
Laura sedikit gugup melihat Arvin yang sedang duduk bersila di kursi sambil menatapnya. entah karena takut ketahuan menguping atau memang dasar jantung nya yang ingin berdetak kencang, setenang mungkin Laura berjalan menghampiri Arvin.
"Bos tadi ngabarin dan minta gue untuk dateng kerja lebih awal, tapi Lo berangkatnya kayak biasa" ucap Laura yang di jawab anggukan kepala oleh empunya. "kalo gitu, gue berangkat dulu ya"
"Tunggu!"
"Lo mau ngapain?" kening Laura berkerut melihat Arvin sudah berdiri di hadapannya.
"Menurut Lo?" Arvin mendekatkan wajah, hingga kini kedua hidung mereka hampir bersentuhan. posisi ini tentu membuat Laura semakin tidak karuan, bayangan dimana mereka berciuman tadi pun bergentayangan sehingga tanpa sadar membuatnya menelan ludah.
Tawa Arvin seketika pecah melihat semburat merah yang muncul di kedua pipi Laura, sungguh menggemaskan. "Lo mikirin apaan? aahh apa Lo berharap kita ngulangin adegan tadi?" goda Arvin mengusap sensual bibir Laura yang sangat menggoda.
"CK" Laura berdecak kesal, ingin sekali menyumpal kaos kaki ke mulut pria di hadapannya ini yang selalu asal tebak, walaupun apa yang dia tebak barusan memang benar. tidak ingin bertambah malu Laura segera pergi menuju tempat yang sudah di janjikan, meninggalkan Arvin yang tengah tertawa.
Tidak butuh waktu lama, kini Laura sudah berada di depan sebuah kafe minimalis yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan terbesar di Bandung. menarik nafas dalam, kaki indah itu mulai melangkah masuk ke dalam dan mencari tempat yang kosong. hampir satu jam Laura duduk di sana, namun yang di tunggu tidak juga datang.
...'Za aku udah sampe, kamu dimana?' (15.16)...
...'Kok nggak di angkat?' (15.59)...
...'Are you okey?' (16.03)...
...'Kok nggak di bales sih? aku udah nunggu lama' (16.23)...
Laura menghela nafas kasar karena sudah sekian kali mengirim pesan dan panggilan tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Fiza. "Kamu dimana si Za" melirik jam yang sudah mulai menunjukkan pukul 5 sore, akhirnya Laura memutuskan untuk pergi. bisa berabe kalau Arvin tahu bahwa dia bukan pergi bekerja, melainkan berada di sini untuk bertemu Fiza musuh bebuyutannya.
Bruk
Entah karena berjalan terburu-buru hingga menabrak seseorang, alhasil minuman orang tersebut tumpah mengenai pakaian yang sekali lihat bisa di tebak harganya bisa sampai jutaan rupiah.
"Maaf-maaf, saya nggak sengaja" ucap Laura sembari meraih kotak tissue untuk membantu membersihkan tumpahan di baju yang terlihat mahal.
__ADS_1
"Laura"
Merasa namanya di panggil, reflek Laura mendongak menatap wajah pria yang terlihat tidak begitu asing di matanya. "Iya, anda siapa?"
"Ternyata bener ini Lo. La ini gue Aldi temen satu TK, masa Lo nggak inget!"
Laura mengerutkan kening, mencoba mengingat siapa pria tampan bermata coklat di hadapannya. "Ah iya, Lo si doyan bakpau itu kan" pekik Laura berhasil mengingat siapa pria di hadapannya. "Astaga sekarang Lo udah jadi orang ganteng, beda dari yang dulu"
"Ya iya lah, dulu masih ingusan. emm gimana kabar Lo?"
"Seperti yang Lo lihat, gue sekarang masih utuh" seloroh Laura tertawa.
"Eh ngomong-ngomong kesini sama siapa?" tanya Aldi menoleh ke seluruh ruangan kafe.
"Tadinya janjian sama temen, tapi dia nggak dateng jadi ya gue pergi" Laura merogoh ponsel, siapa tahu ada notifikasi dari Fiza. tapi sayang jangankan notifikasi, pesan yang dia kirim pun sampai sekarang masih belum di buka.
"Kalo gitu kebetulan dong, gimana kalo kita ngobrol di sana" tunjuk Aldi pada meja yang sebelumnya Laura tempati.
