
Arvin menghela nafas kasar karena sedari restoran hingga sampai mansion, perhatian semua keluarga hanya tertuju pada adik laknat nya itu, tak terkecuali istrinya atau lebih tepat istri sementara.
"Ekhem"
"EKHEM"
"Si*l" umpat Arvin karena suara deheman nya tidak di gubris sama sekali, dia merasa seperti orang asing di sini. menyesal dulu telah mengizinkan sang Momy untuk hamil dengan alasan sebagai temannya bermain, lalu apa ini? dia terlihat bukan seperti adik, melainkan parasit yang sudah mencuri semua hak nya.
"Kak bagi nomor dong, biar enak kalo perlu apa-apa" pinta Gio membuka aplikasi kontak di ponsel nya.
"Tapi jangan di kasih ke orang lain ya, awas!" ancam Laura menunjuk kepalan tangan ke hadapan Gio.
"Nggak bakalan lah, siapa juga yang rela bagi-bagi nomor cewek cantik aduhai kayak kak Lau" jawab Gio membuat Laura terkekeh, mengacak-acak rambut yang menurut nya lumayan asik dari pada yang onoh.
"Kak Lau kenapa bisa nikah sama dia?" sambung Gio bertanya setelah menyimpan nomor Kaka ipar.
"Nggak perlu tau, masih kecil" seru Arvin langsung duduk di antara Laura dan Gio.
"Dateng-dateng langsung nyelonong, gangguin orang aja" gerutu Gio menatap sinis.
"Lo yang dateng-dateng gangguin istri gue, lagian ngapain juga Lo balik lagi kesini"
"Terserah gue mau balik kapan, bukan rumah Lo kok. Lo aja masih numpang tidur plus makan di sini, jadi jangan sok keras." sarkas Gio membuat tangan Arvin mengepal erat. mungkin bagi gio itu hanyalah candaan, karena mengingat dulu mereka sering seperti ini. tapi sekarang tidak lagi, mereka sudah besar dan sudah lama tidak bertemu semenjak Gio melanjutkan SMA nya di Jerman. kata-kata yang di lontarkan nya sangat menusuk hati Arvin.
BUGH
"Iya gue numpang, kenapa? masalah buat Lo?" bentak Arvin mendaratkan pukulan ke wajah Gio.
"Gio!" teriak Laura menghampiri adik ipar nya yang tersungkur di lantai.
Semua keluarga yang sedang berbincang di sofa yang berjarak agak jauh dari mereka, sontak terkejut mendengar suara keributan dari kakak beradik itu.
"Ya Allah Gio, kenapa bisa begini?" tanya Keyla mengusap darah yang keluar dari hidung. sedangkan yang di tanya, menatap tajam pria yang tidak lain Arvin kakak nya sendiri.
"Iya! itu masalah buat gue, karena Lo cuma bisa hamburin uang keluarga hanya untuk senang-senang sama ******! gue jadi kasian sama kak Lau yang dapet suami brengsek dan jadi hanya beban keluarga" tunjuk Gio tepat di dada Arvin
"Jaga omongan Lo! kalo emang gue beban, nggak mungkin perusahaan Grandpa bisa maju seperti sekarang! yang seharusnya beban di sini ituβ" ucapan Arvin terpotong karena melihat Gio terkekeh, seperti menertawakan nya.
__ADS_1
"Perusahaan itu memang bakal jadi milik Lo. tapi perlu gue ingetin, kalo Lo itu cuma penerus bukan pembangun" tegas Gio menekan setiap kalimat.
"Gio cukup! kenapa kamu ngomong gitu sama Abang kandung kamu sendiri? dan kamu Arvin! kenapa kamu mukul Adek kamu? di mana sopan santun yang Momy ajarin ke kalian, huh? di mana?" sentak Keyla dengan nafas yang naik turun, kepala nya berdenyut tidak habis pikir dengan kelakuan kedua putranya.
"Untuk apa sopan sama orang yang nggak pernah menghargai kita! Momy sendiri kan yang bilang?" jawab Gio tenang.
