
"Laura"
Laura yang sedang berjalan di lorong kampus sambil melihat sosmed di ponsel, mendongak ketika mendengar namanya di panggil. lagi-lagi Laura menghembus nafas kasar, saat salah satu siswa laki-laki membawakan buket coklat di tangannya. beginilah resiko jadi primadona kampus, setiap hari selalu ada pria yang berusaha mendapatkan hati nya, walau sudah di tolak berkali-kali.
"Buat kamu" ucapnya menyodorkan buket coklat, yang langsung di ambil oleh Laura. sayangkan kalau coklat yang manis ini di tolak.
"Makasih ya"
"Tunggu dulu" Laura menunduk melihat tangannya yang di cekal.
"Sorry, gue cuma mau bilang kalo gue cinta sama Lo." ucapnya melepaskan tangan Laura.
"Makasih udah cinta sama gue. tapi maaf, gue nggak bisa balesin perasaan Lo. masih banyak kok cewek di luaran sana yang lebih dari gue. bye, gue duluan " Laura tersenyum manis, namun lagi-lagi tangannya di cekal oleh laki-laki itu.
"Lepas" seru Laura penuh penekanan, senyum manis itu kini berubah dingin dan menyeramkan. Laura paling tidak suka pada orang yang memaksa kehendak seperti sekarang ini. saat Laura ingin membuka mulut, suara bariton terdengar dari belakang nya.
"Apa kamu tidak dengar? lepas atau nilai kamu saya kosongkan" ancam Fiza mengeraskan rahang melihat tangan wanitanya di sentuh pria lain. mendengar ancaman itu, sontak saja membuat laki-laki itu pergi.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Fiza melirik pergelangan tangan Laura yang sedikit memerah, ingin rasanya mengelus tangan itu. namun dia sadar diri, takut jika Laura semakin tidak nyaman di dekatnya.
"Bapak liat sendiri kan saya masih utuh! jadi permisi" ucap Laura berjalan cepat meninggalkan Fiza. bukan tidak sopan, tapi Laura hanya tidak mau berlama-lama di dekat Fiza. karena entah mengapa jantungnya semakin berdetak kencang saat Fiza dekat dengannya.
"Nggak! gue nggak mungkin jatuh cinta sama pak Fiza" gumam Laura menggeleng.
"Ra, Laura!" seru Mila melambaikan tangan ke wajah sahabatnya yang melamun.
"Woii" Laura terperanjat kaget, telinganya berdengung oleh teriakan Mila.
"Lagian di panggil nggak nyaut, mikirin apa lagi, huh?" tanya Mila menoel bahu Laura.
"Nggak ada, gue cuma kangen bokap sama nyokap doang" kilah Laura. karena jika dia memberitahu hal ini kepada Mila, dapat dipastikan kalau teman Oneng nya satu ini akan menertawainya.
"Ohh kirain apaan, eh nanti kita ke pasar malem yuk"
"Nggak bisa, gue mau pulang"
"Bukannya Minggu depan Lo baru balik?" tanya Mila mengerut dahi
"Mama nyuruh pulang hari ini, jadi besok lusa gue baru balik lagi ke kost"
"Haaah bakalan sepi gue" Mila menghela nafas berat
"Elleehh, biasanya juga Lo pergi sama bang Febri" cibir Laura memutar bola mata, membuat pipi Mila merona.
Kelas pertama pun berlangsung dengan lancar, Laura dan Mila keluar dari kelas menuju kantin. lagi-lagi jantungnya berdesir hebat saat pria yang tidak lain adalah Fiza duduk di hadapannya.
"Ra" seru Fiza menatap Laura.
"Hah? ah ekhem kenapa pak?" tanya Laura datar untuk menutupi salah tingkahnya barusan.
"Boleh minta nomor kamu?" jawab Fiza tersenyum setipis mungkin, tanpa sepengetahuan orang lain.
__ADS_1
Uhuk uhuk uhuk
Mila yang sedang makan mie tersedak hingga lelehan kuah bakso mengalir keluar dari hidungnya. tanpa membersihkan terlebih dulu, Mila mendongak dan melihat keduanya bergantian.
"Bersihin dulu ingus Lo" ketus Laura melempar tissue ke depan Mila, kemudian beranjak pergi. entah sadar atau tidak, tangannya menarik lengan Fiza hingga membuat banyak pasang mata di sana berbisik-bisik jika mereka menjalin hubungan.
