Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Dedemit


__ADS_3

Arvin menenggak minuman kaleng yang entah ke berapa, matanya terus melihat ke arah gerbang universitas xx, menunggu seseorang keluar dari sana yang tidak lain ialah Laura. semenjak kejadian dua Minggu lalu di dalam kamar hotel, Arvin merasa sifat Laura sedikit berubah. jika setiap saat biasanya mereka sering bertengkar, tapi belakangan ini tidak ada sama sekali. Laura cenderung jadi sosok yang pendiam dan acuh, hal itu tentu membuat Arvin merasa ada yang kurang. makanya setiap pulang kuliah, Arvin selalu bertolak ke kampus Laura dan apa yang dia lihat kebanyakan kebersamaan dengan manusia pizza.


"Permisi Abang ganteng" sapa seseorang menepuk pundak Arvin.


"Aakhhh Dedemit" pekik Arvin kaget saat melihat makhluk astral yang menepuk pundaknya.


"Ikh abang, masa cantik begini di bilang Dedemit...buka mata mu lebar-lebar bang, ikh kesel" sungut laki-laki lekong itu sambil menghentak-hentakkan kaki. Arvin yang masih syok terus menatap horor dedemit di depannya dari atas sampe bawah.


"Abang" seru nya lagi, tapi kali ini dengan nada yang terdengar seksi.


"Jauh-jauh Lo anjir, pergi Lo!" usir Arvin memalingkan wajah ke arah gerbang. dia pikir dedemit itu akan kabur, tapi ternyata dia justru memasang musik dari speaker yang dia bawa.


Sampe bawah


Sampe bawah


Sampe bawah


(kurang lebih lirik dj nya kayak gituπŸ™ˆ*)


Lagi-lagi Arvin mendelik kaget saat dia mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik DJ. Arvin akui jika body dedemit itu sangat bagus, montok, jangan lupa juga kaki jenjang yang mulus tidak ada sehelai pun bulu jagung, sesuai dengan kriteria nya. tapi terlepas dari itu semua Arvin masih waras oke, dia masih mau menjelajah gua bukan pohon!


"Sawer bang, ayok lah bang jangan malu-malu padahal mau" ujar manusia berwujud dedemit itu meliuk-liuk kan tubuh seperti cacing, sangat lentur.


BRAK


"Gue bilang pergi ya pergi, apa nggak ngerti pake bahasa manusia hah? dedemit sampah kayak Lo nggak pantes di sini, mending mati aja sana. sia-sia orang tua yang udah ngelahirin, kalo anaknya keluar jadi dedemit sejenis Lo" bentak Arvin menendang speaker hingga terpental ke arah tembok, sontak mendengar suara keributan, orang-orang yang berada di sana melihat ke arah mereka tak terkecuali Laura yang baru keluar dari gerbang kampus menggunakan motor Scoopy nya.


"Kenapa berhenti Ra?" tanya Mila membuka kaca helm.


"Tuh" Laura menunjuk kerumunan orang di seberang jalan.


"Udahlah biarin, entar Lo telat kerja" ucap Mila, Laura pun menjalankan kembali motornya tapi bukan ke jalan pulang melainkan berbelok ke arah kerumunan.


"Tuh anak kesambet apaan si?" gumam Mila tak percaya, biasanya Laura selalu cuek dengan sekitar, tapi sekarang? haih.


Laura turun dari motor mendekat arah kerumunan, sayup-sayup telinganya mendengar suara yang begitu familiar. karena rasa penasaran yang tinggi, Laura menerobos untuk melihat siapa pemilik suara itu.


"Arvin" gumam Laura menutup mulut, kaget melihat Arvin yang kini sudah babak belur di aspal. tidak ada yang berani menolong, karena takut terkena imbas dari kang pukul rasa dedemit itu.

__ADS_1


"Cukup, stop! stop!" teriak Laura berlari melindungi Arvin dengan memeluk tubuh yang terkapar itu.


"Minggir! eike belum selesai ngasih pelajaran ke dia, seenak nya aja ngatain orang. Lo pikir gue kayak gini nggak ada sebab? gue nyari duit tolol! kalo nggak suka ya tinggal bilang jangan ngerusak speaker dan ngatain gue" bentak waria itu mengibas rambut panjangnya ke belakang.


