Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Gempa Lokal


__ADS_3

"Dia siapa? kayak pernah liat tapi dimana ya" Mila memicingkan mata, meneliti pria tampan yang sedang berdiri di depan pintu kost sahabatnya.


"Permisi an—" belum selesai bicara, sebuah tangan kekar lebih dulu menutup mulut Mila.


"Kita pergi dulu dari sini" pria itu segera menarik tangan Mila menjauh sebelum suara dari dalam sana kembali terdengar. jika wanita biasanya merasa risih di tarik oleh pria asing, Mila justru malah membalas genggaman pria tampan di sampingnya.


"Maaf, gue nggak bermaksud" ucap nya melepaskan tangan setelah sampai di parkiran.


"Ada maksud juga nggakpapa kok" cicit Mila pelan namun masih bisa di dengar "Oh iya, kenapa Lo narik gue kesini dan tadi—?"


"Kenalin gue Syafi sahabat Arvin. gue kesini ada urusan, tapi mendadak ada—something jadi sekalian bawa Lo kesini" jelas Syafi berharap wanita yang di ketahui sahabat dari istri Arvin sekaligus wanita yang sempat mencuri perhatiannya beberapa waktu lalu di pesta pernikahan mengerti.


"Lah, apa hubungannya sama gue?"


"itu—" Syafi jadi bingung bagaimana mengatakan situasi tadi pada wanita di hadapannya. tidak mungkin bukan dia bilang bahwa tadi mendengar suara percintaan suami istri?


"Jelas-jelas cuma modus, pake cari alasan segala" gerutu Mila memilih kembali menemui Laura, sahabatnya itu semalam mengatakan akan mengajak pergi ke suatu tempat pagi-pagi sekali. namun sejak tadi dia menunggu, Laura tidak kunjung datang bahkan nomornya saja tidak aktif.


Saat Mila baru mengayunkan tangan untuk mengetuk pintu, suara erotis dari dalam sana lebih dulu menyapa gendang telinga. Mila tertegun, kembali menajamkan pendengarannya dengan menempelkan langsung telinga di dekat pintu. "Si*l!"


Ingin sekali Mila meneriaki sepasang suami istri di dalam sana untuk mengecilkan volume percintaan merekq. apa mereka pikir tempat kost ini kedap suara sehingga mereka sesuka hati mengeluarkan suara-suara seperti itu? dia yang mendengarnya saja merinding apalagi orang yang tinggal bersebelahan dengan mereka. inilah yang dinamakan dunia milik berdua, yang lain hanya ngontrak.


"Pantesan temen Arvin bawa lari gue, ternyata—ckckck" Mila membayangkan jika saja Laura tau maka dapat di pastikan saat ini juga dia segera pindah ke tempat kost yang lain.


"Kan tadi gue udah bilang, Lo aja yang nggak percaya"


"Astaga! Lo ngagetin" Mila memekik kaget melihat Syafi yang entah sudah sejak kapan berada di sampingnya. "Sejak kapan Lo di sini?"


"Sejak tadi" sontak saja jawaban Syafi membuat kedua pipi Mila merona merah. itu berarti Syafi juga ikut mendengar apa yang dia dengar.


Mila bedehem menghilangkan kegugupan "oh kalo gitu ya udah. sana Lo pergi, ngapain juga ngikutin gue"


"Tunggu, Lo mau kemana?" Syafi menahan tangan Mila.

__ADS_1


"Ya mau masuk ke dalem lah" ketus Mila menunjuk pintu di sampingnya.


"Gue ikut ya" syafi kembali meralat perkataan sebelum wanita di hadapannya salah paham. "gue cuma numpang duduk sampai nanti Arvin keluar" sebenarnya Syafi bisa saja menunggu di dalam mobil, tapi dia ingin mengambil kesempatan ini untuk bisa dekat dengan wanita di hadapannya.


Mila berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju "Oke, tapi awas kalo Lo sampai macem-macem!" mendengar jawaban Mila membuat Syafi tersenyum senang.


*


*


*


Sementara itu, ruangan yang sempat di landa gempa lokal sekarang kembali tenang. baik Laura maupun Arvin kini tengah menatap langit-langit kamar tanpa ada yang mengeluarkan suara.


