Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Tamparan


__ADS_3

Mila yang sejak tadi menyaksikan keributan wanita yang di ketahui masa lalu Arvin, tangannya sudah terasa gatal ingin memberi pelajaran. namun apalah daya dia tidak bisa ikut campur dalam permasalahan mereka.


"Dasar ulet keket, kalo gue jadi Laura udah gue enyek-enyek tu muka" Mila terus menggerutu, tangannya tanpa sadar mencubit pinggang sang kekasih.


"Akhh Dek sakit" pekik Febri mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Astaga Bang, maaf Adek nggak sengaja" ucap Mila merasa bersalah telah membuat sang kekasih kesakitan. "Habis nya aku kesel banget sama dia"


"Ya tapi jangan badan Abang juga jadi pelampiasan"


"Iya bang, namanya juga khilaf kok" ketus Mila memanyunkan bibir. wajahnya melengos ke arah lain dan saat itu dia melihat seseorang yang turun dari mobil Pajero Putih.


"Pak Fiza?...Wah ini nggak bener, bisa tambah kacau kalo kayak gini" gumam Mila berlari kecil menghampiri Fiza. dia tau kalau dosennya itu suka dengan Laura walau tau statusnya sudah menjadi istri orang lain. jika dia tau permasalahan saat ini, Mila yakin jika Fiza akan mengambil kesempatan untuk menghasut Laura agar meninggalkan Arvin.


"Tunggu, bapak ngapain ke sini?" cegah Mila berdiri di depan Fiza.


"Minggir" ucap Fiza dengan suara berat


"Enggak! Sebelum bapak jawab pertanyaan saya, saya nggak akan biarin bapak maju sedikitpun" sebenarnya tangan Mila sekarang sudah berkeringat dingin, melihat raut wajah pria yang berstatus sebagai dosennya tampak datar tanpa ekspresi.


Fiza yang geram pun mendorong tubuh Mila ke samping hingga terhuyung beberapa langkah. dia tidak perduli mau jatuh atau tidak, yang terpenting sekarang ini adalah kondisi wanita pujaannya. suara jeritan serta hantaman benda keras, menyapa gendang telinga Fiza.


DEG


"Laura!" teriak Fiza membelalakkan mata melihat aksi Cherry yang melempar kursi plastik, namun untung nya Laura maupun Arvin menghindar sehingga kursi tersebut menghantam dinding.


Mendengar namanya di panggil, Laura seketika menoleh begitu pula dengan Cherry. mata Cherry membola melihat siapa yang datang, bagaimana bisa pria ini menemukan nya secepat ini?


"Cukup Cherry, jangan gila kamu!" bentak Fiza secepatnya menarik tangan Cherry yang ingin kembali melemparkan vas bunga kecil yang terbuat dari kaca.


"Lepasin aku kak! aku mau ngebunuh perempuan murahan itu! dia udah ngerebut Arvin, hanya aku yang boleh sama Arvin!" teriak Cherry memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Fiza yang mulai membawanya pergi dari sana.


"Aku bilang lepas! dia harus mati, di harus mati! biarin aku ngebunuh dia sekarang kak!"

__ADS_1


PLAK


Sebuah tamparan keras seketika membuat Cherry terdiam. pipinya berdenyut, terasa sangat panas bahkan cap lima jari tangan Fiza menempel cantik di wajahnya. ya, Fiza sangat tidak suka dengan kata-kata yang barusan di lontarkan Cherry pun, jadi hilang kendali hingga melayangkan tamparan yang belum pernah dia berikan kepada wanita.


"Jangan pernah ngucapin kalimat itu lagi! karena sampai kapanpun saya nggak akan biarin itu terjadi" bisik Fiza memberi tatapan tajam. "Sekarang Pulang!" sambil memegang pipi, mau tidak mau Cherry mengikuti perkataan Fiza. setelah itu, mobil pun melesat meninggalkan area kost menuju ke suatu tempat.


Di depan kost, orang-orang yang tadinya berkerumun perlahan membubarkan diri melanjutkan aktivitas pagi. begitu pula dengan Arvin dan Laura yang sudah masuk ke dalam kost sambil membawa barang belanjaan yang sempat tercecer akibat kejadian tadi.


Arvin duduk di meja dapur, memperhatikan Laura yang sedang mengiris wortel. entah apa yang ada di dalam pikiran nya sekarang, yang jelas Laura jadi salah tingkah sehingga tangannya tidak sengaja tersayat oleh pisau yang lumayan tajam.


"Sshhh"


"Ehh Lo ngapain" pekik Laura kaget ketika Arvin memasukkan tangannya yang terluka ke dalam mulut. Arvin terus menghisap jari telunjuk yang terluka itu, hingga di rasa darahnya sudah berhenti barulah Arvin melepaskannya.


"Lo mikirin apaan? apa wortelnya kurang, sampe tangan Lo juga di iris?" Laura hanya diam mendapat Omelan dari Arvin, dia juga tidak tau kenapa bisa jadi seperti ini.


"Ayo gue obatin" Arvin menarik tangan Laura ke ruang tamu.


"Itu kata Lo, kalo infeksi gimana? mau jari Lo di amputasi? udah ayo" malas berdebat, akhirnya Laura hanya bisa menurut.


"Siapa Cherry?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Laura. entah mengapa dia jadi sedikit penasaran dengan sosok Cherry, apalagi dengan kehadiran Fiza yang langsung membawanya pergi.


"Bukan siapa-siapa, dia nggak penting"


"Apa dia salah satu perempuan di hotel kemaren?" Seolah tidak menghiraukan jawaban Arvin yang terdengar tidak suka, Laura masih tetap mengajukan pertanyaan. hingga benda kenyal dan basah pun menempel di bibirnya.


"Mmmmmtttt


****


PLAK


"Brengsek!"

__ADS_1


BUGH


BUGH


Gumpalan darah segar keluar dari mulut Fiza, setelah menerima tamparan serta pukulan dari orang yang tidak lain ialah sahabat sekaligus bosnya.


"Gue suruh Lo untuk bawa Adek gue pulang, bukan malah nampar dia" bentak pria misterius.


Ya, Fiza adalah teman sekaligus kaki tangan pria misterius itu. Karena sikapnya yang dingin, tegas dan cuek, dia di utuskan menjadi dosen di universitas xxx untuk menjaga gadis masa kecil sahabatnya. siapa sangka setelah dia bertemu dengan gadis itu, hatinya yang semula beku mulai berdebar. awalnya Fiza berusaha menghilangkan perasaan yang menurutnya akan menghancurkan hubungan persahabatan. tapi semakin lama, rasa itu semakin besar hingga dia bertekad akan menjadikan Laura miliknya sekalipun harus bermusuhan dengan sahabatnya sendiri.


"Saya rasa kalo posisi kita di tukar, anda pasti melakukan hal yang sama seperti saya" cibir Fiza berusaha bangkit.


"Bang Al


*


*


*


Bersambung....


Dukung karya aku dengan cara πŸ‘‡


🌳 Like πŸ‘


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya πŸ₯°


🌳 VOTE


🌳 HadiahπŸ™ˆ


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2