"Woi dedemit..gue udah nyuruh Lo pergi secara baik-baik, tapi Lo nya aja yang nggak mau pergi" saut Arvin meringis, dia belum sadar jika Laura ad di hadapannya.


"Kapan huh? kapan?" sungut waria itu berkacak pinggang.


"Taβ€”


"Arvin cukup! Lo mau babak belur lagi" sela Laura menutup mulut Arvin dengan tangan nya.


"La-laura" cicit Arvin terkejut, sejak kapan Laura ada di sini? pikir Arvin bertanya-tanya.


"Iya ini gue" jawab Laura menahan senyum melihat kondisi Arvin, entah kenapa melihat wajahnya babak belur membuat hati Laura bahagia. jahat? ya bisa di bilang begitu.


"Hellooo, ini bukan waktunya drama Korea. sekarang cepet ganti rugi, gue nggak mau tau titik!" Laura menghela nafas panjang mendengar ocehan dari waria di belakangnya.


"Berapa?" tanya Laura to the point


"Mmmm satu juta" jawab waria itu setelah berpikir sejenak. mata Arvin yang lebam mendelik mendengar jumlah uang dari mulut sang dedemit.


"Itu cuma uang kecil...Ra, bayar" sambung Arvin tersenyum manis ke arah Laura. ingin sekali Laura memotong lidah Arvin yang dengan enteng menyuruh nya untuk membayar uang sebesar itu. mungkin bagi Arvin itu jumlah uang yang kecil, tapi bagi Laura yang sudah terbiasa mencari uang sendiri, itu jumlah yang sangat besar hampir setara dengan gajinya. tidak ingin jadi bahan tontonan, Laura segera mengeluarkan uang satu juta dari dompet, yang rencananya untuk di sumbangkan ke panti asuhan. setelah itu, Laura langsung menarik tangan Arvin keluar dari kerumunan.


"Cepetan naik!" titah Laura yang sudah menyalakan mesin motor.


"Enggak enggak" tolak Arvin menggeleng cepat, dia masih ingat dengan kejadian beberapa Minggu kebelakang. saat itu nyawanya hampir saja hilang, dia tidak mau mengulangi hal yang sama.


"Gue nggak bakal ngebut, tenang aja" ucap Laura yang paham akan raut wajah Arvin dari kaca spion. ketika Arvin ingin kembali menolak, matanya tidak sengaja melihat seseorang yang duduk di kemudi mobil tidak jauh dari mereka berdiri.


"Ayo" seru Arvin naik ke atas motor, tangannya sengaja ia kaitkan di perut Laura.


"Arvin tangan Lo" sentak Laura menepis kasar tangan Arvin, namun tangan itu tetap kekeh dan malah semakin erat memeluk pinggangnya.


"Sstttthh ada Momy sama Daddy di sini" bisik Arvin berbohong.


"Mana?"


"Buruan jalan, entar mereka curiga" desak Arvin ketika Laura celingak-celinguk.

__ADS_1


"Mil Lo duluan" Mila mengangguk, motor mereka pun mulai berjalan melewati mobil Pajero putih, tepat di kaca kemudi Arvin mengulurkan jari tengah dengan senyum kemenangan.


"Rasain, tambah panas kan Lo. mmmm empuk" gumam Arvin dalam hati terus memeluk, bahkan kepalanya dia sandarkan di bahu mungil Laura.


Sedangkan di dalam mobil, Fiza mencengkram erat kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. tatapan tajam penuh kecemburuan, terus dia tujukan pada dua orang yang sedang berboncengan motor. ya, dialah orang yang Arvin ajukan jari tengah tadi.


"Si*al" umpat Fiza dengan nafas yang naik turun.


Drrrrtt Drrrttt


"Halo"


....


"Apa?"


....


"Saya ke sana sekarang"


*


*


*


Bersambung....


...MAAF AKU JARANG UPDATE, SIBUK DI REALπŸ™ TAPI AKU TETEP USAHAIN UP SETIAP HARI KOK. DOAIN AJA MOGA-MOGA OTAK KU NGGAK MAMPET πŸ˜„...


Dukung karya aku dengan cara πŸ‘‡


🌳 Like πŸ‘


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya πŸ₯°


🌳 VOTE


🌳 HadiahπŸ™ˆ

__ADS_1


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2