Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Lagian ngapain kamu nyusul aku" tanya Laura setelah mengompres mata Firza dengan es batu. saat ini mereka sedang duduk di sofa yang berada di ruang tengah.


"Aku kira terjadi sesuatu sama kamu, karena udah belasan kali aku hubungin tapi nggak di angkat. makanya aku kesini, untuk mastiin kamu baik-baik aja" jawab Fiza tersenyum manis walau sebelah matanya tidak dapat terbuka. kedua alis Laura bertautan, segera dia meraih ponsel dalam tas yang tergelatak di lantai dan benar saja, deretan nomor panggilan tidak terjawab dari Fiza tertera di layar.


"Pantesan nggak tau, ternyata hp nya aku silent" ucap Laura menepuk jidat.


"Oh ya, kamu mau minum apa? biar aku buatin" tanya Laura beranjak.


"Emm kopi boleh tapi kalo nggak ada, yang lain aja nggkpapa"


"Ada kok, tunggu sebentar ya" Laura bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi, tidak lupa dia juga membuatkan dua gelas jus jeruk dan susu.


"Di minum Za"


"Makasih, kamu mau kemana?" tanya Fiza ketika Laura berbalik badan hendak pergi.


"Nganterin ini buat Arvin" jawab Laura berjalan ke arah kamar, ya Arvin tadi memilih di dalam kamar daripada jadi racun nyamuk. ada ketidakrelaan di mata Fiza ketika melihat Laura menghilang di balik pintu.


Sedangkan di dalam kamar, Laura menarik sudut bibirnya kala melihat Arvin yang pura-pura tertidur. padahal jelas-jelas tadi sebelum membuat minuman ke dapur, dia melihat Arvin yang sedang mengintip mereka dari celah pintu yang memang tidak tertutup rapat.


"Bangun, gue tau Lo cuma pura-pura" ketus Laura melipat tangan di atas perut, setelah menaruh susu di nakas samping tempat tidur.


"Engghh Hoaaamm siapa yang pura-pura" jawab Arvin merentangkan kedua tangan seolah baru bangun.


"Terus yang ngintip dari tadi di situ siapa? setan?" Laura menunjuk arah pintu dengan dagu nya.


"Enggak...gue dari tadi tidur kok, perasaan Lo aja kali." bantah Arvin mengelak dari tuduhan Laura.


"Udah ketahuan masih aja ngelak, tuh di minum"


"Buat gue?" tanya Arvin menunjuk wajahnya.


"Bukan!" jawaban Laura membuat Arvin mendengus kesal, tapi sesaat kemudian bibir bervolume itu terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman tipis ketika melihat segelas susu. Arvin pun meraih, menenggaknya hingga tidak tersisa sedikitpun.


"Ahhh lumayan enak, walau nggak seenak susu gantung. CK, jadi kepengen" gumam Arvin mengusap sisa susu di sudut bibir dan menjilatnya dengan sensual. untung Laura sudah keluar, jika belum entah apa yang ada di pikirannya sekarang.


****


Tibalah hari di mana pesta pernikahan antara Laura dan Arvin yang di selenggarakan di hotel berbintang milik keluarga Indorto sendiri. baik rekan bisnis serta teman kuliah dari kedua belah pihak turut hadir dalam acara tersebut.

__ADS_1


"Lo cantik banget Ra" puji Mila berdecak kagum melihat sahabatnya yang mengenakan gaun Putih tanpa lengan, terlihat sangat cantik dan elegan.


"Ya jelas lah, kan gue primadona kampus" jawab Laura mengangkat gaun berjalan cepat menuju ballroom, dia tidak sabar ingin menyelesaikan acara memuakkan ini. Mila menggeleng kepala melihat cara berjalan Laura yang tidak ada anggun-anggun nya sama sekali, padahal ini acara terpenting dalam hidupnya walaupun secara terpaksa. yah meski Laura tidak memberitahu tentang persoalan kontrak nikah, tapi Mila sebagai sahabat tau betul dari raut wajah Laura yang tidak bahagia.


"Ya Allah, semoga engkau menumbuhkan cinta di antara mereka. hamba nggak mau kalau satu-satunya sahabat hamba nasibnya kayak di novel ya Allah, aamiin" doa Mila sebelum akhirnya menyusul Laura.


