
Laura menghentikan gerakan tangan saat mendengar bunyi sendawa seseorang.
"Siapa itu? orang apa setan?" seru Laura melihat setiap sudut dapur, kalau-kalau ada maling yang masuk ke dalam kontrakan nya.
"Kucing, meow meow" jawab seseorang yang tidak lain ialah Arvin, sangat bodoh bukan?
"Oh kucing" Laura mengangguk sambil meneguk air putih, kemudian melenggang pergi.
"Lo pikir bisa nipu gue" batin Laura menyeringai.
"Dasar boneka mampang, mau aja gue kibulin" cibir Arvin yang melihat Laura masuk ke dalam kamar. tangannya terulur meraih sate di atas meja dan pada saat ingin bangkit dari kolong meja, lampu yang semula terang kini mendadak mati.
"CK, pake acara mati lampu segala" gerutu Arvin merangkak perlahan dari kolong meja makan. hanya berbekal naluri dan raba meraba di tengah suasana yang gelap gulita, Arvin berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil ponsel. aneh, itu yang sempat terlintas di pikiran Arvin karena tidak mendengar suara teriakan dari Laura, kan biasa nya perempuan akan teriak jika mati lampu. atau wanita itu memang sudah tidur mati, hingga tidak menyadari di sekitar nya.
DEG
Keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuh Arvin, saat mata nya menangkap sesuatu yang melayang dan melintas di samping. sebisa mungkin Arvin meyakinkan diri kalau itu hanya perasaan nya saja. tapi lagi-lagi bayangan itu kembali melintas, membuat bulu kuduk Arvin semakin merinding. Tepat saat bayangan putih itu berjalan mendekat, Arvin memberanikan diri untuk bersiap-siap menangkap dan...
"Kalo ada kaki berarti manusia, kalo nggak ada kaki gini artinya...." ucapan Arvin terjeda, dia mendongak melihat wajah yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang, bahkan sangat kencang dari olahraga malam yang sering dia lakukan.
Aarrrkkkkhhh
Teriak Arvin kelabakan berlari ke sembarang arah hingga sang anaconda lagi-lagi terkena imbas, akibat sabetan benda tumpul yang tidak lain sudut kaca meja makan. tapi rasa sakit itu seolah tidak terasa sama sekali, hanya ada ketakutan dan dalam pikirannya sekarang hanyalah kabur dari dedemit kampret.
"Pergi, pergi Lo setan! ini belum malem Jumat, bukan waktunya Lo gentayangan" sentak Arvin mundur ke belakang ketika wajah menyeramkan itu mendekat.
"Lo mau apa huh? jangan kegatelan, gue nggak nafsu sama Lo!" sambung Arvin berbalik pergi, namun...
Dugh
Prank
Arvin merasa sesuatu mengalir di dahinya ketika berciuman dengan benda keras yang ternyata sebuah kuali. bersamaan itu pula lampu di dalam kost menyala beserta suara tawa dari seorang perempuan.
"Hahaha masih sempat-sempatnya Lo ngira setan mau sama Lo" gelak tawa Laura menggema sembari memegang perut yang pegal saking lucu melihat ketakutan sekaligus lawakan yang di suguhkan Arvin barusan.
"Jadi itu ulah Lo sshhhh" sentak Arvin mendesis ketika mulai merasakan sakit pada dua telur anaconda nya.
__ADS_1
"Hu'um" Laura mengangguk tanpa merasa bersalah sedikitpun. ya tadi ketika masuk ke dalam kamar, Laura langsung mengambil drone, selimut putih serta kepala boneka yang dia pisahkan dari tubuhnya lalu merangkai sedemikian rupa agar terlihat menyeramkan. kemudian, Laura berjalan mengendap-endap keluar pintu untuk mematikan saklar lampu. selanjutnya, barulah Laura menjalankan aksi untuk mengerjai Arvin.
Aakkkkkhh
"Woi, Lo oke?" tanya Laura mendekati Arvin yang sekarang menggelinjang di lantai, memegang anaconda nya yang semakin ngilu.
