Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Fobia


__ADS_3

Laura terbelalak ketika merasakan dahi dan juga lengan Arvin yang terasa sangat panas. tidak hanya itu, wajah serta bibirnya terlihat sangat pucat pasi seolah tidak ada darah yang mengalir. sontak saja Laura segera memeriksa denyut nadi Arvin, siapa tahu kan dia sudah meninggal.


"Huufftt masih hidup" gumam Laura mengusap dada, kemudian merogoh ponsel di tas untuk menelpon sepupu yang berprofesi sebagai dokter di Bandung.


"Halo ada apa Ra?" πŸ“²


"Kak tolong dateng ke kost sekarang, urgent"


"Kaβ€”πŸ“²


Tut


Belum sempat dokter itu berbicara, Laura sudah lebih dulu mematikan sambungan secara sepihak. dia tidak perduli jika dokter yang di ketahui bernama Santi itu mengoceh, yang terpenting sekarang adalah nyawa suami kontrak nya. wah ternyata bukan hanya rumah yang ngontrak, tapi suami pun bisa ngontrak ckckck.


Tidak ingin berdiam diri menunggu kedatangan dokter, Laura berinisiatif memasak air hangat di dapur guna mengompres dahi Arvin agar demam nya sedikit berkurang.


"Enngghh Mom, Momy! sakit" rancau Arvin mendesis. Laura yang datang membawa air hangat dan handuk kecil merasa bersalah, sebab bagaimanapun juga dia yang andil dalam kesakitan yang di rasakan Arvin. dari mana Laura tahu? ya karena saat Arvin mengatakan sakit, tangannya memegang area anaconda berada.


"Mau telepon Mom Keyla?" seru Laura berbisik dengan tangan yang mulai mengompres dahi. jujur saat ini dirinya antara ingin tertawa dan iba melihat Arvin yang terus bergumam mengulangi kalimat yang sama.


Merasakan sesuatu yang hangat menempel di kulit, memaksa Arvin membuka matanya yang terasa berat. senyuman terbit di bibir ketika samar-samar melihat kehadiran Mom Keyla di sini.


"Mom" lirih Arvin dengan suara yang lemah, meringsut ke pangkuan Laura yang dia kira mom Keyla. sontak hal itu membuat sang empu terkejut, reflek mengangkat paha hingga kepala Arvin terbentur lantai dengan cukup keras.


"Aww Mom sakit" Arvin meringis mengusap kepalanya.


"Mam mom mam mom, gue bukan Momy Lo!" kata Laura sedikit ketus. Arvin mengucek mata, berusaha memperjelas penglihatan nya.


"Ck... ternyata Lo" cibir Arvin berdecak, membungkus seluruh tubuhnya di bawah selimut. rasanya enggan melihat orang yang sudah membuat seorang pria tampan sepertinya sekarang jatuh sakit.


"Sorry" cicit Laura hampir tidak terdengar oleh Arvin yang mengintainya di balik bolongan kecil selimut.


"Giliran udah demem begini baru minta maaf" ketus Arvin berbalik memunggungi Laura masih dengan posisi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Yang penting kan udah minta maaf"


"Tapi Lo kepaksa"


"Terserah! gue mau berangkat dulu"


"Eh Lo mau kemana?" tanya Arvin mencekal tangan Laura yang hendak beranjak.


"Ke kampus lah, nggak mungkin ke warung Ogeb" jawab Laura melepas cekalan tangan.

__ADS_1


"Terus gue gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, Lo kan sakit nggak mungkin kuliah kan?"


"Nggak! Lo harus tanggung jawab jagain gue sampe sembuh, titik no koma!" tegas Arvin membuat mata Laura terbelalak.


"Ogah, gue mau kuliah!"


"Pokoknya Lo harus jagain gue" tekan Arvin menatap tajam


"Nggak!" tegas Laura juga menatap Arvin tak kalah tajam.


"Harus!"


"Nggak!"


"Nggak!"


"Harus"


Laura menutup mulut saat menyadari ucapannya barusan, sedangkan Arvin menyeringai karena berhasil menjebak Laura dalam kata-kata nya sendiri.


"Sekali enggak, tetep enggak!" Laura bangkit berjalan bersiap pergi kuliah tanpa menghiraukan teriakan Arvin.