PLAK PLAK
Laura menutup mulut saat Dady Ben menampar pipi Arvin dan Gio dengan cukup keras. hening, tidak ada yang berani bersuara. karena saat ini aura dingin tiba-tiba menyeruak keluar. rahang yang tegas serta pandangan yang sedingin es itu, menatap nyalang kedua putra nya.
"Minta maaf sekarang" ucap Ben dengan suara berat.
"Minta maaf!" bentak Ben menggelegar seisi mansion saat Arvin maupun Gio tidak ada yang menuruti perkataan nya, membuat dua pasangan tua renta hampir jantungan. tanpa sepatah kata pun, Arvin langsung menarik tangan Laura naik ke lantai atas kamar mereka.
"Lepasin Vin, sakit tangan gue" seru Laura yang tidak di gubris sama sekali oleh Arvin, hingga mereka sampai di dalam kamar tepat nya di walk in closet.
"Beresin semua baju Lo ke koper, kita pergi dari sini sekarang" ucap Arvin mulai menaruh semua keperluan yang baru kemarin di bawa dari kost.
"Kemana?" tanya Laura tanpa bergerak sedikit pun.
"Ke tempet kost"
"Lo mau liat gue di hina kayak tadi, huh?"
"Di hina gimana, dia itu nyadarin Lo bukan ngehina. lagian omongan Gio ada bener nya kok" Arvin menghentikan pergerakan tangan dan langsung melempar tatapan tajam ke arah Laura yang sudah berani membela adik ipar dari pada suami nya sendiri. eh, by the way sejak kapan dia mengaku sebagai suami? tidak ingin berdebat, Arvin kembali melanjutkan menyusun barang-barang ke dalam koper.
"Buruan beresin baju-baju Lo"
"Iya iya"
Laura pun memasukkan beberapa setel baju yang di pakai ke dalam koper yang kebetulan kemarin belum di susun ke dalam lemari. setelah selesai, Arvin dan Laura segera turun ke lantai bawah dengan masing-masing menggandeng satu koper.
"Sayang, kalian mau kemana? kenapa bawa koper?" cecar mama Sisil memegang bahu Laura.
"Mulai hari ini, kita berdua kembali ke kost. Dan ini aku balikin lagi, karena aku nggak ada hak atas itu semua" ucap Arvin menyerahkan kartu kredit, Blackcard, kunci apartemen, serta kunci mobil di atas meja. semua terkejut mendengar perkataan Arvin, terutama Keyla yang hampir terjatuh jika saja Ben tidak menahannya.
"Jangan bercanda Arvin, besok lusa hari resepsi pernikahan kalian. jangan karena berantem tadi kamu jadi kabur-kaburan kayak gini" ucap momy Keyla memegang dada yang tiba-tiba sesak. sungguh, anak nya satu ini memang ngin membuatnya cepat mati.
__ADS_1
"Aku nggak bercanda Mom. soal acara besok lusa kita berdua tetep dateng. aku cuma mau tunjukin ke mereka, kalo aku juga bisa hidup dengan kemampuan sendiri tanpa jadi beban keluarga" saat mengatakan itu, mata Arvin melirik sinis ke arah Gio yang juga sedang melihat nya tanpa ekspresi. kemudian Arvin langsung berjalan keluar sambil menggandeng lengan Laura, tanpa menghiraukan teriakan dari Momy, Daddy dan semua orang yang ada di sana.
"Bee anak kita" seru Sisil saat Kenzo menahan nya untuk menyusul Laura.
"Kamu lupa kalo anak kita sudah mandiri dari awal?" tanya Kenzo mengulum senyum.
"Ya tapi kan tetep aja"
"Udah, percaya sama aku"
Sedangkan Gio tersenyum tipis melihat punggung Abang dan kakak ipar yang menghilang di balik pintu utama mansion.
*
*
*
Bersambung......
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
π³ Hadiahπ
π³ Rating βββββ
Visual Fiza (28 Tahun)
__ADS_1
Visual Gio Indorto (18 Tahun)