"Saβkit" lirih Arvin hampir tidak terdengar. muncul sedikit rasa bersalah di hati Laura, apalagi melihat lelehan darah kental yang mengalir di dahi Arvin membuat Laura mau tidak mau membantunya.
"Berat banget" gerutu Laura terduduk dengan nafas yang tersengal setelah menyeret tubuh Arvin dari dapur ke ruang tengah tepat di tempat tidur yang tipis.
"Istri kampret, setan, psikopat" umpat Arvin dalam hati, sekarang tidak hanya anaconda nya saja yang sakit tapi seluruh tubuhnya.
"Kenapa? mau marah? marah aja, siapa suruh Lo makan sate gue diem-diem" ketus Laura bangkit, mengambil kotak P3K di dalam kamar.
"Siapa bilang gue makan sate Lo, jangan nuduh" kilah Arvin setelah rasa ngilu sedikit berkurang.
"Cih, lap dulu tuh bekas kacang di mulut, baru bisa ngelak" mendengar itu, tangan Arvin spontan mengusap sudut bibir yang ternyata masih ada sisa bumbu sate menempel. Arvin merasa kikuk karena ketahuan sudah berbohong, sungguh wajahnya kini terasa tebal saking malunya.
"Awwsshh"
"Nggak usah lebay, baru segini aja sakit" cibir Laura menepis tangan Arvin.
"Aw, Lo jadi cewek nggak ada lembut-lembutnya ya" maki Arvin ketika Laura dengan kasar menekan kapas yang sudah di basahi alkohol ke lukanya.
"Khusus untuk Lo, nggak ada kata lembut di kamus gue!" jawab Laura menempel plaster doraemon untuk menutupi luka Arvin yang sebelumnya sudah di beri Betadine. entah karena keseimbangan nya hilang, Laura yang hendak berdiri langsung terjerembab di atas tubuh Arvin.
Hening! hanya ada suara jarum jam serta detak jantung di antara mereka berdua yang sekarang dalam posisi sangat intim. oh astaga, aroma tubuh serta nafas mereka pun berbaur dan yang lebih parah lagi, saat ini bibir mereka berdua saling menempel. Arvin yang memang sudah lama tidak mencicipi benda kenyal dan basah itu pun mulai ******* lembut bibir Laura. namun...
BUGH
"Lo sengaja kan cari kesempatan dalam kesempitan" sentak Laura memberi pukulan kuat di dada Arvin.
"Ya harus dong...kita harus memanfaatkan waktu walau sekecil apapun kan?" jawab Arvin mengangkat kedua alis. wajah Laura memerah bercampur malu dan kesal, segera dia bangkit masuk ke dalam kamar meninggalkan Arvin yang kini tengah menatap lama pintu kamarnya.
****
Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10.45, sinar matahari pun mulai memanas menusuk kulit. namun sepasang suami istri yang satu tempat tapi berbeda ruangan itu, masih betah memejamkan mata.
__ADS_1
Ting ling ling Ting ling ling
"Enggghh" Laura melenguh ketika ponsel terus berdering.
"Halo" seru Laura dengan suara khas bangun tidur.
"Lo baru bangun?" tanya Mila di seberang telepon π²
"Hmm"
"Lo bilang hari ini mau kuliah, gue nunggu Lo di gerbang kampus dari tadi tau nggak" π²
"Iya bentar lagi, masih pagi juga"
"Pagi mata Lo katarak! coba Lo liat sekarang udah jam berapa" gerutu Mila mematikan sambungan telepon sepihak.π²
Tut
Laura pun melirik ke arah jam Beker dan saat itu juga dia terjun dari tempat tidur, meraih handuk menuju kamar mandi. sekitar 10 menit Laura sudah siap berangkat kuliah dengan balutan serba jeans. namun ketika hendak keluar, Laura tidak sengaja menoleh ke arah Arvin yang masih tertidur. tapi ada yang aneh, Laura pun mendekat....
"Astaga Arvin!"
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
__ADS_1
π³ Hadiahπ
π³ Rating βββββ