
"Awwwhh"
"Makanya jangan sok jago! jadi gini kan" omel Laura menaruh alkohol ke atas kapas.
"Kan saya ngebela kamu" jawab Fiza meringis saat jari lentik Laura mengobati lukanya, akibat adu jotos dengan Arvin. Fiza yang berniat mengajak Laura makan bakso, seketika mengurungkan niatnya saat melihat Laura dan seorang laki-laki saling Jambak rambut. ada rasa kagum, ada juga rasa takut jika laki-laki itu melukai wanitanya. namun ketika mereka berhenti berkelahi, Fiza di buat geram setelah mendengar ejekan tentang Laura dari mulut pria itu. makanya tanpa pikir panjang Fiza melesatkan pukulan, hingga terjadilah adu jotos antara mereka.
"Ya tapi nggak harus pake kekerasan. mending menang, ini malah k.o" cibir Laura mengusap kasar luka Fiza tanpa perasaan.
"Aawwhhhh pelan-pelan Ra, sakit" pekik Fiza mendesis, entah benar-benar sakit atau hanya berpura-pura untuk mendapat simpati dari Laura.
"Cih..nggak usah lebay, cuma luka segitu aja sakit. masih jauh dari nyawa" ketus Laura memutar bola mata jengah.
"Ckckck yang satu minta perhatian, yang satu lagi nggak punya perasaan. hadeehh asli cuma racun nyamuk doang gue" celetuk Mila yang sedang duduk bersila sambil menopang dagu menatap dosen dan sahabatnya yang juga sedang duduk di sofa ruang tamu kost Laura.
"Pak Fiza, saya mau nanya sesuatu boleh?" sambung Mila
"Silahkan" jawab Fiza mengangguk
"Mendingan Lo diem Mil, makan makanan Lo sampe habis" sarkas Laura kesal, karena dia yakin bahwa Mila akan menanyakan hal-hal yang tidak penting kepada Fiza. namun Mila tidak menghiraukan perkataan Laura, sekarang dia hanya ingin memastikan sesuatu yang menganggu pikirannya sejak kemarin.
"Pak Fiza suka sama Laura ?" tanya Mila dengan wajah yang serius. membuat mata Laura mendelik tajam.
"Iya" Laura maupun Meli di buat terkejut dengan jawaban Fiza.
"Bahkan sejak Laura masuk kuliah, saya udah suka sama dia. tapi karena dia nggak pernah mau membuka hati, jadi saya hanya bisa mencintai dalam diam. selagi dia bisa tersenyum, maka saya ikut tersenyum. namun saya berharap, suatu saat nanti dia akan membuka sedikit celah hatinya" jawab Fiza panjang lebar, sambil menatap dalam manik mata Laura.
Deg
Deg
Deg
Jantung Laura tiba-tiba berdetak kencang, seperti habis lari maraton. apakah dia tersentuh? ah tidak mungkin, sudah banyak laki-laki yang mengungkapkan isi hati seperti Fiza tapi dia tetap biasa saja.
"Astaga, jantung gue kenapa kayak gini" batin Laura berusaha menetralkan degupan. namun ketika melihat mata jernih Fiza, tingkat kecepatan jantungnya semakin bertambah. ada apa dengan dirinya saat ini? pikir Laura bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ra, Lo baik-baik aja? pipi Lo kenapa merah gitu?" tanya Mila mengulum senyum.
"Pak Fiza terimakasih atas omong kosong nya. maaf kalo nggak sopan, tapi bapak tau sendiri kan pintu keluar di mana" ucap Laura mengusir Fiza terang-terangan, tanpa meladeni perkataan Mila.
"Maaf kalo perkataan saya tadi buat kamu nggak nyaman. tapi saya akan berusaha lupain perasaan itu, walau sulit untuk saya. kalo begitu saya pamit dulu, permisi" seru Fiza berbalik pergi meninggalkan tempat kost pujaan hati. melupakan perasaan? oh tidak semudah itu Furgoso, dia akan tetap memperjuangkan cintanya.
