Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Label Halal


__ADS_3

...Saya Terima Kawin Dan Nikah...


...Laura Hendrik Bin Kenzo Hendrik...


Arvin menghela nafas kasar karena kesal, bagaimana tidak? jika sudah dua kali dirinya melakukan kesalahan dalam pengucapan Ijab qobul.


"Relax, jangan tegang Vin" ucap Ben menepuk pundak anaknya. Arvin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan sebelum memulai kembali ijab kabul.


...Saya Terima Nikah Dan Kawin nya...


...Laura Hendrik Binti Kenzo Hendrik...


...Dengan Mas Kawin Uang Tunai 200 Ribu Rupiah...


...Di Bayar TUNAI...


"Bagaimana para saksi?"


"SAH!"


"Alhamdulillahi Robbil 'Alamin"


"Nak Laura silahkan cium tangan suami" titah penghulu yang langsung di laksanakan oleh Laura. tidak ada raut bahagia di wajahnya, kecuali Arvin.


Cup


"Giliran nak Arvin yang cium kening istrinya" sambung penghulu memberi instruksi.


Cup


"Nggak usah sok romantis, gue jijik" bisik Laura menekan kata terakhir tepat di wajah Arvin.


What? jijik? wah bener-bener nih anak, tanpa aba-aba Arvin langsung menyambar bibir Laura, hingga membuat orang-orang yang berada di sana langsung melempar pandangan ke arah lain. sungguh, definisi manusia yang putus urat malu.


"Masih mau?" goda Arvin manaik turun kan alisnya.


Wajah Laura memerah menahan malu dan kesal. jika saja tidak ada orang lain di sini, dapat dia pastikan kaki Arvin berada di atas sedangkan kepala di bawah. setelah menandatangani surat-surat nikah, mereka sekeluarga segera pergi dari gedung KUA menuju kediaman Raharja.


****


Bruk


"Akhirnya kita ketemu lagi" gumam Arvin berguling-guling di ranjang king size yang baru satu minggu ini dia tinggalkan. Laura memilih pergi ke balkon dari pada melihat apa yang di lakukan Arvin dengan kasur kesayangannya.


Drrrttt Drrrrtt


Senyuman manis merekah di wajah Laura, saat melihat nama panggilan yang muncul di layar ponselnya.


"Halo Fiz" sapa Laura


"Kamu di mana? kenapa nggak kuliah? kamu sakit?" cecar Fiza yang terdengar khawatir.📲


"Emmtt itu, a-aku ada urusan mendadak makanya nggak kuliah" jawab Laura sedikit gugup.

__ADS_1


"Seriously?"📲


"Iya serius"


"Terus sekarang urusan kamu udah Selesai?" tanya Fiza di seberang📲


"Emangnya kenapa?"


"Aku mau ketemu sama kamu, bisa?"📲


"Bisa-bisa, nanti aku kirim alamatnya"


"Ya udah, aku tutup dulu ya mau ngajar"📲


Tuth


Laura menghela nafas panjang, hatinya dilema sekarang. apakah harus memberitahu kepada Fiza bahwa dia telah menikah atau diam menutupi ini semua yang entah sampai kapan.


"Di cari dari tadi ternyata di sini" seru Arvin tiba-tiba mengejutkan Laura.


"Bisa nggak sih, nggak usah ngagetin kayak setan" sentak Laura mengusap dada nya yang berdegup kencang.


"Bodo amat, mending Lo ikut gue sekarang"


"Mau ngapain Lo?" sentak Laura saat Arvin menarik tangannya ke arah ranjang.


"Menurut Lo?" tanya Arvin menaikkan sebelah alisnya.


"Udah label halal, why not?"


"Ya tetep aja nggak bisa!"


"Eh sekalipun Lo telanjang di sini, gue nggak akan nafsu sedikit pun. anaconda gue bisa nangis kalo masuk ke lembah yang cuma tulang doang, nggak ada enak-enak nya. Level gue tinggi, jadi jangan kepedean" sarkas Arvin masih dengan tawa yang menggema. tangan Laura terkepal erat, hatinya terbakar mendengar kalimat ejekan dari mulut laknat pria yang sialnya sekarang berstatus sebagai suaminya.


"Nih tanda tangan" Arvin menyerahkan selembar kertas dan pulpen ke hadapan Laura.


"Kontrak?" beo Laura mengernyit alis.


