Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Salah Paham


__ADS_3

Mila yang baru saja sampai di parkiran, berjalan ke arah kost Laura. biasa lah, setiap pulang kuliah dia selalu numpang makan di kontrakan sahabatnya. namun baru saja tangannya ingin meraih gagang pintu, suara dari dalam membuat Mila ketakutan. segera Mila berlari memanggil pemilik kost, di sana kebetulan ada beberapa warga dan ketua RT yang sedang berbincang ringan.


"Buk, buk Wati" seru Mila ngos-ngosan


"Nak Mila, ada apa? kenapa kamu lari gitu?" tanya suami buk Wati


"Itu, La—Laura"


"Ada apa sama Laura nak?" tanya buk Wati yang baru datang membawa minuman.


"Laura, kost, di kost ada suara laki-laki eh maksudnya maling, mungkin" kata Mila terbata-bata


"Apa?"


Semua orang di sana langsung segera berjalan cepat ke tempat kost Laura agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. jarak antara tempat kost dan rumah buk Wati memang lumayan jauh, hingga tidak mendengar suara teriakan minta tolong dari Laura.


Benar saja, saat tiba di depan pintu. telinga mereka mendengar apa yang Mila tadi katakan, bahwa ada suara seorang laki-laki di dalam. tanpa membuang waktu lagi, suami buk Wati segera menendang pintu kost hingga terbuka lebar.


BRAK


"Astaghfirullah hal adzim"


"Apa yang kalian lakukan Huh?" bentak salah satu warga berperut buncit yang nampak geram melihat kondisi Laura dan Arvin yang hanya mengenakan handuk, saling menempel seolah sedang berpelukan.


"Ini nggk bisa di biarin Pak, mereka udah kumpul kebo di tempat kita" timpal warga berkumis lebat


"Nggak! ini salah paham! saya sama dia nggak kumpul kebo sama sek—


"Giliran udah ketangkep basah, masih aja ngelak. padahal udah jelas kita semua liat dengan mata kepala sendiri!"


Baik Arvin maupun Laura berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi, namun keadaan seolah tidak mengizinkan mereka untuk berbicara sepatah katapun.


"Bapak-bapak harap tenang dulu" tegas ketua RT membuat suara yang tadi riuh, kini senyap.


"Pak, beri kesempatan kita berdua untuk jelasin semuanya" pinta Laura sambil menginjak kaki Arvin.


"I-ya Pak bener" timpal Arvin meringis


"Silahkan kalian panggil orang tua masing-masing kesini, setelah mereka datang baru kalian jelaskan semuanya!" titah ketua RT seketika membuat mata kedua manusia itu melebar sempurna.


"WHAT!!"


****


Hujaman demi hujaman terus Ben berikan hingga membuat wanita yang tidak lain adalah Keyla merasakan sensasi yang luar biasa.


"Kenapa sayang?" tanya Ben mengernyit alis saat Keyla menyuruhnya berhenti.

__ADS_1


"Denger nggak?"


"Apa nya?"


"Ada yang nelpon"


"Nanti aja, kita selesaiin dulu" cegah Ben menahan pinggang Keyla


"Tapi takutnya itu dari klien penting aku" Keyla mendorong tubuh kekar Ben, hingga belut yang belum puas bertamu terpaksa di usir keluar dari sarang. Ben menghela nafas kasar, kemudian ikut menyusul Keyla keluar kamar mandi.


"Kalo gitu saya ke sana sekarang" jawab Keyla mematikan sambungan telepon.


"Siapa sayang?" tanya Ben memeluk Keyla dari belakang, sambil mengendus bahu polosnya.


"Kayaknya anak kamu bikin ulah lagi" jawab Keyla dengan muka masam.


"Arvin?"


"Ya siapa lagi kalo bukan anak bandel itu. pemilik kost barusan nyuruh kita ke sana untuk sidang kasus dia"


"Astaga, ya udah kita ke sana sekarang"


Jika Keyla dan Ben tengah bersiap untuk segera berangkat ke tempat kost anaknya. di lain tempat lebih tepatnya di sebuah mobil Ferarri, Kenzo dan Sisil yang berniat pergi dinner ke restoran, segera memerintahkan supir untuk mengubah tujuan mereka ke arah Bandung saat mendapat kabar dari anaknya untuk segera datang ke tempat kost.


