
"Aaaarrgghhhh"
"Kenapa nggak ada satu pun dari mereka yang nanya kabar gue!"
"Apa nggak pernah mikir kondisi anak mereka sekarang?"
"Mana duit tinggal segini, mana cukup?"
Arvin mendes*h kasar, melempar uang yang masih tersisa sekisaran 4 juta ke ranjang setelah mentraktir wanita yang begitu menggoda di kampus. sungguh, Arvin di buat kelimpungan sekarang. dengan tekad yang kuat, akhirnya Arvin memilih menelpon sang Momy untuk meminta uang. setelah panggilan ke lima, akhirnya sambungan telepon baru terhubung.
"Haβ
"Nggak ada! Momy udah bilang kan, kalo kemarin uang terakhir dari Momy. jadi kalo uang itu habis, jangan berharap sepeserpun dari Momy. toh kamu udah gede, bisa cari kerja sampingan sambil kuliah. bye!"π²
Tut
Sakit, sesak, sedih, geram, marah semua rasa itu menjadi satu. Arvin mengusap kasar wajah saking kesal dengan reaksi Momy. padahal belum sepatah katapun keluar dari bibirnya, tapi lebih dulu di sela dan lebih membagongkan lagi sambungan telepon di putus secara sepihak. ingin mengumpat, tapi dia wanita yang melahirkan nya ke dunia.
Syafi? ya Arvin bisa meminta bantuan pada nya. tanpa membuang waktu lagi, Arvin segera menelpon Syafi agar datang ke kost. walau enggan tapi Syafi tetap mengiyakan. karena bagaimanapun mereka adalah teman, jadi sebisa mungkin Syafi menuntun sahabatnya agar kembali ke jalan yang benar.
30 menit kemudian
Tok Tok Tok
"Vin" seru Syafi mengetuk pintu Arvin yang entah sudah ke berapa kali.
Ceklek
"Sorry, gue tadi kebelet" ucap Arvin menepuk-nepuk perutnya yang terasa mules.
"Ngapain Lo manggil gue?" tanya Syafi tanpa basa-basi
"Gue mau minjem duit"
"Berapa?" tanya Syafi sambil merogoh dompet di saku.
"100 juta" Syafi spontan menoleh, mendelik terkejut mendengar kalimat santai tanpa beban dari bibir sahabatnya.
"Ck...Tenang, entar juga gue ganti kalo udah balik ke perusahaan lagi, plus bunga!" sambung Arvin berdecak kesal melihat respon Syafi yang menurutnya lebay.
"Bukan masalah di ganti atau enggak Vin, kapan pun Lo mau bayar terserah. tapi yang jadi pertanyaan gue, Lo mau ngapain uang sebanyak itu huh? mau foya-foya sama jal*ng? sorry, gue nggak ngasih!" tegas Syafi kembali memasukkan dompet
"Ketimbang minjemin aja pelit, kan gue ganti. mau gue apain tu uang juga bukan urusan Lo"
"Come on Vin, Lo itu udah gede bisa mikir pake otak. boleh nakal, tapi bukan nakal dalam artian jadi Casanova"
"Gue bukan Casanova, harus berapa kali gue bilang huh? kalo emang nggak niat ngasih pinjaman, mendingan Lo pulang, jangan banyak bacot" Arvin beranjak masuk kedalam kamar dengan membanting pintu.
"Gue harap Lo berubah" seru Syafi menatap pintu kamar Arvin sebentar, kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
BRAK
"Si*l, si*l, si*l!" umpat Arvin menendang pintu hingga bolong.
****
"Silahkan di minum nak Fiza" ucap Sisil ketika pelayan menata minuman di atas meja.
"Makasih Tante" Fiza menyesap perlahan minuman, lumayan untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini. bagaimana tidak gugup? jika sekarang dia berhadapan langsung dengan orang tua wanita yang sangat dia cintai. awalnya, Fiza mengira jika orang tua Laura akan bersikap dingin padanya, ternyata tidak.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki menggema dari atas tangga, membuat semua yang sedang berbincang di ruang tamu menoleh ke seorang gadis cantik yang kini tengah berjalan kearah mereka. dialah Laura, penampilan nya yang sangat menawan hari ini mampu membuat mata Fiza lupa berkedip.
"Ayo Fiz" seru Laura menyadarkan lamunan Fiza.
