
"Woii Lo tidur di dalem?" teriak Arvin mengetuk pintu kamar mandi.
"CK..lama banget" gerutu Arvin langsung menerobos masuk.
GLEG
Arvin menelan ludah kasar saat melihat pemandangan yang menggiurkan di balik kaca transparan. ya, dia melihat Laura sedang mengguyurkan tubuh nya yang putih di bawah pancuran shower.
"Ssshhh lumayan juga"gumam Arvin memperhatikan dua choco chips yang menonjol di balik kacamata putih. Laura yang belum sadar dengan keberadaan Arvin, segera melepas kacamata kemudian berbalik dan pada saat itu juga jantung nya hampir saja copot.
Aaarrrkhhh
"Berisik!" sentak Arvin kesal karena gagal melihat choco chips, padahal sedikit lagi loh eheheπ tapi sayang, sudah keduluan di tutup dengan handuk.
"Sejak kapan Lo di sini? Kenapa nggak ketuk pintu dulu" bentak Laura geram sekaligus malu, bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini.
"Ya itu salah Lo sendiri yang mandi berjam-jam, gue udah jamuran nungguin dari tadi. lagian kan ini kamar mandi gue, jadi suka-suka gue dong" jawab Arvin mengangkat bahu
"Tapi seenggaknya ketuk pintu, atau bisa pake kamar mandi yang lain" ketus Laura mengencangkan lilitan handuknya.
"Udah berapa kali gue ketuk pintu, Lo aja yang budek"
"Kok gue nggak denger?" Laura mengernyit alis, karena sedari tadi dia tidak mendengar suara apa pun.
"CK...banyak bacot! buruan minggir, keburu telat"
Sambil menghentakkan kaki, Laura pergi meninggalkan Arvin yang mulai membuka seluruh pakaian serta sebuah video laknat di ponselnya. biasa lah, anaconda nya tadi terbangun karena melihat pemandangan indah di bawah guyuran air. jadi ya, terpaksa Arvin memberi camilan dulu untuk nya.
Sedangkan Laura yang sudah siap dengan dress biru laut, kini tengah menatap pantulan wajah nya di depan cermin walk in closet. perkataan Fiza tadi sore masih terngiang di pikiran Laura. ya, Laura sudah menceritakan semua yang menimpa dirinya kemarin hingga berakhir di KUA kepada Fiza, kecuali mengenai surat kontrak pernikahan. dia pikir Fiza akan berhenti bahkan menjauh, tapi justru laki-laki itu masih bersikukuh mencintai nya sekalipun harus berurusan dengan hukum.
Andai, andaikan orang yang menikah dengannya saat ini adalah Fiza, maka mungkin sekarang mereka sedang menghabiskan hari-hari pertama pengantin baru di atas ranjang.
"Haiiss...come on Ra, Lo nggak harus punya perasaan kayak gini kalo nggak mau sakit hati" gumam Laura berlalu keluar.
"Eh mau kemana?" tanya Arvin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ke bawah"
"Bantuin gue dulu"
"Apa?" tanya Laura berbalik dengan ekpresi datar.
__ADS_1
"Pilihin gue baju yang senada sama dress yang Lo pake" jawab Arvin berjalan masuk ke dalam walk in closet, dengan berat hati Laura melakukan apa yang di katakan Arvin.
"Nih" Laura setelan kemeja dan celana biru muda.
"Apaan warna kayak gini?" tolak Arvin membuat Laura mendengus kesal. sebenarnya tanpa bantuan orang lain, Arvin bisa dengan mudah menyesuaikan warna baju nya. tapi dia sengaja melakukan hal ini, berhubung dirinya ingin mengerjai dan membuat Laura tunduk pada pesona nya yang tampan idaman para wanita.
"Kan itu senada sama dress gue"
"Ya tapi nggak harus biru semua kali"
"Nih, kalo yang ini gimana?"
"No"
"Yang ini?"
"No"
"Terus yang mana? ini nggak cocok, itu nggak cocok. Lo mau ngerjain gue huh" sentak Laura berkacak pinggang
"Dih...siapa juga yang ngerjain Lo, buruan pilih lagi" Arvin terkekeh tanpa suara karena berhasil membuat wanita yang sedang memilih baju itu kesal.