"Sorry Al lain kali aja ya, gue harus pergi sekarang" tolak Laura merasa tidak enak apalagi melihat raut wajah Aldi yang terlihat kecewa. sebenarnya dia pun ingin menanyakan banyak hal pada Aldi terkait kepergiannya waktu kecil secara tiba-tiba. "Oh iya, nanti Lo bisa hubungin gue ke nomor ini" selesai memberikan nomor ponsel, Laura bergegas pergi dari kafe.
Aldi mengangguk tersenyum walau ingin sekali rasanya menahan dan memeluk Laura seperti yang dulu mereka lakukan. "Aku nggak akan pergi lagi La, aku akan rebut kamu dan kita bisa hidup sampai tua di tempat impian kita waktu kecil" gumam Aldi tersenyum.
Menyesal, itu lah kata yang sekarang sedang Aldi alami. andaikan dulu dia tidak pindah dan andaikan tidak terjadi apa-apa pada adiknya. maka sekarang bukan bajingan itu yang menjadi pendamping hidup Laura, tapi harus nya dia dan sekarang di tambah lagi Fiza sahabatnya yang ternyata juga menyukai Laura. namun itu tidak masalah, akan dia singkirkan semua penghalang yang menghalangi jalannya.
Laura bernafas lega karena sampai terlebih dulu dari pada Arvin, segera setelah berganti pakaian Laura dengan cekatan mengantar makanan ke meja para pelanggan.
"Selamat sore Kak, ganteng banget hari ini" sapa salah satu pelayan dengan nada centil.
"Sore, kamu juga cantik dan seksi hari ini"
Laura yang merasa geli sekaligus heran pada wanita yang tiada hentinya setiap hari menyapa walaupun tidak ada balasan, sontak langsung menoleh kala mendengar kalimat yang terlontar dari bibir seseorang yang baru saja masuk ke dalam kafe.
__ADS_1
Matanya memicing melihat gaya tengil serta tangan orang yang tidak lain suaminya sendiri itu mencolek dagu wanita tersebut. wajah Laura memerah menahan amarah, hingga hampir memecahkan gelas yang ada di genggamannya.
"Mbak, minuman saya"
"Ah iya maaf, silahkan di minum" Laura menarik nafas dalam-dalam guna menetralisir hatinya, pada situasi saat ini biarkan saja bajingan tengil itu bertingkah.
Sementara Arvin langsung ke meja kasir tanpa menoleh atau bahkan melirik sedikitpun ke arah Laura, fokusnya hanya kepada para pelanggan yang ingin membayar. tentu hal tersebut semakin membuat Laura geram, karena walaupun setiap hari mereka seperti tom and Jerry, Arvin tidak pernah seacuh ini kepadanya.
Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, seperti biasa Laura menunggu Arvin di depan gerbang masuk. lagi dan lagi, darah Laura mendidih melihat interaksi dua manusia yang membuat matanya sakit.
"Cih.. pantesan lama, ternyata malah asik gombalin ulet bulu" sindir Laura berkacak pinggang.
"Heh Lo ngatain gue ulet bulu?" sentak Rere melotot tajam.
"Udah malem, buruan pulang" ketus Laura melempar helm beserta kunci motor ke arah Arvin tanpa menjawab Rere.
"Mendingan ambil lagi deh helm sama kunci motor, karena kak Arvin pulang sama gue. iya kan kak?" Rere tersenyum penuh kemenangan mendapat anggukan dari Arvin. tidak hanya itu, bahkan tangan kekar itu mengelus lembut pucuk kepalanya. "Astaga gue mimpi apa semalem?" pekik Rere kegirangan.
Jika Rere senang bukan main, beda halnya dengan wajah Laura yang langsung berubah dingin. tanpa mengucapkan apapun, Laura merebut kunci motor dan segera pergi.
Bersambung......
Hai para readers ku tersayang, maaf sekali lagi aku buat kalian kecewa karena udah lama nggak update cerita ini. mungkin dari kalian udah pada nggak mood lagi ngikutin cerita ini karena nunggunya berabad-abad wkwkw. rencananya kemarin mau konsisten walaupun sehari update satu bab, tapi apa daya ternyata aku nggak bisa tepatin. insyallah aku tetep tamatin cerita ini kok, btw makasih buat kalian yang masih setia nunggu cerita Arvin dan Laura😍 Lope Lope sekebon❤️❤️
Yuk dukung karya ku dengan cara😍
🤍Like
🤍 Komen
🤍 Fav/Subscribe
__ADS_1
🤍 Hadiah/Vote sebanyak-banyaknya 😻