"Om, Tante aku ijin bawa Laura jalan-jalan keluar ya" pamit Fiza menyalimi tangan papa Kenzo dan mama Sisil, begitu pula dengan Laura.
"Hati-hati, pulang nya jangan terlalu malem" pesan mama Sisil kepada anaknya.
"Fiza, jika terjadi sesuatu pada anak gadis saya, kamu orang pertama yang saya habisi" ancam Kenzo menepuk pundak Fiza. keduanya pun masuk kedalam mobil keluar dari perkarangan rumah menuju suatu tempat.
"Ekhem" Fiza berdehem mencairkan suasana yang sedari tadi hening.
"Kamu naksir sama Mama aku?" Laura menoleh menatap penuh selidik.
"Bu-bukan! maksud aku, mama kamu masih keliatan muda walau umurnya udah kepala empat" Fiza meralat kata-kata nya.
"Ohh kirain"
Kembali hening, keduanya memilih diam tanpa sepatah kata pun hingga mobil terparkir di depan penjual nasi goreng.
"Aku sering makan di sini kalo ke Jakarta. kamu harus coba, di sini nasgor nya enak banget" ucap Fiza bersemangat membuat Laura terkekeh.
"Kamu lupa kalo aku tinggal di Jakarta? jadi udah pasti tau lah" Laura menggeleng tertawa. Fiza tersenyum kaku saat baru menyadari kebodohannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. sebelum pulang, Fiza mengajak Laura untuk pergi ke taman. keduanya terus berbincang, sesekali tertawa saat salah satu dari mereka mengatakan hal lucu. dalam perjalanan pulang pun, tidak ada lagi rasa canggung antara keduanya.
Laura menghempaskan tubuh di atas kasur yang sudah lama tidak di tempati. senyuman manis terukir di bibir kala mengingat ucapan yang terdengar sangat manis dari Fiza sebelum pamit pulang.
...'Good Night My Princess'...
Entah apa yang membuat Fiza berani mengatakan hal seperti itu, padahal mereka bukan sepasang kekasih.
"Astaga, sadar Ra sadar! mereka mau, karena wajah Lo" gumam Laura menepuk pipi bergantian.
__ADS_1
Keesokan harinya, Laura dan kedua orang tuanya sepakat untuk liburan ke pantai. mereka menghabiskan waktu kebersamaan khusus keluarga kecil mereka.
"Kamu jadi kerja?" tanya mama Sisil, membuat Kenzo yang sedang membakar jagung sayup-sayup mendengar, langsung menoleh.
"Kerja?" beo papa Kenzo berjalan mendekat.
"Papa belum tau?" tanya Laura yang mendapat gelengan kepala papa Kenzo, kemudian mereka berdua serempak menoleh ke arah mama Sisil.
"Mama lupa kasih tau Papa kamu" mama Sisil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Cup
"Kebiasaan" papa Kenzo mencium bibir istrinya sebagai hukuman, sosweet bukan?
"Kenapa mau kerja sayang? apa uang yang Papa kirim kurang? kalo kurang Papa bisa tambahin, biar kamu tetap fokus kuliah!" tutur papa Kenzo serius.
"Bukan itu maksud aku. uang yang di kasih Papa itu lebih dari cukup, malah aku tabung sampe sekarang. cuma aku mau belajar mandiri dan ngerasain gimana cari uang sendiri" jelas Laura memberi pengertian untuk Papa nya yang posesif.
"Ya udah kalo gitu, kamu bisa kerja di perusahaan temen Papa di sana. Paβ
"Nggak Pa, aku udah dapet tempet kerja nya kok"
"Di mana? perusahaan siapa?"
"Bukan perusahaan, tapi restoran" Kenzo mendelik kaget mendengar jawaban anaknya.
"Sayang, kenapa nggak di perusahaan? lagi pula itu nggak sesuai dengan jurusan kamu sayang"
"Bee, namanya juga kerja paruh waktu. kita sebagai orang tua kasih dukungan, bagus kan kalo anak kita jadi mandiri" sela mama Lisa membantu Laura menjelaskan kepada papa Kenzo.
"Haaah...kalo itu kemauan kamu, ya udah Papa dukung. tapi kalo kamu nggak kuat, lebih baik berhenti oke" Kenzo mengelus puncak kepala Laura dengan lembut.
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
π³ Hadiahπ
__ADS_1
π³ Rating βββββ