
"Sssaaahhh" kepala Arvin mendongak, tangannya meremas rambut Indri yang sedang memanjakan anaconda nya.
BRAK
Suara pintu yang terbuka secara kasar membuat Arvin dan Indri terperanjat kaget. dengan cepat Arvin menarik boxer ke atas, begitu pula dengan Indri yang langsung menurunkan bajunya kebawah menutupi gunung kembar yang sempat terekspos. baru saja ingin melontarkan makian karena berani mengganggu kesenangannya, sebuah suara yang familiar membuat mata Arvin membulat sempurna.
"ARVIN INDORTO!" Suara teriakan yang melengking, keluar dari bibir Keyla. pengunjung restoran yang penasaran, menghampiri untuk melihat apa yang terjadi.
"Mo-momy?" cicit Arvin hampir tidak terdengar. cepat-cepat dia mengambil celana bahan yang tergelatak di atas lantai. Keyla yang melihat kondisi Arvin dan Indri berantakan, sontak membuat amarah nya memuncak.
BUGH
BUGH
"Anak kurang ajar, bajingan!" umpat Keyla memukul wajah Arvin yang baru ingin memakai celana bahan nya.
BUGH
BUGH
"Buk hentikan, jangan membuat keributan di sini" cegah seorang manager restoran yang baru tiba dengan beberapa petugas keamanan.
"Berani mendekat, tempat ini akan saya pastikan rata dengan tanah!" Ancam Keyla menoleh dengan tatapan membunuh, membuat ludah manager restoran tercekat di tenggorokan.
Tidak ada yang berani menghentikan kegilaan Keyla yang terus memukul wajah dan tubuh Arvin tanpa henti. darah segar terlihat keluar dari hidung, mulut, pelipis hingga mengenai kemeja putihnya. Keyla baru berhenti memukul ketika menyadari bahwa Arvin telah pingsan. bukannya kasihan, Keyla malah berjalan ke arah meja, meraih jus dan menyiramkan nya ke wajah Arvin yang sudah di penuhi luka.
"Aarrgghh Mom" Arvin mengerang kesakitan saat lukanya terkena siraman jus. sekuat tenaga Arvin berusaha bangkit, tubuhnya terasa sangat ngilu. sungguh, pukulan yang di layangkan Momy nya melebihi tenaga pria.
"Gimana bisa Daddy nikah sama cewek kayak Momy? untung selera gue tinggi" gerutu Arvin dalam hati nya.
"Bangun" perintah Keyla masih dengan suara yang melengking, nafasnya juga terlihat naik turun. sedangkan Indri? perempuan itu sudah sejak tadi berlalu pergi dari pada ikut terkena imbas amukan Keyla.
"Pulang sekarang" bentak Keyla menunjuk ke arah pintu yang masih di kerumuni oleh pengunjung restoran.
"Selangkah lagi kamu ambil celana itu, Momy bakal telanjangin kamu di sini" ancam Keyla membuat Arvin mengurungkan niatnya untuk mengambil celana, dari pada telanjang lebih baik begini saja.
Keyla menggelengkan kepala melihat Arvin yang begitu santai nya keluar dari restoran dalam kondisi yang cukup mengenaskan. apakah urat malunya sudah putus? pikir Keyla frustasi. bagaimana bisa putranya jadi seliar ini, padahal Keyla maupun Ben selalu memberikan arahan yang positif untuk nya.
****
Mansion Raharja
Semua keluarga terlihat berkumpul di satu ruangan yang luas. mata mereka tertuju pada satu orang yang selalu membuat darah tinggi meningkat. tapi di samping itu, ada senyuman tertahan di bibir mereka melihat kondisi yang entah lah, tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Mulai sekarang, semua fasilitas kamu Momy tarik" Seru Keyla membuka suara setelah membersihkan darah dari tangannya. yah, Keyla kembali memberi beberapa bogeman kepada Arvin. karena wajah itulah yang membuatnya menjadi seorang bajingan.
"WHAT! Momy bercanda kan?" pekik Arvin mendelik tak percaya.
"Nggak usah melotot gitu, mau di congkel mata kamu huh?" sentak Keyla ingin bangkit, namun sudah lebih dulu di tahan oleh Ben.