"Ini setelan terakhir yang gue pilih, mau Lo pake atau nggak terserah, bye" Laura melempar kemeja putih, jas serta celana biru muda ke wajah Arvin yang sedang duduk.
"Sayaaangg, sayang kamu di mana?" teriak Arvin menggema, seraya menuruni anak tangga. Laura yang baru menginjakkan kaki di tangga terakhir, menggeram kesal lantaran muak dengan kalimat yang sok romantis dari Arvin.
"Aku di sini, kenapa hm?" tanya Laura pura-pura tersenyum, karena sekarang seluruh keluarga sedang memperhatikan mereka.
"Kancingin" rengek Arvin terdengar manja, namun sangat menjijikan di telinga Laura.
"Nggak usah lebay, gue enek denger nya" bentak Laura dengan suara tertahan, sambil menarik kasar kerah kemeja Arvin.
"Itu menurut Lo, tapi menurut gue itu romantis" saut Arvin menatap intens wajah Laura yang ternyata sangat cantik dan lucu dari jarak dekat seperti ini. dengan cepat Laura mengancing kemeja Arvin, karena dia takut jika jari tangan nya ini lepas kendali untuk mencakar-cakar roti sobek Arvin yang entah mengapa begitu menggiurkan.
****
Saat ini seluruh keluarga serta teman-teman Ben dan Keyla, sedang berkumpul di sebuah ruangan VVIP restoran mewah yang terkenal di kota Bandung. berbagai macam hidangan mewah tersedia di meja panjang itu.
"Semoga pernikahan kalian berdua langgeng sampe kakek nenek. masih gak nyangka, omongan Om dulu jadi kenyataan sekarang" ucap Zico tertawa sambil memasukkan potongan cumi ke mulut anak nya. ya, Zico maupun Bram sudah menikah secara bersamaan sepuluh tahun lalu dengan wanita yang ternyata saudara kembar tidak identik.
"Hahaha iya Om, kita juga nggak nyangka" ucap Laura tertawa terpaksa. huh, langgeng? kalian akan syok jika saja tau kalau pernikahan ini hanya berlangsung selama tiga bulan.
__ADS_1
"Vin jaga baik-baik istri kamu, bila perlu kamu pindah aja ke universitas Laura. karena Tante yakin, pasti banyak laki-laki di sana yang suka sama istri kamu" kata Dinda memberi saran.
"Iya bener, nanti Momy urus surat pindah kamu di sana"
"Nggak usah Mom!" cegah Arvin dan Laura bersamaan, mereka berdua saling melempar tatapan tajam. What? serumah saja bikin darah tinggi, apalagi satu universitas. terus gimana nanti kalo dia bertemu dengan Fiza, bisa-bisa adu jotos tiap hari.
"Maksud aku nanggung Mom, kan aku udah bikin skripsi terus tinggal wisuda. jadi untuk apa pindah, lagian aku percaya kok kalo dia bisa jaga hati di sana" jelas Arvin sambil meraih tangan Laura dan mencium nya.
"Bukannya kebalik?" timpal seseorang yang baru masuk.
"Gio!" pekik Keyla beranjak berhamburan memeluk sosok laki-laki yang tidak lain adalah putra keduanya, adik kandung dari Arvin.
Cup cup cup
"Momy kangen banget sama kamu sayang" seru Keyla memberi kecupan maut ke seluruh wajah Gio, begitu pula dengan nenek, kakek serta Tante nya.
"Kenalin, itu kakak ipar kamu" ucap Keyla memperkenalkan Laura.
"Hai kak, kenalin aku Gio"
"Laura"
"Nama yang cantik, secantik orang nya"
Laura tersenyum kaku membalas uluran tangan adik ipar yang wajah nya terlihat sama persis dengan Arvin, bahkan sifat mereka berdua sepertinya juga sama, sama-sama penggoda wanita.
*
*
*
Bersambung....
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
__ADS_1
π³ Hadiahπ
π³ Rating βββββ