Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Bertemu Kembali


__ADS_3

Hembusan Angin yang sejuk menerpa kulit wajah wanita dan pria yang sedang duduk di bawah pohon rindang dekat taman kampus.


"Kita nggak sedekat itu pak Fiza yang terhormat! jadi maaf, saya permisi" tegas Laura melipatkan kedua lengan di depan dada, hendak bangkit.


"Kasih saya kesempatan" ucap Fiza memejamkan mata saat kalimat yang keramat itu keluar dari bibirnya.


"Makβ€”


"Kasih saya kesempatan untuk jadi...teman kamu" sambung Fiza sedikit berbohong di akhir kalimat. karena nyatanya, pria 28 tahun itu menyukai wanita di sampingnya sejak pertama wanita itu masuk kuliah.


Sudah sejak lama Fiza ingin mengungkapkan cintanya, namun di urungkan mengingat bahwa Laura anti pacaran. Fiza pun berusaha untuk mengubur dalam-dalam rasa itu, tapi semakin dia ingin melupakan, semakin besar pula rasa cintanya pada Laura. apa lagi setiap ada laki-laki yang berusaha mendekati Laura, hati Fiza terasa terbakar.


"Saya pikir-pikir dulu" jawab Laura beranjak pergi, meninggalkan Fiza di sana sendirian.


"Andai kamu tau Ra, di sini ada nama kamu" gumam Fiza memegang dada sambil menatap punggung Laura yang semakin menjauh. setelah itu, dia pun bangkit untuk melakukan tugasnya sebagai dosen.


****


Sekitar jam 12 siang, motor Laura sudah terparkir rapi di tempat parkiran. mata nya menyipit ke arah pintu di samping kost nya yang terbuka.


"Nak Laura udah pulang? Mila kemana?" seru buk Wati menghampiri, sambil membawa piring yang berisi bakwan hangat.


"Udah Buk, kan hari Jumat. kalo Mila tuh, di warung depan sama bang Febri" jawab Laura menunjuk ke arah pasangan yang sedang duduk mengobrol di warung.


"Oh iya, itu ada penghuni baru Buk?" sambung Laura menunjuk pintu kost di sebelahnya.


"Ho'oh...nggak berapa lama kalian berangkat kuliah dia dateng sama temennya naik mobil sport. kayaknya sih anak orang kaya, cuma ya nggak tau kenapa bisa ngekos di sini" Laura manggut-manggut mendengar perkataan buk Wati.


Sedangkan di dalam kost tepat nya di kamar mandi, terdengar suara desah*n laknat dari ponsel milik Arvin. membuat tangan yang sedang memanjakan anaconda semakin bergerak cepat. tidak berapa lama, lenguhan panjang pun menggema bersama deru nafas yang tidak teratur dari bibir Arvin.


"Tenang...untuk sementara waktu ini, kita main solo dulu oke!" ucap Arvin membasuh kepala anaconda nya yang mulai tertidur.


Setelah ritual mandi selesai, Arvin pun berjalan keluar dari kamar mandi yang menurutnya sangat sempit hanya dengan berbalut handuk sebatas pinggang hingga paha.


"Kayak nggak asing, tapi siapa?" gumam Arvin saat mendengar suara yang agak familiar di telinganya. karena penasaran Arvin pun berjalan ke arah jendela untuk melihat, sambil memakai celana.


"Ck... pantesan pernah denger, ternyata pemilik kost" gumamnya terkekeh.


Arvin kemudian membuka ponsel untuk menelpon nomor Alden yang sejak kemarin tidak aktif. Arvin berdecak kesal, lantaran nomor Alden lagi-lagi tidak bisa di hubungi. padahal dirinya ingin meminta tolong untuk mengantar makanan.


"Arrghhh ini semua pasti ulah Momy"


Di kamar kost sebelah


"Aku juga kangen banget sama Mama" ucap Laura tersenyum ke arah wanita paruh baya di layar ponsel.


"Pokoknya besok kamu harus pulang, Mama nggak mau tau!" tegas sang Mama

__ADS_1


"Iya Ma, habis kuliah aku pulang kok"


"Ya udah sana kamu makan, Mama matiin telpon nyaβ€”"


"Ehh tunggu dulu Ma, aku mau nanya sesuatu"


"Apa sayang?"


