
Fiza terus melajukan mobil mengikuti titik merah yang terus bergerak di layar ponsel hingga berhenti di satu lokasi. alisnya mengernyit ketika menyadari lokasi yang di tuju itu sangat tidak asing.
"Itu daerah kost Laura, ngapain dia ke sana? atau jangan-jangan...shi*t" umpat Fiza menambah laju mobil dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin semuanya hancur berantakan.
****
"Aawwsshhh" wanita itu meringis kesakitan, memegang lututnya yang terluka akibat berciuman dengan lantai yang keras.
"Cherry" gumam Arvin tanpa suara saat wanita itu mendongak. dia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan wanita di depannya, setelah kejadian empat tahun yang lalu. kejadian yang merupakan awal Arvin bergonta-ganti wanita layaknya pakaian.
Empat Tahun Lalu, Cherry dan Arvin menjalin hubungan sepasang kekasih sejak pertama kali duduk di bangku SMA. sikap Arvin yang hangat dan perhatian terhadap Cherry pun membuat semua orang banyak yang iri dengan hubungan keduanya. hingga suatu kejadian seketika merubah sikap Arvin 180°.
Flashback On
"Halo sayang" sapa Arvin setelah panggilan ke-lima terhubung.
"Iya sayang, kenapa?"📲
"Nggakpapa, aku cuma kangen sama kamu...btw kamu lagi apa, kok ngos-ngosan gitu?" jawab Arvin mengernyit.
"Oh ini aku barusan habis senam, liat kamu nelpon jadinya aku angkat dulu"📲
"Maaf ya aku gangguin kamu"
"Kamu nggak ganggu kok, malahan aku seneng dapet telepon dari kamu"📲
"Seriously?"
"Yea, i'm serious"📲
"Hahaha jadi pengen peluk"
"Tunggu Minggu depan aku balik ke Bandung, aku juga pengen meluk kamu"📲
"Yaah kelamaan Yank, padahal sekarang juga bisa loh"
"Bisa kalo cuma peluk on-line"📲
"Ini beneran sayang, coba kamu tutup mata terus sebut nama aku tiga kali, pasti aku muncul"
__ADS_1
"Udah sering aku lakuin, tapi tetep aja kamu nggak ada...udah ah, aku mau lanjut senam dulu bye sayang mmuuacch"📲
Tuth
Arvin menunduk melihat layar ponsel yang gelap setelah sambungan terputus. ada yang berbeda dari sikap Cherry barusan. dia seperti tergesa-gesa, namun Arvin segera menepis pemikiran itu. yang terpenting sekarang adalah melanjutkan perjalanan menuju apartemen sang kekasih untuk memberi kejutan spesial.
Kini Arvin sudah berada tepat di depan pintu apartemen Cherry dengan seikat bunga mawar merah di tangan kiri. tangannya sudah bersiap untuk menekan bel pintu, namun di urungkan mengingat dia juga tau kata sandi apartemen. Arvin pun menekan kata sandi, kemudian masuk perlahan ke dalam apartemen mencari keberadaan sang kekasih tercinta.
"Ckckck kebiasaan banget, nggak pernah berubah" gumam Arvin menggeleng melihat kondisi ruang tengah yang berantakan, sama seperti biasanya setiap kali dia bertamu ke sini. Arvin berjalan ke arah lantai atas kamar Cherry, dia yakin jika wanitanya sudah selesai senam dan sekarang ada di dalam sana.
Ceklek
DEG
Seperti di sambar petir, Jantung Arvin seakan berhenti berdetak menyaksikan pemandangan yang sangat menyakitkan mata. di sana, di atas ranjang yang bergoyang itu, kekasihnya sedang bermain kuda dengan seorang pria.
Pasangan yang belum menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu, terus memacu kuda masing-masing dengan brutal. hingga suara tepukan tangan, membuat kuda yang hampir menaiki puncak terpaksa turun kembali.
PROK PROK PROK
"Sa-sayang, ka—kamu...Kamu, ini nggak seperti yang kamu lihat. aku—ak—" ucap Cherry terbata, tidak tau harus mengatakan apa.
