Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Masih Perjaka


__ADS_3

Laura yang sedang mencari telur semut rangrang atau biasa di sebut kroto mengerang kesakitan, saat sebuah batu yang lumayan besar mengenai keningnya.


"Aaarrrkhhh" pekik Laura mengulurkan tangan ke keningnya yang terasa pusing dan nyeri.


"Si*al, siapa yang nimpuk kepala gue" umpat Laura menyeka darah yang mengalir dari keningnya. kemudian mengambil batu dan keluar dari dalam hutan untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah membuat keningnya terluka.


"Woiii! Lo kan yang nimpuk kepala gue?" teriak Laura menyebrang jalan, menghampiri Arvin.


"Nggak usah asal nuduh, kalo nggak ada bukti" ketus Arvin melanjutkan langkah, sambil merogoh ponsel untuk memesan taksi online dari pada meladeni perempuan itu.


"Eh Lo nggak usah ngelak ya, di sini cuma ada Lo! Dan ini liat, kepala gue luka gara-gara Lo!" bentak Laura menarik kasar bahu Arvin.


"Iya gue yang ngelakuin itu, kenapa? lagian siapa suruh Lo di sana! ah gue tau, jangan-jangan Lo open BO di dalem sana? wah parah, nggak punya modal banget" Cibir Arvin terkekeh mengejek.


"Apa Lo bilang?" bentak Laura melayangkan tinju ke wajah Arvin hingga terhuyung selangkah ke belakang.


BUGH


"Ulang sekali lagi!" sambung Laura meraih kerah kemeja Arvin, matanya melotot dengan rahang yang mengeras.


"Lo OPEN BO" ucap Arvin menekan kalimatnya. Laura melepas kasar kerah Arvin dan berbalik, namun....


DUGH


Aaarrghhh


"Itu balasan yang setimpal untuk cowok kayak Lo!"


"Nih, sekarang kita impas!" sambung Laura melemparkan uang sepuluh ribu ke wajah Arvin yang sedang terduduk di jalan, sambil memegang aset berharganya. yah, Laura menendang anaconda milik Arvin yang tidak bersalah dengan cukup kuat. siapa suruh mulutnya tidak di jaga, open BO? astaga. kemudian Laura berbalik pergi ke arah motor yang terparkir di sebrang jalan.


"Cewek Bangs*at arrghh!" umpat Arvin masih di tempat semula, kondisinya sekarang semakin terlihat kacau. padahal belum hilang nyeri dari amukan sang Momy, kini bertambah lagi dari amukan wanita bar-bar barusan.


Setelah beberapa saat, datanglah sebuah mobil sedan hitam yang tidak lain adalah taksi online yang tadi Arvin pesan. walau masih terasa ngilu, tapi sebisa mungkin Arvin menahannya. sedangkan supir taksi sedikit melongo melihat penampilan penumpangnya yang hanya mengenakan kemeja dan boxer pendek. jangan lupa juga wajahnya yang sudah babak belur, bahkan banyak bercak darah di seluruh kemejanya yang putih.


"Mau kemana Pak?" tanya sopir taksi setelah menaruh koper di bagasi mobil.


"Jalan dulu" jawab Arvin menekan nomor Alden.


...Nomor yang ada tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...


"CK, kemana sih ni anak?" gerutu nya, kembali menelfon. namun setelah berapa kali menelpon, tetap saja nomor Alden tidak aktif. akhirnya, Arvin memutuskan untuk pergi ke apartemen sahabatnya yang bernama Syafi.


****

__ADS_1


Laura mehempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang hanya muat untuk dirinya sendiri. matanya terpejam, kembali mengingat kejadian satu jam yang lalu.


Tok tok tok


"Laura! Ra Lo di dalem kan? buka pintunya" teriak seseorang mengetuk pintu kost. Laura yang hafal betul pemilik suara itu, langsung beranjak walau pun malas.


Ceklek


"Lama banget sih" protes Mila melenggang masuk ke dalam kamar


"Terserah gue lah, ngapain Lo kesini?" ketus Laura bertanya, sambil mengikuti langkah Mila.


"Astaga Ra, gitu amat pertanyaan Lo" ucap Mila mengusap dada dramatis, membuat Laura memutar malas bola matanya.


