
Bau disinfektan langsung menusuk hidung seorang pria yang baru memasuki ruangan VIP, terlihat di sana terbaring sosok wanita paruh baya dengan tubuh yang di penuhi banyak alat medis. perlahan pria itu melangkah mendekat dan duduk di samping brankar.
"Mama" ucap pria itu menatap nanar wajah pucat wanita yang melahirkannya ke dunia. "Maaf kalo belakangan ini aku jarang nemenin Mama disini. jangan marah ya, nanti cantiknya hilang" dia tertawa kecil namun kedua matanya mengeluarkan cairan bening.
"Mama tau, hati ku sekarang sakit Ma. sakit liat kondisi Mama, sakit harus—" Fiza tidak melanjutkan kalimat, mengingat wajah wanita yang sudah bersemayam di dalam hatinya belakangan ini. "Maaf Ra"
Ya, Fiza yang seharusnya bersama Laura kini sedang berada di rumah sakit. bukan karena lupa atau sengaja tidak ingin bertemu, namun tepat ketika dirinya membuka pintu mobil seseorang yang beberapa jam lalu memukulnya tiba-tiba muncul hingga terpaksa membatalkan pertemuan dengan Laura.
Saat itu Aldi memperlihatkan sebuah video dimana alat medis yang membantu hidup mama nya di lepas. alat itu akan terpasang kembali dengan syarat asalkan Fiza berhenti mengejar Laura, wanitanya. tentu saja sebagai anak Fiza langsung saja setuju. apalagi sejak sang Mama koma akibat kecelakaan 10 tahun lalu, keluarga Aldi lah yang membiayai seluruh perawatan dan juga sekolah nya, mengingat mereka bukanlah orang yang berada.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Fiza, dalam sekejap suhu ruangan langsung berubah saat mata kedua pria jangkung itu saling bertatapan dengan tajam.
"Apa lagi?" tanya Fiza tanpa ekspresi pada sahabat atau sekarang bisa di bilang sebagai musuh.
"Anda tau sendiri saya dokter di sini dan tentu kedatangan saya untuk memeriksa keadaan pasien" jawab Aldi tersenyum lebar.
"Cih...langsung ke inti maksud kedatangan Lo kesini"
Mendengar kalimat sinis tersebut, Aldi tertawa tanpa suara sambil berjalan mendekat. "Gimana kabar nyokap ah salah...maksudnya, bibi ku tersayang" Aldi mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Irma namun segera di tepis oleh Fiza.
"Jangan sentuh Mama gue!" tegas Fiza menggertakkan gigi. jika dia tidak memikirkan posisinya saat ini, mungkin dia akan menghajar Aldi tanpa ampun.
"Wow tenang, nggak akan gue apa-apain asalkan Lo masih inget kesepakatan kita tadi" bisik Aldi menyeringai kemudian berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Ruang rawat VIP itu kembali sunyi, hanya ada suara alat-alat medis. Fiza kembali duduk menggenggam jemari sang Mama, seolah membantu mengurangi tekanan yang sekarang dia alami.
"Tunggu! darimana dia tau kalau aku suka sama Laura?" kening Fiza berkerut menyadari hal ini. kecuali satu hal, Aldi mengirimkan mata-mata untuk mengawasinya selama ini.
__ADS_1
*
*
*
Saat baru membuka pintu Laura tertegun ketika melihat sosok yang sejak tadi malam dia hindari kini sudah berada di dalam kamarnya. ya, semalam setelah sampai di rumah Laura segera mengunci pintu kamar agar Arvin tidak bisa masuk. dia tidak ingin sampai tetangga bangun di tengah malam karena keributan akibat dirinya lepas kendali dengan menghajar habis-habisan atas apa yang telah di perbuat oleh bajingan tengil itu.
Seolah tidak ada siapapun di dalam kamar, Laura kembali melanjutkan aktivitas pagi hari. walaupun ada sedikit rasa risih karena sejak tadi sepasang mata terus menatapnya tanpa henti dari pantulan kaca. setelah di rasa penampilannya sudah rapi, Laura meraih tas beserta laptop bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Kemana?" tanya Arvin menahan pintu yang baru terbuka sedikit.
"Bukan urusan Lo!" ketus Laura menepis tangan yang menahan pintu.
Brak
"Gue sebagai suami berhak tau semua urusan Lo, jadi jawab?!" Bentak Arvin menggebrak pintu dengan sangat kuat, membuat Laura mundur satu langkah. mungkin jika yang ada di posisi nya saat ini seorang lansia, maka dapat di pastikan orang tersebut meninggal di tempat.
"Sepagi ini, Lo pikir gue percaya?" Arvin terkekeh sinis
"Terserah" ucap Laura malas meladeni omongan yang menurutnya tidak jelas. "Seharusnya kan gue yang marah, kenapa malah kebalik" batin Laura berdecak kesal.
Baru saja berjalan dua langkah, Laura langsung merasakan tubuhnya melayang. "Awh, Arvin Lo gila!" maki Laura karena pria itu tiba-tiba menggendong dan menghempaskan tubuhnya dengan cukup keras di atas kasur. untung saja empuk, bagaimana kalau tidak? tulangnya bisa patah kan.
"Iya gue gila dan itu karena Lo!" bisik Arvin menghimpit tubuh wanitanya.
"Vin Lo mau apa, lepasin gue" Laura berusaha keras mendorong tubuh Arvin, namun tenaganya kalah kuat apalagi sekarang kedua tangannya terkunci menjadi satu di atas kepala.
"Nggak akan sebelum semua yang ada di tubuh Lo jadi milik gue" mata Laura melotot, dia tau betul maksud dari ucapan Arvin yang artinya harus menyerahkan mahkota miliknya sekarang juga.
__ADS_1
Belum sempat Laura menolak, perkataannya langsung tertelan begitu benda kenyal dan basah meraup bibirnya dengan buas. "Gue mohon jangan sekarang Vin" pinta Laura ter-engah setelah ciuman yang cukup panjang.
"Kenapa? Apa Lo pikir gue nggak sehebat sialan itu untuk bikin Lo puas?" sindir Arvin sambil menekan inti Laura yang masih berbalut celana kulot.
"Maksud Lo apa huh?" Laura mengernyit bingung
"Lo tau persis apa maksud gue!" tanpa aba-aba, Arvin langsung kembali menyatukan bibi mereka. bahkan dia dengan ganas merobek baju yang di kenakan Laura hingga kini polos tanpa sehelai benangpun. melahap rakus dua gundukan kenyal yang lumayan berisi, tanpa mengindahkan suara wanita yang sejak tadi meronta untuk di lepaskan.
"Vin aaaakkhhhh, cukup!ini sakit!" teriak Laura menangis mencengkram erat kasur ketika Arvin memaksa sesuatu di bawah sana menerobos masuk intinya secara kasar.
Seolah tidak mendengar, Arvin terus bergerak di atas tubuh wanita yang sedang menangis terisak. namun semakin lama suara tangisan itu berubah menjadi des***n merdu, yang mana semakin membuat Arvin bersemangat.
*
*
*
*
Bersambung.....
Yuk dukung karya ku dengan cara😍
🤍Like
🤍 Komen
🤍 Fav/Subscribe
__ADS_1
🤍 Hadiah/Vote sebanyak-banyaknya 😻