"Apa? apa yang nggak seperti aku lihat, apa huh?" teriak Arvin sambil berjalan mendekat, dia melirik pria tua berperut buncit yang santai memamerkan kepala kura-kura, tanpa menutupi nya. bahkan pria tua itu tersenyum melambaikan tangan, sungguh tidak punya urat malu. kemudian Arvin mengalihkan pandangan ke arah Cherry yang kini sedang melilitkan tubuh polosnya dengan selimut, air matanya sudah keluar sejak tadi.
"Vin, aku bisa jelasin semuanya"
"Nggak perlu! aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu Cher! kamu udah ngerusak kepercayaan aku, janji kita, cinta kita!" bentak Arvin dengan mata yang mulai berembun. "Aku udah jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta cuma mau kasih kejutan untuk kamu. tapi apa? aku yang malah dapet kejutan terbesar dari kamu...kamu yang aku kira perempuan baik, tapi ternyata—" Arvin terkekeh sinis, menatap jijik.
"Vin aku nggak tahu kalo kamu dateng, to—" belum selesai omongan Cherry, Arvin lebih dulu menyela.
"Kenapa? Biar bisa nutupin kebusukan kamu, gitu?" cibir Arvin terdengar dingin di telinga Cherry. "mulai sekarang hubungan kita berakhir" tegas Arvin sambil melempar buket bunga ke lantai, kemudian berbalik pergi.
"Enggak! aku nggak mau kita putus, aku cinta sama kamu Vin" Cherry menggeleng kuat sembari turun dari ranjang, namun tangannya di cekal oleh pria yang selalu memberi kehangatan untuk nya setiap malam.
"Lanjutin kegiatan kalian"
BRAK
Arvin membanting pintu kamar sekencang mungkin, langkahnya yang lebar terus melangkah meninggalkan tempat yang sudah membuat hatinya hancur lebur. di perjalanan, Arvin terus mengemudi mobil tanpa arah dengan sesuka hati tanpa menghiraukan kendaraan lain. hingga mobilnya berhenti di sebuah club, tempat yang belum pernah dia datangi. mulai saat itulah Arvin gonta-ganti wanita. di matanya, semua wanita hanya haus kepuasan di ranjang, hingga setelah puas maka Arvin akan meninggalkannya.
__ADS_1
Flashback Off
"Lo nggakpapa?" tanya Laura berjongkok, berniat membantu.
"Pergi!" bentak wanita itu mendorong keras tubuh Laura hingga terjungkal. "Lo...Lo yang udah bikin Arvin ninggalin gue, iya kan!" tuduh Cherry ingin menjambak wajah Laura.
"Sedikit aja Lo sentuh istri gue, gue patahin tangan Lo" ancam Arvin mencekal kuat tangan Cherry.
Deg
"Is-istri" cicit Cherry dengan bibir gemetar. "kamu bercanda kan sayang? kamu cuma mau menghindar dari aku, makanya kamu bilang dia istri kamu, iya kan? aku tau kamu masih cinta sama aku, di hati kamu cuma ada aku" ucap Cherry membuat Arvin tersenyum sinis.
"Itu dulu, tapi sekarang" Arvin melepaskan cengkraman, kemudian beralih merangkul mesra bahu Laura yang masih terduduk. "Cuma dia yang ada di hatiku...Kamu nggkpapa kan?" Arvin mengusap lembut pipi Laura.
"What? dia bilang apa tadi, aku kamu?" batin Laura tanpa sadar mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Arvin barusan.
"Enggak! Arvin milik aku, selamanya cuma milik aku. kamu nggak boleh ninggalin aku, kamu nggak boleh Arvin!" teriak Cherry mengamuk menjambak rambutnya sendiri, seperti orang gila.
Sedangkan tidak jauh dari mereka, sebuah mobil Pajero putih berhenti. sosok pria tampan keluar dari pintu kemudi yang tidak lain dan tidak bukan ialah Fiza.
"Astaga" gumam Fiza memijit pangkal hidung ketika sayup-sayup mendengar suara teriakan perempuan yang di cari.
"Pak Fiza"
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
__ADS_1
🌳 Hadiah🙈
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