"Iya! kita bakal cerai setelah masa kontrak itu habis. tapi Lo tenang aja, selama tiga bulan itu gue nggak akan nyentuh Lo sedikit pun. alasannya nggak perlu gue sebutin lagi kan?" ucap Arvin bersandar di tembok dengan tangan yang menyilang di depan dada.


"Kalo masih sayang sama gigi Lo, jangan coba-coba ngehina fisik gue lagi!" tegas Laura, mulai mendandatangi surat kontrak tanpa ekspresi apa pun.


"Inget! kita harus pura-pura romantis di depan semua orang, biar mereka nggak curiga" ucap Arvin memperingati, sambil menyimpan surat yang sudah di bubuhi tanda tangan Laura.


"Lo Bolot apa gimana huh? mau romantis atau enggak, kalo ujung-ujungnya pisah tetep aja kebongkar gobl*ok!" ketus Laura berlalu keluar kamar.


"Bener juga, tapi— eh tunggu!" Arvin berlari menyusul Laura


"Sayang pelan-pelan, nanti kamu jatoh" ucap Arvin merangkul bahu Laura saat di pertengahan tangga.


"Salah Bolot, bukan bahu yang di rangkul tapi pinggang gue. Lo pikir gue penyakitan Lo rangkul di bahu" gerutu Laura mengubah posisi tangan Arvin ke pinggang nya.


"Tulang pinggang Lo kerasa njir, nggak enak" bisik Arvin membuat Laura mendengus kesal.

__ADS_1


"Jangan di rasain gobl*ok! Lo mau gue patahin sekarang, huh?" ancam Laura mencubit kuat perut Arvin hingga memekik kesakitan.


"Aakhh"


"Kenapa Vin?" tanya Opa Riyadi


"Biasa Opa, urusan ranjang belum selesai makanya dia ngambek" jawab Arvin seenaknya, mengusap bekas cubitan Laura yang sangat sakit.


"Tapi kok aneh ya" celetuk grandma Lisa


"Aneh gimana Grandma?" tanya mom Keyla


"Ya aneh aja, masa baru ketemu sekian tahun udah romantis. apalagi kalian sendiri yang bilang, kalo mereka nikah aja di paksa" jawab grandma


"Maka dari itu kita berusaha untuk nerima satu sama lain sekarang, iya kan sayang" Arvin merangkul pinggang Laura, meminta pendapat padanya.


"Iya semuanya, kita berdua sepakat untuk mulai menerima dan menjalani pernikahan ini" Laura maupun Arvin bernafas lega melihat semua di sana mengangguk.


Tidak lama kemudian, hadir seorang desainer terkenal membawa beberapa gaun serta jas untuk pesta pernikahan yang akan di selenggarakan besok lusa di hotel mewah milik keluarga Raharja. entah di sengaja atau tidak, Arvin terus menolak setiap gaun yang di coba Laura dengan berbagai alasan. mulai dari warna gaun, bentuk yang kurang seksi, kebesaran, tidak cocok dan lain sebagainya. padahal menurut Mama dan Momy mertua, gaun yang di kenakan nya sudah sangat cocok.hingga pilihan Laura jatuh ke gaun putih yang di penuhi mutiara, masa bodoh dengan pendapat Arvin.


Hari sudah semakin sore, Laura memenuhi janjinya dengan Fiza yang akan bertemu di taman tidak jauh dari kost. sekarang mereka berdua sedang duduk di kursi taman yang menghadap langsung ke arah danau.


"Ra" seru Fiza membuka suara setelah lama mereka diam.


"Will you be my girlfriend?" tanya Fiza meraih dan menggenggam lembut tangan Laura.


DEG


Jantung Laura berdegup kencang mendengar ucapan Fiza. ingin mengatakan ya, tapi dia sadar diri dengan status nya sekarang. walaupun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak selama tiga bulan.


"Za, mendingan kamu cari perempuan lain yang lebih baik dari aku" jawab Laura tanpa melihat wajah Fiza.


"Nggak! aku nggak bisa cari perempuan lain selai. kamu Ra, aku cin—"


"Kamu harus bisa Za, karena aku udah nikah!" bentak Laura bersama lelehan bening yang mengalir di kedua pipinya.


*


*


*


Dukung karya aku dengan cara 👇


🌳 Like 👍


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰


🌳 VOTE


🌳 Hadiah🙈


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2