"Apa?" tanya Fiza bingung saat Laura menengadahkan tangan ke hadapan nya.
"Handphone" Laura mengambil ponsel yang disodorkan oleh Fiza. mengetik beberapa nomor, menyimpannya di kontak lalu menyerahkan kembali pada pemiliknya.
"Makasih Ra" ucap Fiza berbinar bahagia, membuat Laura lagi dan lagi berdebar untuk kesekian kali melihat senyuman manis itu.
"Emm kalo gitu, saya permisi" tanpa menunggu jawaban, Laura segera pergi dari sana.
****
Seperti yang di katakan sebelumnya, bahwa Laura akan pulang kerumah kedua orang tuanya hari ini. setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih, akhirnya Laura sampai di bangunan elit yang menjulang tinggi di Jakarta.
"Assalamualaikum, Ma Pa aku pulang" teriak Laura saat memasuki rumah yang nampak sepi.
"Loh kok sepi" gumam Laura berjalan ke sekeliling di lantai bawah, namun yang di cari tetap tidak ada. Laura pun memilih menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. mungkin mereka sedang keluar, pikir Laura mengedik bahu.
Ceklek
"Wellcome to home sayang!"
Laura sedikit syok saat melihat orang yang dia cari berada di dalam kamar mempersiapkan kedatangannya dengan meniup trompet mainan.
Cup
Cup
"Mama kangen banget sama kamu sayang" ucap Sisil mengecup pipi anak semata wayangnya. ya, Laura adalah anak dari pasangan Sisil dan Kenzo, dia memilih untuk tinggal di kost dari pada tinggal di apartemen yang Papa nya siapkan.
"Udah aku bilang kan untuk cari Adek lagi, biar Mama nggak kesepian"
Blush
Wajah Sisil tersipu malu mendengar ucapan yang di lontarkan oleh anaknya. siapa sih yang tidak mau memiliki anak lagi, tapi ya bagaimana? mereka hanya bisa mengadon, tapi yang menghendaki nyawa kedalam rahim hanya Allah SWT.
"Denger sendiri kan? malam ini kita harus kerja keras" bisik Kenzo, membuat mata Sisil melotot.
"Cieee cieee" Goda Laura dengan alis yang naik turun
Drrrrtt Ting
Laura merogoh ponsel di dalam tas, tertera pesan dari nomor yang tidak dia kenali. awalnya di abaikan, namun saat ingin menyimpan kembali ke dalam tas, bunyi pesan masuk kembali terdengar membuat Laura akhirnya membuka pesan itu.
...'Ra, ini aku Fiza'...
...'Emm kamu lagi dimana? mau jalan bareng?'...
__ADS_1
Cie cie cieee
Sekarang giliran Kenzo dan Sisil yang menggoda anaknya, saat ketahuan sedang tersenyum ketika membaca isi pesan.
"Ada yang dapet pesan dari gebetan nih kayaknya" ledek Sisil mengerling.
"Ap—" perkataan Laura terpotong oleh dering panggilan yang tertera nama 'Dosen kanebo' yang baru saja dia simpan.
Ting ling ling Ting ling ling (anggep nada dering😅).
"Halo Ra" sapa fiza 📲
"Iya halo, kenapa?"
"Emm itu, yang aku bilang di wa tadi" 📲
"Aku lagi di Jakarta, jadi nggak bisa"
Laura menggigit jari saat tidak mendengar balasan dari seberang telepon. Sisil dan Kenzo yang melihat kelakuan tak biasa putrinya hanya bisa menahan tawa, karena mereka pernah muda jadi sudah pasti mereka tahu.
"Kalo gitu aku nyusul kamu ke sana"📲
"Beneran? Ah ma-maksud aku nggak usah"
"Aku sekalian mau jenguk Nenek di sana, kamu tinggal kirim alamat"📲
"Ya udah terserah" Laura mematikan panggilan sepihak.
Tut
Fiza menatap layar ponsel sambil tersenyum lebar. apakah Laura sudah memberi lampu hijau untuknya? ini tidak bisa di biarkan, secepat kilat Fiza mempersiapkan diri untuk menyusul wanitanya sekalian kenalan sama Camer, eaaakk😂
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1