
"Sayang" seru Laura menyadarkan Arvin dari lamunannya.
"Ekhem" Arvin berdehem, bisa-bisanya dia membayangkan berciuman dengan Laura.
"Kamu mikirin apa sih Vin, dari tadi di panggilin malah senyam senyum kayak orang gila" tanya Keyla
"Ah enggak, itu karena aku kagum sama kecerdasan istriku ini" jawab Arvin mempererat pinggang Laura, mengikis jarak di antara mereka.
Mendapat perlakuan seperti itu, dalam hati Laura berdecih kesal. jika saja bukan karena drama yang sedang di mainkan, dia tidak akan segan-segan memecahkan dua telur anaconda Arvin.
"Ya udah, mendingan sekarang kita ke sana. biar semuanya jelas, kalo kamu nggak bersalah" Laura merangkul lengan Arvin, berjalan anggun ke arah Santi dan dokter OBGYN yang akan mengecek kebenaran dari wanita yang mengaku sedang mengandung anak Arvin. sedangkan beberapa pria berjas hitam, mereka sudah pergi menjalani tugas masing-masing.
"Mari Nona" ucap dokter mempersilahkan Indri untuk naik ke atas brankar.
Gleg
"A-aku, sa-ya—"
"Kenapa gugup gitu? ayo dong kita semua mau liat" desak Laura tersenyum samar melihat kegugupan di wajah Indri. sebenarnya mudah bagi Laura untuk membongkar kebohongan wanita ini dengan cara yang sangat ekstrim. tapi hal itu di urungkan, mengingat nama baik keluarga mereka sedang di pertaruhkan. maka dari itu, Laura memilih jalan ini agar mereka sendirilah yang bertekuk lutut minta ampun dan mengatakan dalang semuanya.
"Harus berapa kali gue bilang, kalo gue itu hamil! ngapain juga mesti USG nggak jelas kayak gini. bisa aja kan Lo udah sekongkol sama mereka, karena nggak suka sama kehamilan gue" bentak Indri menatap sinis wajah wanita yang sudah berani merebut tahtanya sebagai nyonya muda di keluarga besar Indorto.
"Sekongkol? Iri dengan perempuan sejenis Lo?" cibir Laura menunjuk Indri, dari atas sampai bawah.
"Perlu Lo tau, tipe wanita yang buat gue iri itu adalah wanita yang smart, Good attitude dan yang pasti Not Stupid! sedangkan Lo sendiri?" sambung Laura tersenyum dengan kepala yang menggeleng, membuat tangan Indri terangkat hendak menampar. namun dengan sigap, Arvin menahan pergelangan tangan itu sebelum mendarat mulus di pipi Laura.
"Jangan berani nyentuh pipi istri gue sedikitpun" tegas Arvin menatap tajam, menghempaskan tangan Indri sedikit kasar.
Setelah melewati beberapa perdebatan serta ancaman berupa jeruji besi, keempat wanita tersebut akhirnya memilih mengakui kebohongannya.
"Aku pernah denger dari salah satu anak buah yang manggilin bos dengan nama—" baru saja ingin berbicara, lampu di di dalam ballroom tiba-tiba mati dan hidup kembali dalam hitungan detik. Laura dan semua yang ada di sana sontak terkejut, apalagi tidak mendapati kehadiran empat wanita yang tadi berdiri dekat dengan mereka.
Ben maupun Kenzo langsung menghubungi penjaga keamanan serta beberapa orang bodyguard yang memang sedang berjaga di luar hotel untuk mencari keberadaan wanita-wanita itu.
****
Keesokan hari di dalam kamar suit hotel berbintang, dua pasangan yang masih berada di alam mimpi saling berpelukan. mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai satu sama lain. ya, mereka adalah Arvin dan Laura.
__ADS_1
Arvin mulai mengerjabkan mata yang sangat berat, ketika sang anaconda tidak tahan untuk buang air kecil. matanya langsung membola mendapati hal yang pertama dia lihat ialah wajah mungil, polos tanpa make up.