"CK, buruan" desak Laura kesal.


"Hehe...Lo ada nasi nggak? bagi dong, gue laper" tanya Mila tersenyum malu-malu. Laura menghela nafas panjang, karena sudah sering sahabatnya ini meminta makanan ke tempatnya.


"Ayok, sekalian gue juga belum makan" ajak Laura berjalan lebih dulu ke dapur


"Nggak ada lauk lain apa? perasaan tiap kali gue numpang makan, lauknya tambal ban mulu?" tanya Mila sedikit protes saat melihat telur dadar di atas piring. eh nggak deng, Mila emang protes.


"Kalo Lo mau makan ya makan, kalo nggak mau ya udah nggak usah di makan. noh cari di warteg atau nggak nasi Padang. udah makan numpang, cerewet lagi" sarkas Laura begitu menohok hati yang mendengar. tapi tidak untuk Mila, dia sudah kebal dengan mulut pedas sahabatnya itu. Mila beranjak, membuka lemari dapur untuk mencari sesuatu.


"Iya, tapi Lo beli kerupuk dulu ke warung depan" ucap Laura beranjak menghampiri Mila.


"Oke, tolong masakin ya, biar gue sampe langsung makan" Mila mengambil uang 5 ribu yang di sodorkan Laura.


10 menit kemudian


"Kalo orang sekarat minta tolong sama Lo, keburu meninggal tau nggak" omel Laura yang sedang membersihkan sisa makanan, mendengar suara pintu terbuka dari luar.


"Tadi di warung banyak orang, makanya gue lama" saut Mila berjalan mendekat.


"Alasan, bilang aja Lo lagi ngobrol sama bang Febri" Mila hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk, karena yang di ucapkan Laura memang benar adanya.


"Ya Allah Ra, kenapa jadi kayak ban mobil begini?" pekik Mila ketika membuka tutup mangkuk.


"Udah makan aja, anggep itu buatan bang Febri" ledek Laura terkekeh.


"Tambah kribo usus gue" gumam Mila terpaksa memakan mie yang sudah mengembang, dari pada perut keroncongan kan.


Keesokan hari nya, dengan semangat empat Lima Laura dan Mila menaiki motor masing-masing menuju kampus. saling beriringan dan tertawa, membuat siapa saja iri dengan persahabatan mereka.

__ADS_1


Senyuman manis terukir di bibir seorang pria yang sedang menatap wanita cantik tidak jauh dari nya. dia adalah Fiza, dosen muda yang tampan dan menjadi idola para siswi kampus.


"Laura"


****


"Gimana nak?" tanya buk Wati pada laki-laki yang sudah selesai melihat tempat kost.


"Vin" seru Syafi menyadarkan lamunan sahabatnya.


"Ah iya, saya mau" jawab Arvin mengangguk setuju. Arvin memberi sejumlah uang kepada buk Wati, untuk biaya kost dua bulan ke depan. Arvin kemudian memasukkan semua baju dan barang ke dalam lemari kecil.


"Gue masih nggak habis fikir, bokap sama nyokap nelantarin anaknya sendiri kayak gini" gumam Arvin menatap sekeliling ruangan yang sekarang sudah menjadi tempat tinggal nya yang baru. sangat jauh dari kata mewah, bahkan lebih besar kamar pelayan di mansion, dari pada tempat ini.


"Kalo menurut gue sih, wajar orang tua Lo ngelakuin ini semua. mereka pengen ngedidik Lo supaya jadi orang yang bener. jangan cuma ngehabisin uang untuk kesenangan yang biasa Lo lakuin—"


"Stop!" Arvin memotong ucapan Syafi yang menurutnya semakin lama, semakin mirip dengan sang Momy.


"Lagian nih ya, gue masih punya batasan. anaconda gue masih perjaka, belom pernah masuk ke hutan belantara hingga menuju lembah" sambung Arvin dengan kalimat yang frontal.


"Terus di apartemen Minggu kemaren apa huh?" tanya Syafi yang mulai hilang kesabaran.


"Itu beda lagi, cuma masuk lorong kereta doang" jawab Arvin seenaknya


*


*


*


Bersambung......


Dukung karya aku dengan cara 👇


🌳 Like 👍


🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰


🌳 VOTE


🌳 Hadiah🙈


🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2