
Tok Tok Tok
"Nak Arvin? nak Arvin?" seru buk Wati mengetuk pintu kost.
"Kayaknya udah berangkat kuliah Tuan" ucap buk Wati menoleh kesamping.
"Ya sudah, ini tolong kasih ke dia kalo udah pulang nanti"
"Baik Tuan"
Buk Wati memperhatikan punggung pria beruban yang masih terlihat tampan masuk ke dalam mobil Mercedes Benz sebelum berlalu pergi.
****
Arvin membuka mata perlahan, tubuhnya terasa panas dingin dan kepalanya berkunang-kunang. bayangan semalam pun kembali berputar di otaknya.
"Tunggu pembalasan gue cewek kampret" gumam Arvin melirik arah jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. masa bodoh dengan kuliah, dia memilih meringkuk kembali kedalam selimut. karena kondisi mental dan fisiknya sekarang sedang tidak baik-baik saja. namun setelah beberapa saat matanya enggan untuk kembali tidur, seperti ada yang mengganjal.
"CK...Apa ya?" gumam Arvin berpikir sambil bersandar di kepala ranjang.
"Ah iya" Arvin beranjak keluar kamar menuju saluran air di belakang.
"Selesai!" Arvin tertawa cekikikan, membayangkan Laura yang kelabakan saat mandi nanti. karena kran air yang mengalir ke kamar mandi nya, sudah di rusak. dengan perasaan yang bahagia, dia berjalan kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpi indah, sebelum nanti mendengar suara teriakan si wanita gila.
Seperti biasa, setiap jam 5 sore Laura sudah tiba di tempat kost. setelah duduk sejenak dan berbalas pesan dengan Fiza, Laura segera menyambar handuk masuk ke dalam kamar mandi. sudut bibir Laura berkedut membentuk senyuman sinis, saat mengingat apa yang dia lakukan tadi pagi sebelum berangkat kuliah.
"Haaahh sayang tadi gue nggak denger"
A few moments later🙈
"Aakkkkkhhhh AIR!" suara teriakan menggema, membuat Laura yang sedang memakai shampo tertawa puas. dia bersyukur mendengar suara yang memang ingin dia dengar, artinya Arvin baru memakai kamar mandi itu sekarang, pikir Laura.
"Hahaha mandi tu pake comberan, kayak ngot-ngot(🐖)" Laura tertawa puas karena rencananya berhasil, namun tawa itu seketika menghilang saat kran yang di putar tidak mengeluarkan air setetes pun.
"Lah, kenapa lagi nih?" gumam Laura mencoba mengotak atik kran, bahkan sampai membukanya
"Kok tetep nggak bisa?"
"Nggak mungkin kan kalo—" mata Laura melebar, secepat kilat keluar kamar mandi dengan kondisi kepala penuh busa dan sehelai handuk yang melilit sebatas paha.
BRAK
__ADS_1
Arvin di buat terkejut oleh suara pintu yang di buka secara kasar, begitu pula dengan Laura. keduanya saling melihat satu sama lain yang masih dalam keadaan penuh busa.
"Ini ulah Lo kan!" sentak keduanya menunjuk satu sama lain bersamaan.
"Nggak usah asal nuduh!" lagi-lagi mereka perkataan keduanya serempak
"Kenapa Lo malah ngikutin omongan gue, huh?" Sentak Laura berkacak pinggang
"Yang ada Lo yang ngikutin omongan gue" sentak Arvin tak mau kalah, membuat Laura mendengus kesal.
"Sekarang gue tanya, kran air gue rusak gara-gara Lo kan? Lo bales dendam sama gue soal semalem, iya kan!" Laura menunjuk kran air yang patah dalam posisi terkunci.
"Eh gue emang di rumah seharian, tapi bukan berarti gue yang ngerusakin Kran air Lo!" kilah Arvin membela diri
"Terus siapa hah? yang nggak suka sama gue itu cuma Lo doang!"
"Ya mana gue tau, punya gue aja rusak dan gue yakin ini pasti Lo dalangnya!"