"Bee, apa terjadi sesuatu sama Laura? perasaan aku nggak enak" tanya Sisil khawatir


"Nggak akan terjadi apa pun sama anak kita, percaya sama aku" Kenzo membawa tubuh Sisil bersandar ke dada bidangnya.


"Sshhhttt jangan pikir macem-macem"


Sisil mengangguk pelan mencoba berpikir positif, walau hati kecilnya terus mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada Laura. beruntung belaian tangan Kenzo membuat kekhawatiran yang mendera hatinya sedikit berkurang.


****


"Ini semua gara-gara Lo"


"Lah kok gue?" protes Mila menunjuk wajahnya sendiri.


"Terus siapa lagi kalo bukan Lo huh?" tanya Laura menatap tajam wajah sahabatnya. saat ini mereka berdua berada di dalam kamar, sedangkan buk Wati pulang kerumah terlebih dulu untuk menidurkan anak-anaknya.


"Ya maaf, gue kira kan maling" sesal Mila menunduk. ya, Mila sudah memberitahu kenapa bisa para warga datang dan mendobrak pintu kost, begitu pula dengan Laura yang sudah menceritakan kronologi keberadaan Arvin. melihat penyesalan di wajah sahabatnya, membuat hati Laura melembut. dia tidak sepenuhnya menyalahkan Mila, karena pada dasarnya jika posisi mereka di tukar, maka Laura akan melakukan hal yang sama.


"Udah lah nggak papa, gue ngerti maksud tindakan Lo. lagian ini cuma masalah kecil, tinggal tunggu sampe orang tua gue dateng" Laura merangkul bahu Mila.


"Tapi kalo mereka nggak percaya, terus nyuruh Lo berdua nikah gimana? gue nggak bisa numpang makan lagi dong" tanya Mila dengan bahu yang melemas kebawah.


Pletak

__ADS_1


"Awwwhh sakit Ra" pekik Mila mengusap jidat yang di sentil begitu kuat oleh Laura.


"Makanya jangan asal ngomong! nggak mungkin cuma masalah kayak gini di suruh nikah, Lo pikir gue kumpul kebo" sentak Laura kembali di buat kesal. apa tadi dia bilang? nggak bisa makan gratis? wah bener-bener nih anak.


"Kan emang iya" saut Mila tanpa sadar, membuat mata Keyla mendelik tajam.


"Ampun-ampun gue bercanda doang" sambung Mila cengengesan.


Ceklek


Buk Wati berjalan menghampiri dua wanita cantik yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri.


"Buk—


"Ibu percaya sama kamu kok. kamu anak baik jadi nggak mungkin kalo kamu berbuat macem-macem" sela buk Wati memotong ucapan Laura sambil tersenyum hangat.


"Makasih udah percaya Buk" Laura memeluk tubuh buk Wati dari samping.


Sedangkan di sebelah, Arvin memutar bola mata saking jengah nya mendengar omelan dari sang Momy yang baru saja tiba.


"Mau sampai kapan Vin, sampai kapan? mau nyuruh Momy serangan jantung baru kamu berubah, huh?" maki Keyla dengan nafas yang naik turun, walau belum tau apa masalah yang sudah di buat oleh Arvin anaknya. tapi Keyla yakin, jika masalah yang di buat tidak jauh dari yang namanya perempuan.


"Tenang sayang, ingat darah tinggi kamu" bisik Ben mengingatkan. Keyla menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


"Gimana aku bisa tenang, kalo dia bikin masalah terus. kalo seandainya bisa, aku pengen masukin dia lagi ke dalam perut"


"Momy belum tau permasalahan nya apa, kenapa malah ngegas gini" Arvin yang sedari tadi diam kini membuka suara.


"Terus apa masalahnya huh? apa?" bentak Keyla


"Cuma di tuduh kumpul kebo sama cewek sebelah"


*


*


*


Bersambung.....


Dukung karya aku dengan cara 👇


🌳 Like 👍


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰


🌳 VOTE

__ADS_1


🌳 Hadiah🙈


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2