"Arvin! keputusan kami semua sudah bulat! jadi sekarang, serahkan semua nya ke atas meja!" tegas Ben menatap tajam wajah anak yang sifatnya entah menurun dari mana, Ben tidak tahu.
"Oh come on Dad, ini nggak lucu" protes Arvin tidak terima
"ARVIN" seru Ben dengan nada rendah, namun pandangan matanya membuat Arvin bergidik ngeri. Arvin menoleh ke arah dua pasangan lansia di hadapannya untuk meminta bantuan, namun mereka menggeleng tanda tidak bisa. dengan berat hati, Arvin menyerahkan semua yang ada di dalam dompet. mulai dari Black card dan kunci mobil.
"Tuh ambil" ketus Arvin beranjak, berniat untuk pergi
"Eh, kunci apartemen nya mana?" pinta Keyla menengadahkan telapak tangan ke hadapan Arvin.
"Hah?"
"Mana? jangan hah heh hoh doang" desak Keyla
"Mom, terus aku harus tinggal di mana?" tanya Arvin kembali protes, apa Momy nya ini sudah gila? astaga.
"Oh iya, tunggu sebentar" Keyla beranjak pergi ke lantai atas untuk mengambil sesuatu.
"Nih, kamu bisa cari kos-kosan dengan uang ini" ucap Keyla melemparkan sejumlah uang sekisaran 10 juta ke hadapan anaknya.
"Mom ngusir aku, anak Momy?" tanya Arvin menatap tidak percaya, apakah telinganya salah dengar?
"Ya bisa di bilang gitu" jawab Keyla tersenyum polos
"Apa dia Momy gue? Oh God" batin Arvin masih syok.
"Mana?" pinta Keyla mengulurkan tangan ke hadapan Arvin. mau tidak mau, Arvin mengeluarkan kartu akses apartemen dan menyerahkan ke tangan Momy nya.
"Tunggu apa lagi? Tuh koper kamu udah Momy siapin loh, kurang baik apa lagi coba" seru Keyla menunjuk koper yang entah sedari kapan berada di pojokan.
"Opa, Grandpa" panggil Arvin dengan wajah yang memelas
"No coment" jawab Riyadi dan Aryo serempak
"Oke! kalo gitu Arvin bakal pergi dari rumah ini, jangan pernah nyari Arvin lagi" Ucap Arvin berbalik pergi.
"Arvin tunggu dulu" cegah Keyla lagi-lagi membuat Arvin menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya nya sedikit ketus
"Momy cuma mau bilang, kalo mulai besok kamu nggak perlu lagi ke kantor. kamu cuma cukup fokus kuliah! ah ya, soal keperluan sehari-hari, kamu tanggung sendiri. karena uang di tangan kamu adalah uang terakhir dari Momy, setelah itu kamu bisa cari kerja sambilan oke!"
"Udah itu aja, sana pergi" sambung Keyla melenggang pergi, begitu pula degan yang lainnya.
"Mom, ini benar-benar nggak adil!" protes Arvin kembali berbalik.
"Lima menit kamu masih di sini dan protes, nama kamu akan Momy coret dari Kartu Keluarga" tegas Keyla terus berjalan menaiki tangga
"Aaargghh, si*l" umpat Arvin mengacak frustasi rambutnya. Kemudian menarik koper, meninggalkan perkarangan mewah mansion Raharja.
"Tuan Arvin?" gumam Alden ketika melihat Arvin keluar dari gerbang mansion dengan sebuah koper di tangan. Alden berniat keluar menghampiri, namun bunyi notifikasi pesan masuk mengurungkan niatnya.
Ting
'Jangan sekalipun kamu memberi bantuan untuk Arvin, atau Kamu saya pecat!'
"Maafkan saya pak" gumam Alden merasa sedikit iba melihat penampilan Arvin yang mengenaskan itu.
Sedangkan Arvin terus berjalan sambil mengumpat. dia benar-benar kesal mendapat perlakuan dari Momy dan keluarga nya. padahal kan wajar kalau dia sedikit nakal, toh nggak sampai masuk lembah ketujuh. saking kesalnya Arvin mengambil batu dan melemparkannya ke hutan di seberang jalan.
"Arrkkkhhh"
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara π
π³ Like π
π³ Komen Sebanyak-banyaknya π₯°
π³ VOTE
π³ Hadiahπ
π³ Rating βββββ
__ADS_1