"Enak banget mulu Lo asal jeplak, gue seharian kuliah jadi nggak sempet ngotak-ngatik kran air Lo! nggak penting!" bantah Laura, walau sebenarnya dia lah yang merusak kran itu.
"Udah lah ngaku aja, nggak usah kebanyakan ngeles"
"Lo yang harusnya ngaku!"
Keduanya terus berdebat tanpa memperdulikan penampilan masing-masing yang hanya mengenakan handuk.
"Ya Allah semoga yang ngerusakin Kran air hamba pantatnya banyak kurap, aamiin" mata Arvin melotot mendengar doa mengerikan dari mulut Laura. Kurap? what the hell! apa kata wanita-wanita nya nanti kalo liat pulau kurap di sekitar anaconda nya!
"Semoga yang ngerusak kran air gue nggak dapet jodoh, banyak panu, banyak bopengan, banyak kutu, banyak ketombe, banyak bulu ketek dan lainnya Aamiin" giliran Laura yang tercengang, tapi tetap menunjukkan ekspresi biasa saja.
"Apa Lo?" ketus Laura menatap tajam saat Arvin berjalan mendekat.
"Bukan apa-apa, gue cuma mau....Lo" bisik Arvin mulai melakukan aksi mautnya. ya, Arvin baru ingat kalau ini adalah saat yang tepat untuk memberi pelajaran pada wanita gila yang sudah membuat hari-hari nya sial.
Mata Laura melotot sempurna mendengar bisikan Arvin yang membuat bulu kuduknya berdiri. oh astaga, dia juga baru ingat jika saat ini hanya mengenakan handuk, begitu pula dengan Arvin yang terlihat gagah dengan roti sobek di perutnya.
DUGH
"Nggak usah kurang ajar sama gue!" Laura menendang anaconda untuk kedua kalinya, setelah hari pertama Arvin di usir.
"Aarrgghh" Arvin menggeram kesakitan, namun segera dia bangkit menahan pintu yang akan di tutup oleh Laura. kali ini tidak akan dia biarkan wanita gila ini menang, dia harus memberi pelajaran. kasian kan anaconda nya yang tidak bersalah di aniaya terus.
__ADS_1
Panik? itu yang Laura rasakan, walaupun dia tidak kenal takut tapi dia tetaplah seorang wanita yang memiliki kelemahan. sekuat tenaga Laura mendorong pintu agar tertutup sambil terus memegang lilitan handuk agar tidak terjatuh.
"Pergi atau gue teriak, biar Lo di gebukin" bentak Laura memperingatkan. seolah tuli, Arvin tetap mendorong pintu itu. sekali hentakan, pintu terbuka lebar membuat Laura mundur beberapa langkah ke belakang.
"TOLONG!!" teriak Laura walau tahu jika tidak ada yang akan datang, karena tetangga kost nya belum pulang bekerja. Mila? entah di mana anak itu, Laura juga tidak tahu.
"Lo udah dua kali bikin anaconda gue dalam bahaya, jadi sekarang Lo harus tanggung jawab!" ucap Arvin menyeringai, dia sudah tidak sabar memberi makanan gratis untuk anaconda nya yang memang sudah dua hari ini belum di beri makan.
"Selangkah lagi Lo maju, gue nggak akan segan-segan ngehabisin Lo di sini!" tegas Laura mulai waspada.
"Wow atuutt....Lo tenang aja, gue justru bantuin Lo kok untuk ngebentuk pantat sama n*n*n biar bohay" celetuk Arvin blak-blakan melihat tubuh Laura dari atas sampai ke bawah.
BUGH
PRANK
"Najis!" Laura menendang perut Arvin hingga tersungkur, kemudian melempar vas bunga tapi secepat kilat Arvin menghindar. tanpa membuang waktu, Laura segera berbalik pergi keluar untuk meminta bantuan.
"Lo nggak bisa lari sebelum—
BRAK
"Astaghfirullah hal adzim!"
*
*
*
Bersambung....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
__ADS_1
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