"Astaga kak Santi!" pekik Laura terkejut melihat kehadiran dokter Santi di depan pintu.


"Ohh jadi kamu ngerjain kakak huh?" omel dokter Santi menarik telinga Laura yang merupakan adik sepupunya. dia sangat kesal lantaran merasa di kerjai, buktinya sekarang dia baik-baik saja.


"Aw aw kak Santi lepasin, dengerin dulu penjelasan aku" pinta Laura berusaha melepas Capitan tangan kakak sepupu nya.


"jelasin apa lagi huh? jelasin bahwa kamu cuma bercanda seperti alasan kamu kemaren-kemaren?" omel Santi masih tetap di posisi yang sama.


"Bukan kak, makanya lepasin dulu" karena penasaran, akhirnya dokter Santi melepaskan tangan dari telinga Laura yang kini sudah memerah.


"CK...nggak punya perasaan" sindir Laura mengusap telinganya.


"Biarin,,cepet jelasin" desak dokter Santi membuat bibir Laura mencebik.


"Bukan aku yang sakit, tapi yang di dalem" jawab Laura membuka pintu lebar-lebar. dokter Santi menatap tak percaya melihat seorang pria tampan berada di dalam kontrakan adik sepupunya ini. apakah mereka? pikiran dokter Santi pun melayang, membayangkan apa yang di lakukan Laura dengan pria itu.


"Laura kamβ€”


"Dia suami aku" sela Laura yang tau arah pikiran kakak sepupunya sekarang.

__ADS_1


"WHAT?" pekik Santi menutup mulut saking terkejutnya mendengar pengakuan Laura. kapan? dimana? kenapa dia tidak tau mengenai hal sebesar ini? begitu banyak pertanyaan yang memenuhi otak Santi.


"Entar aku ceritain, sekarang buruan periksa dia dulu" ucap Laura kembali berjalan masuk menghampiri Arvin yang kini tersenyum sumringah, namun senyum itu luntur ketika melihat siapa yang mengekor di belakang Laura.


"Kenalin kakak sepupu aku, dia yang bakal periksa kamu" ucap Laura memulai drama romantis.


"Sayang aku nggak papa, jadi nggak usah di periksa ya" pinta Arvin tersenyum kaku, telapak tangannya tiba-tiba keringat dingin. sungguh dia benar-benar tidak mau jika harus berurusan dengan dokter, terutama pada jarum suntik. ya, Arvin mempunyai fobia terhadap jarum suntik ketika salah seorang dokter yang bertugas menyuntikan imunisasi campak kepadanya saat masih kelas satu SD tidak sengaja patah, mengakibatkan nyeri yang luar biasa. hingga akhirnya tindakan operasi pun dilakukan untuk mengangkat jarum yang tertinggal di lengan nya.


"Pokok nya kamu harus di periksa!" tegas Laura yang tidak menyadari raut kekhawatiran di wajah Arvin saat ini.


Setelah memeriksa seluruh tubuh, dokter Santi beralih mengambil jarum suntik dan botol kecil yang berisi cairan obat untuk di suntikkan ke salah satu lengan Arvin.


"Nggak! jauhin benda itu dari gue! jauhin" bentak Arvin histeris, membuat Laura menatap aneh tapi tidak dengan dokter Santi.


"Oke oke tenang dulu, saya nggak nyuntik kamu kok" ucap Santi yang yang mulai memahami penyebab Arvin histeris seperti ini.


"Ra minta air putih" sambung Santi, langsung di jawab anggukan kepala oleh Laura.


"Nih kak" Laura menyerahkan segelas air putih


"Kasih ke suami kamu, dia harus minum obat"


Dengan telaten Laura menyerahkan satu persatu butir obat ke tangan Arvin. walaupun pernikahan mereka hanya kontrak, tapi mereka saat ini tetap lah suami istri yang sah di mata hukum dan agama. setelah itu, Laura dan dokter Santi pun masuk ke dalam kamar guna membicarakan perihal pernikahan yang mereka lakukan serba dadakan.


*


*


*


Bersambung.....


Dukung karya aku dengan cara πŸ‘‡


🌳 Like πŸ‘


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya πŸ₯°


🌳 VOTE


🌳 HadiahπŸ™ˆ


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2