Setelah cukup lama terdiam, Arvin menoleh ke samping di mana wanita yang barusan dia rebut kesuciannya tengah berbaring memunggunginya. ada rasa bangga namun ada juga rasa bersalah mengingat adegan dirinya yang begitu kesetanan menggempur tubuh Laura tanpa ampun.


"Maaf" ucap Arvin tanpa berani menyentuh, dia yakin betul kalau sekarang wanitanya sedang menangis. ya wanitanya, Arvin sudah memutuskan untuk menjadikan Laura wanita satu-satunya dan tidak akan dia lepaskan.


Sedangkan Laura yang mendengar suara permintaan maaf dari belakang enggan untuk menjawab. sikap Arvin barusan benar-benar membuatnya kecewa. walaupun ini kewajiban sebagai istri namun andaikan dia meminta dengan cara baik-baik maka mungkin Laura akan memberikannya dengan senang hati.


Jantung Laura berdetak kencang saat kalimat yang terdengar tulus itu keluar dari bibir Arvin, suaminya. saat berbalik, pandangan mereka langsung bertemu dan itu semakin membuat hati Laura kacau.


"Kenapa? kenapa lakuin ini ke gue" tanya Laura dengan suara sedikit tercekat.


"Dan kenapa kamu bohong"


"Maksud Lo?"


"Aku tau kamu bukan pergi kerja tapi ketemuan sama Fiza kan?" Arvin kembali mengingat saat dia mengikuti Laura kemarin. hatinya terasa panas, dia merasa telah di bohongi oleh wanita untuk kedua kalinya. maka dari itu Arvin melampiaskan amarah dengan sengaja mendekati Rere dan pagi ini amarah itu meledak saat dia mengira Laura berpakaian rapi untuk kembali menemui Fiza.


Deg


"Ternyata kemarin Lo ngikutin gue?" Laura terkejut dengan apa yang barusan dia dengar. pantas saja sikap Arvin sejak di kafe kemarin sangat membuatnya kesal.

__ADS_1


"Padahal sebelumnya kita udah sepakat untuk belajar menerima satu sama lain, tapi..." Arvin menertawai kisah cintanya yang gagal untuk kedua kali. "Mendingan kita akhiri semuanya sekarang, aku akan urus surat—"


Arvin tertegun merasakan benda kenyal kesukaannya menempel di bibir. bukan hanya menempel, bahkan benda kenyal itu perlahan terbuka dan ******* lembut bibirnya.


"Beraninya Lo bahas soal cerai setelah apa yang Lo lakuin barusan?" lirih Laura dengan nafas yang tersengal setelah tautan bibir keduanya terlepas. sungguh, hatinya terasa sakit saat kata perpisahan hampir saja terucap dari bibir pria yang baru saja merebut kesuciannya.


"Asal Lo tau, Gue denger semuanya waktu Lo telponan sama Syafi. maka dari itu gue ketemuan sama Fiza untuk cari tau semua tentang Cherry dan gue sama sekali nggak berniat untuk bohongin Lo" suara Laura terdengar sedikit bergetar, terlihat jelas dia berusaha untuk tidak menangis. "Tapi Lo malah giniin gue"


"Sayang" Arvin beringsut mendekat, meraih tubuh polos sang istri masuk ke dalam pelukan. "Maaf, semua ini salah aku"


Bugh


Sebagai pelampiasan amarah, Laura melayangkan pukulan di dada polos Arvin "Lo suami brengs*k! Lo udah nyakitin gue, gue benci sama Lo"


Arvin hanya diam membiarkan tubuhnya di jadikan samsak tinju oleh wanita yang sudah ia sakiti. karena dirinya lah awal mula terjadi kesalahpahaman, namun di balik itu semua Arvin merasa bangga sebagai seorang suami yang pertama kali membuka segel kehormatan sang istri.


*


*


*


*


Bersambung.....


Yuk dukung karya ku dengan cara😍


🤍Like


🤍 Komen


🤍 Fav/Subscribe

__ADS_1


🤍 Hadiah/Vote sebanyak-banyaknya 😻


__ADS_2