkan selimut yang sebelumnya menutupi setengah tubuhnya. Â
 Berjalan menuju meja rias miliknya, untuk membenarkan penampilannya. Jaerin tak pernah ingin tampil jelek dihadapan banyak orang, setidaknya make up dapat menutupi wajah sedihnya.
  "Sehun pergi kemana?" Tanya jaerin, sibuk dengan serum pembersih wajah yang dibelikan oleh marie untuknya.
  "Dia ada urusan, sepertinya rapat dengan para mafia." Jawab josline kelewatan jujur.
 Jaerin menoleh menatap josline terheran. Sebab urusan seperti itu bukannya akan selalu menjadi rahasia. Dan kenapa josline dengan santainya mengatakan hal itu, tanpa takut sehun akan marah jika jaerin mengetahuinya. Mengabaikan hal itu dengan berusaha berpikir positif, mungkin saja josline sudah sangat percaya dengan dirinya, sehingga dengan mudah membocorkannya.
 "Hm, baiklah rapat Mafia rupanya." Jawab jaerin, tak berminat bertanya lebih lanjut.
 "Jaerin, apakah kau tidak suntuk terus menerus berada di mansion ini?" Ucap josline yang ternyata sudah berdiri dibelakang jaerin, membantu gadis itu untuk menyisir rambutnya.
  "Ya, kadang aku merasa bosan."
  "Bagaimana jika kita melakukan quality time, seperti berbelanja ke mall. Rasanya aku rindu dengan suasana itu." Jelas josline, berharap, wajahnya berseri seakan mengingat masalalunya.
  "Aku tidak yakin apakah sehun akan mengizinkannya." Jawab jaerin.
  "Ah, aku yakin kau bisa memaksanya. Sepertinya kau adalah orang yang sangat spesial untuk sehun. Coba saja paksa dia."
  Jaerin terdiam, menatap pantulan dirinya pada kaca yang berada di hadaapnnya. Sangat cantik, wajah yang begitu sempurna, namun memiliki banyak luka. Sebenarnya jaerin tengah berpikir, apa yang dikatakan oleh josline memang benar. Dirinya harus mencoba keluar dari rumah ini, dan sepertinya pergi berbelanja itu menyenangkan.
  "Aku akan mencobanya."
 Josline tersenyum senang mendengar jawaban jaerin. Akhirnya setelah sekian lama tak bertemu, dirinya bisa bermain bersama lagi dengan jaerin. Sungguh josline sangat merindukan itu.
  ***
  "Wow, apa yang membuat seorang oh sehun mau datang ke sini, tanpa ada alasan yang jelas." Begitulah sambutan yang sehun dapatkan, ketika kakinya sampai di sebuay ruangan besar, berisi banyak senjata kuno, pedang, samurai, hingga baju besi. Terpajang rapih di ruangan itu.
  Suho, lelaki itu memeluk sehun. Sekedar basa-basi yang ia tunjukan untuk anak buahnya. Ah ralat, sehun tak pernah ingin di anggap sebagai pekerja di organisasi ini. Baginya ini adalah kerja sama.
__ADS_1
  Sehun mendecih jijik, dipeluk oleh seorang suho bukanlah hal yang istimewa. Sangat muak dan tampangnya yang terlihat tak bersalah, namun begitu busuk didalamnya. Pandai berkamuflase, karena itu adalah keahliannya.
 "Aku perintahkan, kau untuk tidak menganggu jaerin." Ucap sehun to the point.
  "Wow, siapakah itu jaerin?" Tanya suho pura-pura tak tahu.
  "Kau tidak sebodoh itu suho." Ucap sehun yang yakin sangat dengan apa yang ia maksudkan.
 "Ya. Ya. Baiklah, jung jaerin bukan? Anak dari seorang pembunuh bayaran? Keluarga yang kau bunuh karena dendam?" Tanya suho akhirnya.
 Tak ada yang tidak suho ketahui. Lelaki itu memiliki banyak mata-mata. Untuk mengetahui gerak-gerik anak buahnya saja suho mengetahuinya. Maka dari itu suho di juluki sebagai the eagle eyes, sebab kemampuannya mengetahui segalanya.
  "Aku tidak yakin, seberapa banyak kau mengetahui tentang kegiatan ku?" Tanya sehun.
 Dia juga tahu, selama ini dirinya selalu di mata-matai oleh anak buah suho. Namun hal itu sering gagal, apalagi jika pengawal sehun sudah turun tangan. Akan begitu sulit untuk menggali informasi.
 Suho terkekeh, memilih berjalan melihat-lihat koleksi barang antiknya yang sangat berharga.
  "Banyak sekali, aku juga mengetahui tentang data itu. Data yang di simpan oleh keluarga jung." Jelas suho jujur.
 Sehun membulatkan matanya, begitu ucapan itu terlontar dari mulut suho. Kelewatan jujur. "Lalu apakah kau yang mengirim anak buahmu untuk menakuti jaerin?" Tanya sehun lagi.