"Cantik" gumam Arvin tanpa suara, mengamati setiap jengkal wajah Laura hingga matanya tertuju pada benda kenyal berwarna pink. astaga, apa yang sedang dia pikirkan? Arvin menggeleng cepat, segera turun dari ranjang untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Arvin yang sedang di bawah pancuran shower kembali mengingat kejadian semalam. otaknya terus berputar, memikirkan siapa orang yang ingin menghancurkan reputasinya. setahu Arvin, dia tidak pernah memiliki musuh baik di dunia bisnis maupun dunia pribadinya, lalu siapa?
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, Arvin berjalan keluar dan mendapati kasur yang kosong. netra nya mulai bergerak mencari sosok musuh masa kecil yang mulai mengisi celah di hati Arvin dalam beberapa hari ini.
"Ngapain?" tanya Arvin menghampiri Laura yang terlihat sedang berkutat dengan handphone di ayunan gantung dekat balkon.
"Liat rekaman CCTV yang sempet hilang semalem" jawab Laura tanpa menoleh
"Terus gimana hasilnya?" mendengar hal ini tentu saja membuat Arvin sangat antusias.
"Ada dua orang yang berpakaian serba hitam, tapi muka nya di tutup"
"Apa mereka juga yang—
"Iya, mereka yang ngebawa cewek-cewek Lo pergi dari sini semalem" sela Laura memotong perkataan Arvin.
"Mereka bukan cewek gue"
"Terpesona sama kegantengan gue?" celetuk Arvin mengedipkan sebelah mata.
"Ganteng dari lubang sedotan" ketus Laura beranjak pergi.
"Apa Lo bilang?"
"Gue bilang, Lo ganteng cuma dari lubang sedotan" teriak Laura buru-buru masuk kamar mandi dan menguncinya. bukannya marah, Arvin malah terkekeh melihat tingkah Laura yang terkesan lucu.
"CK...nggak, dia bukan tipe gue" gumam Arvin menepis perasaan yang lagi-lagi muncul. sembari menunggu, Arvin meraih ponsel Laura yang ada di ayunan. alisnya mengernyit kuat ketika membuka pesan di aplikasi hijau.
"Lebay"
"Cih, sok manis pake aku kamu segala"
"Nggak tau diri, pagi-pagi ganggu bini orang. nggak ada perempuan lain apa, kegatelan" Arvin terus menggerutu, membaca isi pesan antara Fiza dan Laura. entah mengapa hatinya meradang melihat interaksi mereka yang begitu sosweet walau hanya lewat chat. ingin berhenti, tapi jiwa Kepo nya meronta-ronta ingin membaca lebih dalam isi chat mereka. siapa tahu kan ada sesuatu yang bisa di jadikan bahan untuk mengancam Laura hehehe. pikiran mesum Arvin kembali bekerja.
__ADS_1
"Vin, Lo!" Sentak Laura merampas ponsel dari tangan Arvin.
"Lo apain Handphone gue, huh?" tanya Laura melotot tajam.
"Nggak di apa-apain kok, cuma liat-liat doang" jawab Arvin santai
"Terus ini apa? kenapa Lo buka chat gue, lancang banget sih jadi orang"
"Itu tadi kepencet"
"Lo pikir gue percaya? NGGAK! alasan Lo itu udah basi atau jangan-jangan Lo mulai tertarik sama gue. makanya Lo penasaran, iya kan?"
"Naksir? perlu gue ingetin lagi, cewek idaman gue itu cantik, langsing, depan belakang montok. bukan kayak Lo si Kutilang Darat, Kurus Tinggi Langsing, dada rata" sarkas Arvin kembali melontarkan kalimat yang pedas. tanpa membalas, Laura berbalik pergi keluar kamar dengan perasaan kesal.
Awalnya Laura ingin mengajak Arvin lari pagi. tapi melihat sikap nya barusan, akhirnya Laura memilih untuk lari pagi sendirian.
"Kak Laura!"
*
*
*
Bersambung....
Maaf baru sempet Up😭
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
__ADS_1
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