"Lo tega banget sama pak Fiza, padahal keliatan banget dia itu tulus suka sama Lo. kenapa Lo nggak coba bukain hati sih untuk cowok, nggak mungkin kan Lo jones sampe tua" omel Mila menghela nafas panjang.
"Kalo gitu Lo aja yang sama dia, gue nggak mau" saut Laura beranjak masuk ke dalam kamar.
"Ya masalahnya pak Fiza suka apa enggak ke gue. lagian gue juga udah punya bang Febri" jawab Mila, kemudian memakan bakwan goreng saat mendengar suara guyuran air di kamar mandi.
20 menit kemudian
"Ayok" seru Laura keluar kamar
"Kemana?" tanya Mila memperhatikan penampilan Laura dari atas sampai bawah yang mengenakan celana boyfriend, berbalut jaket jeans yang senada.
"Ke restoran yang pernah gue bilang itu" jawab Laura menarik tangan Mila
"Jadi bokap sama nyokap Lo udah ngizinin?" tanya Mila sekali lagi, yang di jawab anggukan kepala oleh Laura.
****
Di dalam sebuah restoran, seorang pria tercengang melihat semua makanan di piring yang memenuhi meja di lahap habis oleh sahabatnya.
"Vin, Lo beneran nambah lagi?" tanya Syafi melongo ketika Arvin kembali memesan makanan dan minuman pada pelayan. apa jangan-jangan Arvin kemasukan jin busung lapar? tebak Syafi.
"Hm, masalah buat Lo?" jawab Arvin sambil mengunyah pasta sekuat tenaga, seolah itu adalah wanita yang tadi membuat tubuhnya kembali memar.
"Liat aja nanti, gue bakal bikin Lo Mendes*ah di bawah kendali gue. setelah itu, say goodbye" batin Arvin menyeringai, saat bayangan dirinya bersama wanita yang tidak lain adalah Laura. apalagi posisi mereka yang tetangga, memudahkan Arvin untuk menjalankan aksinya. aahhh, hasr*at Arvin kembali naik gara-gara memikirkan itu semua.
Pucuk di cinta musuh pun tiba, orang yang baru saja di pikirkan sudah menampakkan diri di depan mata. seringaian kecil muncul di sudut bibir, melihat macan betinanya berjalan masuk kedalam restoran.
"Lo liat, itu cewek yang udah ribut sama gue tadi siang" Arvin menunjuk Laura dan Mila yang sedang berdiri di depan meja kasir.
__ADS_1
"Cantik" kata yang spontan keluar dari bibir Syafi melihat wanita yang di tunjuk oleh Arvin, entah Laura atau Mila (aku pun tak tauπ).
"What? kerempeng kayak gitu Lo bilang cantik? heh, selera Lo murahan" ejek Arvin tersenyum sinis.
"Murahan? bukannya selera Lo yang murahan! pacaran sama wanita ****** yang nggak tau udah berapa kali di pake sama laki-laki, termasuk Lo" sarkas Syafi menatap tajam. Arvin mengepalkan tangan, menatap nyalang wajah Syafi yang sudah berani menghina wanita-wanita nya.
"Apa? bener kan yang gue bilang? inget satu hal Vin, karma nggak semanis buah kurma. suatu saat Lo bakal metik dari apa yang Lo tanam. gue saranin agar Lo berhenti jadi cowok brengsek" setelah mengatakan itu, Syafi bangkit meninggalkan Arvin setelah sebelumnya membayar makanan ke kasir. bukan jahat, tapi Syafi ingin sahabatnya kembali ke jalan yang benar.
Sedangkan Laura yang sudah berbicara pada asisten pemilik resto, segera meninggalkan tempat itu dengan hati yang gembira. tapi...
"Lah kok kempes?" pekik Laura berjongkok, melihat ban motornya yang sudah melenyot.
"Terus gimana dong?" tanya Mila ikut melihat.
"Ya dorong lah, nggak mungkin Lo niup pake mulut" ketus Laura kesal, sungguh hari yang si*al.
"Rasain" gumam seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
*
*
*
Bersambung......
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
π³ Hadiahπ
__ADS_1
π³ Rating βββββ
Jangan pelit jempol, kalo kata Momy Ar 'Jangan jadi pembaca Goib'π€£