 "Bukan, aku tidak menyuruh siapapun untuk menakuti jaerin. Aku tidak sepengecut itu. Walau aku memang sangat menginginkan datanya." Jelas suho jujur.
 Tapi bukan sehun namanya jika dengan hal itu dirinya percaya. Sungguh, dia benar-benar mencurigai suho. Hanya lelaki itulah yang berpotensi melakukan hal itu. Mengancam dan melakukan pembunuhan bukanlah hal tabu bagi seorang kim suho.
  "Aku tidak butuh penjelasanmu, jika kau memang mengganggu jaerin. Tolong hentikan itu." Tegas sehun, dengan wajah dinginnya. Sangat tampan walau terlihat raut kebencian dalam ekspresinya.
  "Ya kau benar. Tapi harus kau ingat, bukan hanya aku saja yang ingin mendapatkan data itu." Ucap suho yang membuat rahang sehun mengeras, membenci kenyataan bahwa seseorang yang dia cintai harus menjadi incaran para mafia, hanya karena data sialan itu.
 Setelah mendapatkan pengakuan itu, sehun memilih pergi dari ruangan suho. Seringaian yang tercetak jelas pada wajah suho, merupakan bukti bahwa dirinya menikmati permainan ini.
 ***
  "Hati-hati, hm?"
 Peringat sehun untuk kesekian kalinya pada jaerin. Jaerin sampai muak mendengarnya berulang-ulang kali di ucapkan oleh sehun.
 "Aku akan baik-baik saja, lagipula aku bersama dengan josline." Yakin jaerin sekali lagi, wajahnya bersemi begitu senang karena akhirnya rencananya untuk melakukan quality time bersama dengan josline bisa terwujud. Tentunya dengan mengorbankan beberapa hal, termasuk harus rela menjadi bantal guling sehun semalaman.
  "Tapi ba—"
  "Berisik, kau juga sudah menyewa mall itu bukan? Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Potong jaerin, dengan cepat mencium bibir sehun walau hanya sekilas.
 Sehun menegang, dia sangat suka dengan jaerin yang sekarang sangat agresif. Sebenarnya sehun ingin menemani jaerin, hanya saja jaerin bilang ini adalah quality time nya bersama dengan josline dan jaerin tak ingin di ganggu.
 "Baiklah, aku mencintaimu." Sebuah ciuman mendarat di kening jaerin.
 Baik jaerin maupun sehun langsung tersenyum manis, saling memberikan kebahagiaan dalam tatapan. Jaerin melambaikan tangan pada sehun, ketika langkahnya memasuki mobil yang telah disiapkan. Jaerin masih mengangkat tangannya bahkan sampai mobil sudah berjalan menjauh dari halaman mansion sehun.
  "Sepertinya sehun sangat menyayangi mu, sampai dia mengosongkan seluruh mall hanya untukmu."
 Asal suara itu membuat jaerin menoleh dan membalasnya dengan senyuman tipis. Hari ini dia akan bersenang-senang bersama dengan josline, walaupun sekarang rasanya akan berbeda karena tak ada sosok wonwoo diantara mereka berdua.
  "Aku sangat mengharapkan wonwoo akan baik-baik saja."
 "Aku juga."
 ***
 Jaerin terus menatap kagum beberapa toko-toko yang sangat besar, siap ia jajah dengan kekuatannya dalam memilih baju. Ini bukan pertama kalinya jaerin datang ke mall ini, hanya saja ini pertama kalinya sebuah mall besar ia kuasai berdua bersama dengan josline.
Â
  Tak ada antrian ataupun kerumunan orang yang ramai. Hanya ada jaerin dan josline juga beberapa staff mall, dan pengawal jaerin tentunya.
  "Gila, ini pertama kalinya mall serasas milik berdua." Pekik josline kegirangan. Di tangannya sudah banyak paper bag belanjaan miliknya, penuh hampir memborong isi mall bersama dengan jaerin.
 Â
  "Ya ini pengalaman terbaik yang pernah aku rasakan." Jawab jaerin yang tak kalah gila dari josline dia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil banyak sekali barang-barang yang tak ia dapatkan dulu. Memuaskan nafsunya bersama dengan josline karena semua ini gratis dan sehun yang menanggung.
  "Jika kau bisa memanfaatkan sehun seperti ini, kenapa tidak dari dulu kau lakukan jaerin." Ucap josline membuat jaerin menghentikan langkahnya.
  "Aku tak sejahat itu untuk memanfaatkan kebaikan orang lain. Tapi yah, sesekali aku harus mencobanya." Jawab jaerin tegas, namun ia sendiri penasaran dengan saran yang diberikan oleh josline.
 Mereka berdua kembali terkekeh bersama, saling bergandengan untuk pergi ke tempat makan. Lapar, lelah setelah memborong setengah isi mall, puas dan rasanya begitu luar biasa, menakjubkan.
  "Nona jaerin, apakah anda lelah?" Tanya seorang pengawal yang terus mengikuti mereka berdua. Cukup tampan dengan tubuh kekar, tak terlalu buruk.