"Aku mau kerja paruh waktu, boleh kan?" tanya Laura menggigit bibir bawah, takut jika Mama nya menolak.


"Kalo nggak ganggu kuliah kamu, why not?" mata Laura berbinar terang mendapat jawaban positif dari orang tuanya.


"Aaahh Thanks Ma, aku berani jamin kalo kuliah nggak akan terganggu"


"Ya udah kalo gitu, Bye sayang"


Tut


Dengan perasaan yang gembira, Laura langsung meraih tas dan jaket denim yang tergantung di pintu kamar. dia akan menuju ke restoran di mana dirinya pernah melihat lowongan pekerjaan paruh waktu di sana. saat akan menutup pintu, Laura di kejutkan oleh orang yang kemarin membuat kepalanya terluka.


"Lo" pekik Laura dan Arvin bersamaan, mata mereka membulat sempurna menunjuk satu sama lain.


BRAK


"Ngapain Lo di sini?" Sentak Laura menggebrak pintu kost.


"Ini tempat kost gue!"


"Ini juga kost gue"


"Lo pasti buntutin gue, iya kan?" tuduh Laura menunjuk Arvin.


"Nggak usah kepedean! lagian nggak selevel buntutin cewek modelan ikan kering kayak Lo! nggak ada body sama sekali, jauh dari kriteria gue!" Sarkas Arvin begitu menohok hati Laura, baru kali ini dia di bilang ikan kering tak berbody oleh seorang pria.


"Lo makin lama makin nyolot ya. kemaren Lo bilang gue open BO, sekarang Lo ngehina badan gue. Lo pikir badan Lo bagus? sixpack? punya body? noh badan Lo kayak papan di warung, lurus!" maki Laura semakin membesarkan matanya. Arvin yang tidak terima langsung membuka baju, menunjukkan perut sixpack ke hadapan Laura.


"Nih yang Lo bilang nggak sixpack!" ucap Arvin menepuk-nepuk roti sobek, sesekali memperlihatkan otot-otot tangannya. membuat beberapa wanita yang melihat menjerit histeris karena kagum.


"Sekarang giliran Lo yang tunjukin ke gue. CK, tapi nggak usah lah, karena keliatan banget depan belakang tempos" cibir Arvin tertawa


"Brengsek!" teriak Laura meloncat, melewati pembatas beton.


"Arrghh" Arvin memekik kesakitan saat rambutnya di Jambak dengan sangat kuat oleh Laura. tidak tinggal diam, tangannya pun meraih rambut panjang Laura yang menjuntai.


"Aarrgghh, lepasin rambut gue si*al" teriak Laura kesakitan.


"Lepasin dulu rambut gue, baru gue lepas rambut Lo!" teriak Arvin semakin menarik rambut Laura hingga banyak rontok.

__ADS_1


Cukup lama keduanya saling menjambak rambut, sesekali Laura melesatkan kuku-kuku nya ke tubuh polos Arvin. suara teriakan yang bersahutan, sontak membuat beberapa warga dan pemilik kost datang.


"Udah Ra cukup" seru Mila berniat menarik tangan Laura, namun tangannya malah jadi sasaran kuku tajam itu. akhirnya jambak-menjambak itu pun berhenti, berkat ultimatum dari ketua RT.


"Ogah" jawab mereka berdua serempak saat mendengar akan di nikahkan jika tidak berhenti.


"Kenapa kalian malah berantem begini sih? dan kamu, kenapa nggak pake baju, huh?" cecar buk Wati menatap keduanya bergantian.


"Dia yang mulai Buk" jawab Arvin meringis, merasakan perih akibat cakaran Laura. kini wajah yang belum sembuh dan tubuhnya yang putih sudah di penuhi banyak cakaran.


"Enak aja, Lo yang duluan body shaming ke gue" bentak Laura tidak terima.


"Emang kenyataan kan?" saut Arvin tersenyum sinis. tiba-tiba...


"Apa Lo bilang?"


BUGH


Mata Laura dan semua orang langsung membola melihat seseorang yang tiba-tiba datang memukul Arvin hingga tersungkur.


*


*


*


Bersambung....


Dukung karya aku dengan cara πŸ‘‡


🌳 Like πŸ‘


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya πŸ₯°


🌳 VOTE


🌳 HadiahπŸ™ˆ


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐



Laura Hendrik



Arvin Indorto

__ADS_1


__ADS_2