DEG DEG DEG


Arvin memegang dadanya yang berdegup kencang saat pintu ballroom hotel terbuka lebar, menampilkan sosok makhluk cantik yang tidak lain Laura istrinya sendiri. bahkan matanya terus menatap tak berkedip, seolah enggan melewati semua lekuk wajah indah itu. bukan hanya Arvin, tapi Syafi juga seolah terpana melihat sosok yang sedang menggandeng tangan istri sahabatnya. kedua pria tampan itu melongo seperti orang bodoh, sungguh pesona dua gadis itu membuat jantung pria manapun ingin meloncat keluar.



"Ekhem" Arvin terkesiap mendengar suara deheman mertua, begitu juga dengan Syafi serta beberapa pasang mata dari pria yang hadir di sana.


"Air liur Lo netes" bisik Laura, sontak Arvin langsung mengusap bibirnya.


"Lo ngerjain gue?" mata Arvin memicing tajam karena menyadari di permainkan. saat ini, keduanya telah duduk di kursi pelaminan yang sangat mewah.


"Mata Lo biasa aja, entar jelek ketangkep kamera fotografer"


"Cih, gue dari segi mana pun tetep ganteng. bukan kayak Lo! depan aja yang bagus, pas liat ke samping kerempeng kayak ikan asin nggak punya pantat" cibir Arvin membuat mata Laura hampir menyembul keluar.


"Aaakhhhh"


"Kenapa sayang?" tanya Mom Keyla menghampiri mereka bersama dengan keluarga yang lain.


"Ini Mom, Laura terlalu gemes sama anaconda Arvin yang lagi tidur. katanya kayak squishy, makanya diβ€”" Laura membekap mulut Arvin, sebelum melanjutkan kalimat frontal itu.


"Jangan di dengerin Mom, itu nggak bener kok" ucap Laura tersenyum paksa.


"Bener juga nggakpapa, tapi nanti lanjutin di dalem kamar oke" kata Oma Sofia tersenyum


"Betul... kalo di dalem kamar kan enak, mau kamu unyek-unyek kek nggkpapa" timpal Grandma Lisa menyetujui ucapan besannya.


"Oh God help me" batin Laura berteriak frustasi


"Iya Grandma, Oma" jawab Laura mengangguk, pipinya sekarang merah padam kareja kesal bercampur malu. Mom Keyla dan yang lainnya pun turun dari pelaminan untuk kembali berbincang dengan para kolega dan keluarga.


****

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan bernuansa gelap, sosok pria jangkung sedang berdiri menatap lampu-lampu kendaraan dari kaca transparan apartemennya. sorot mata yang tajam, mampu membuat nyali siapa saja menciut.


"Waktu penantian dan usaha akan berbuah hasil mulai malam ini" pria misterius itu menyeringai. namun bayangan seseorang yang berarti dalam hidupnya melintas, sontak membuat mata pria itu berkaca-kaca.


"Sebentar lagi dia bakal ngerasain, apa yang kamu rasain selama ini" gumam pria itu menatap sebuah foto besar yang terpajang di sana. ingatan empat tahun silam kembali berputar, saat di mana orang yang berada di dalam foto tersebut mencoba bunuh diri dengan terjun dari lantai apartemen tempatnya berdiri saat ini. untung dirinya tiba dengan cepat jika tidak, maka sudah di pastikan tubuh mungil itu akan hancur seperti bubur.


Drrrrtt Drrrttt


Dering ponsel mengalihkan pandangan pria misterius itu, tertera nama salah satu tangan kanan nya di layar.


"Halo Bos" πŸ“²


"Bagaimana?" tanya nya to the point


"Semua sudah siap bos, tinggal nunggu mereka datang" πŸ“²


"Bagus, jangan lupa rekam semua kejadian di sana. aku ingin lihat awal kehancuran keluarga itu"


"Baik Bos"πŸ“²


"Satu lagi! pastikan wanita itu baik-baik saja, jangan sampai para ****** itu melukainya. jika itu terjadi, habisi mereka" tegas pria itu mematikan sambungan secara sepihak.


Tut


*


*


*


Bersambung....


Dukung karya aku dengan cara πŸ‘‡


🌳 Like πŸ‘


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya πŸ₯°


🌳 VOTE

__ADS_1


🌳 HadiahπŸ™ˆ


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2