__ADS_1
  "Ya, bisa kau bawakan ini?" Tanya jaerin mengangkat paper bag berisi barang-barang miliknya.
 Pengawal itu mengangguk, pertanda setuju dengan permintaan jaerin. Di ambilnya paper bag itu dan membawanya menyisakan lengan kosong jaerin yang tak lagi membawa apapun.
 Mereka berdua sampai disebuah cafe makanan cepat saja, josline dengan sigap memesankan makanan untuk dirinya dan Jaerin. Walau tengah bersenang-senang josline tak bisa abai dengan tugasnya. Dirinnya harus selalu melindungi jaerin.
  Jaerin sendiri merasa sangat bebas, sejenak dirinya dapat lupa dengan kenyataan beban yang ia tanggung. Menghabiskan waktu bersama temannya, melepas rindu bermain didalam mall, setidaknya hal itu dapat membayar rasa iri jaerin karena tak dapat menjadi remaja normal setelah ini.
  Masa-masa yang akan ia lewati begitu saja karena tanggung jawab sialan yang dibebankan padanya. Begitu naif dan menjijikkan.
  "Aku sudah memesan makanan kesukaanmu." Ucap josline begitu dia kembali dan duduk di kursi yang berhadapan dengan jaerin.
  "Terimakasih josline. Aku harap ini tidak akan menjadi hari terakhir kita bermain bersama."
 Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut jaerin. Berharap dalam ungkapan, keinginan agar ini tak akan berhenti sampai disini. Dia masih ingin membuat banyak kenangan untuk ia ceritakan pada anak cucunya kelak. Sangat ingin membuat kisah yang menyenangkan itu.
  "Josline, sepertinya aku harus buang air besar." Ucap jaerin, beranjak dari duduknya.
 Josline mengangguk, membiarkan jaerin untuk pergi ke toilet yang masih satu tempat dengan cafe ini. Josline memutuskan tak mengikuti jaerin sampai ke kamar mandi, karena menurutnya jaerin perlu privasi dan josline menghargai itu.
  Sesampainya di kamar mandi, jaerin dengan segera masuk kedalam bilik yang tersedia disana. Melakukan panggilan alam yang sedari tadi ia tahan. Sedikit aneh, sebab jika jaerin merasakan gugup, terlalu senang atau sebagainya, rasa mules pada perutnya akan terasa.
  Diam beberapa menit dalam bilik itu, lalu keluar setelah habis seluruhnya. Jaerin sempat berdiri didepan westafel untuk mencuci wajahnya, menatap cermin yang tepat berada dihadapannya. Menambahkan polesan make up pada wajahnya lagi.
 Saking seriusnya membenarkan make up di wajahnya, jaerin tak sadar akan sesuatu hal. Sepasang mata yang terus memperhatikan segala gerak-geriknya.
BRRAKK
  jaerin tersentak, terkejut dengan suara gaduh yang tercipta entah karena apa. Namun ia menemukan sosok wanita telah ambruk di lantai, dengan seorang memakai masker yang menggenggam pisau. Siap berteriak, karena kejadian ini merupakan sebuah pembunuhan. Namun gagal ketika, lelaki itu sudah membekam mulut jaerin dengan tangannya.
  "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Tenang." Suara berat itu membuat jaerin berhenti meronta dalam cengkraman lelaki berhodie itu.
  Lelaki itu melepaskan bekapannya pada mulut jaerin, membiarkan agar gadis itu bisa bernafas dengan baik. "Ke—napa kau membunuhnya?" Tanya jaerin masih syok dengan apa yang ia lihat.
 "Itu wajar, karena dia akan membunuhmu. Lihatlah, pisau yang ia genggam, memiliki racun yang mematikan." Jelas lelaki itu, mengambil sebilah pisau dari genggaman mayat yang tergeletak di atas lantai dengan sapu tangan.
  "Lalu kenapa kau me—"
  "JAERIN! JAERIN!" Teriakan menggelegar itu membuat sang lelaki gelisah, dia sudah bersiap untuk melarikan diri agar tak tertangkap oleh anak buau oh sehun.
Â
  "Jaerin. Jung jaerin pegang ini, jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu. Kita akan bertemu lagi."
 Lelaki itu berbisik pada jaerin, sengaja memasukan sesuatu pada saku baju jaerin dengan gerakaj seperti memeluk. Dan untuk mengucapkan kata itu pada jaerin. Setelahnya lelaki itu memanjat atap toilet dengan cekatan keluar dari kamar mandi, hilang begitu saja. Bersama dengan pintu toilet yang di dobrak paksa.
  "Jaerin... "
 Semakin terkejut karena jaerin menemukan sosok sehun, yang sekarang sudah berlari berhambur memeluknya dengan sangat erat.
  "Maafkan, aku telah abai menjagamu."
  "Jangan percaya pada siapapun termasuk orang terdekat mu."
 ***
**Santai kan? Jangan lupa vomment yah.
See you next chapter doakan bisa fast update lagi uwuwuwuw♡**
Â
Â
Â
 Â
Â
Â
 Â
Â
Â
Â
__ADS_1