
Dari Jakarta, Laura langsung menuju kampus di antar supir pribadi. baru saja tiba di kelas, Mila lebih dulu menarik tangan Laura ke luar menuju tempat sepi.
"Jadi bener, Lo udah jadian sama pak Fiza? kapan? di mana dia nembak Lo? di handphone atau di hadapan Lo langsung? terus kemaren dia langsung ketemu sama bonyok Lo?" cecar Mila memegang kedua bahu Laura antusias.
"Maksud Lo apaan si? nggak jelas!" Laura melepaskan kedua tangan Mila
"Jangan pura-pura begok, cepet kasih tau gue"
"Lo mau gue tonjok huh?" Laura mengangkat kepalan tangan
"Tunggu-tunggu, jadi Lo beneran nggak tau?" tanya Mila mengangkat kedua alisnya.
"Terus foto di grup kampus?"
"Grup?"
"Iya di grup, foto Lo sama pak Fiza lagi di taman berdua"
Laura segera merogoh ponsel, dengan cekatan tangannya menscroll chat di grup yang memang dari kemarin belum dia buka sama sekali. karena setiap pulang ke Jakarta, Laura selalu mematikan notifikasi pesan agar liburan dengan keluarganya tidak terganggu.
Mata Laura melebar sempurna saat melihat belasan hingga puluhan foto yang terpampang nyata. mulai dari mereka datang ke taman, berjalan, bercanda, tertawa, dan satu momen lagi yaitu saat Laura tidak sengaja terpeleset kulit pisang sehingga Fiza menangkapnya. lebih parahnya lagi, orang itu sampai mengedit pose mereka dengan lagu India.
Kuch To Bata Are Kuch To Bata
Na na na na, na na na na na naaaa
(kurang lebih liriknya gitu😂)
"What the Fu*ck!" batin Laura seketika meremang mendengar lagu itu.
"Udah liat sendiri kan? jadi Lo nggak bisa ngelak sekarang" cetus Mila terkekeh melihat Laura yang pergi begitu saja.
Sepanjang lorong kampus semua mahasiswa saling berbisik, tapi itu tidak penting bagi Laura. sekarang dirinya akan membuat perhitungan untuk orang yang sudah berani mengambil foto dan menyebar ke grup tanpa seizin nya.
BRAK
Suara gebrakan meja membuat orang-orang di sana terperanjat kaget tak terkecuali wanita yang menjadi dalang penyebar foto dirinya dan Fiza.
"Siapa yang ngizinin Lo posting foto gue?" tanya Laura dengan suara lembut, namun penuh intimidasi.
"Ma-maaf, gue cuma—
"Cuma apa hm?"
"G-gue nggak sengaja"
"Ohh nggak sengaja? tapi nggak sengaja Lo niat banget ya, sampe hampir puluhan foto terus di upload ke grup kampus ckckckck" seru Laura mencondongkan wajah agar lebih dekat dengan wanita yang saat ini sedang ketakutan, mungkin hampir menangis.
__ADS_1
"Gue mau Lo hapus semua foto itu, lain kali jangan asal jepret!" setelah itu, Laura berbalik kembali ke kandang aslinya.
****
Pukul 17.00 WIB
"Sorry telat dikit kak" ucap Laura menaruh tas tanpa melihat lawan bicara. Mila? dia tidak jadi bekerja karena di larang keras oleh kedua orang tuanya.
"Hmmm" saut pria yang sedang memberi uang kembalian pada pengunjung.
Tanpa membuang waktu, Laura mulai melakukan pekerjaan setelah sebelumnya mendapat instruksi dari manager. Laura melayani para pengunjung dengan semangat, senyuman manis pun selalu di tunjukkan, membuat beberapa pria di sana betah. sedangkan seseorang di meja kasir yang sedari tadi memperhatikan Laura, tersenyum sinis di balik masker dan kacamata hitam.
"Kalo tau dia kerja di sini, ogah gue" gumam pria yang tidak lain adalah Arvin.
Ya, Arvin terpaksa bekerja di restoran ini untuk sementara waktu, sampai mendapat panggilan kerja dari tiga surat lamaran pekerjaan yang dia kirim ke perusahaan bergengsi di Bandung. awalnya Arvin enggan, namun uang pegangan sekarang semakin menipis. dari pada saku rata beneran, mending kerja ye kan? karena sekeras atau sampai nangis darah sekali pun, keluarganya tidak akan memberikan sepeserpun uang.
Untuk menutupi rasa malu dan gengsi, Arvin mengenakan topi, kacamata hitam, serta masker, agar tidak ada yang mengenali indentitas nya. malu dong, kalo sampai teman, gebetan, atau bekas kekasih melihatnya seperti ini.
"Bagaimana Laura, masih sanggup?" tanya ibu Widya, manager restoran.
"Sanggup dong Buk" jawab Laura tersenyum sambil melepaskan Appron di pinggang, bersiap untuk pulang. karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.
"Bagus, kalo kamu Arvin?"
"Iya sanggup, saya pamit dulu" jawab Arvin berbalik pergi, sungguh definisi karyawan tak tau diri.
"Udah biarin aja, mungkin sifatnya emang gitu"
Laura pun pamit pulang kepada manager dan beberapa pegawai di sana. di parkiran, Laura di kejutkan dengan seorang laki-laki yang sudah lebih dulu keluar dari restoran duduk di motornya. mendengar suara di belakang, Arvin berbalik dan melepas kacamata serta masker di hadapan Laura.
"Jadi itu Lo!" seru Laura melihat penampilan Arvin dari atas sampe bawah.
"Iya kenapa? kaget kan, kalo cowok ganteng kayak gue kerja di tempat kayak gini" kata Arvin menyisir rambut dengan jari tangan.
"Iya gue kaget bahkan hampir jantungan! minggir"
"Biar gue yang bonceng" cegah Arvin mengangkat tubuh Laura ke jok belakang.
"Apa maksud Lo huh?" Laura mendelik kaget ketika tangan Arvin menyentuh ketiaknya.
"Pulang lah, ngapain lagi"
"Enak aja, Lo pikir gue ojek" ketus Laura merampas kunci motor.
"Makanya gue yang gonceng, jadi Lo nggak di kira tukang ojek"
"Pokoknya nggak! ini motor gue, jadi minggir gue mau pulang" Laura mendorong Arvin agar menjauh
__ADS_1
"Sekali ini aja, please" pinta Arvin terpaksa mengiba.
"Oke, tapi dengan satu syarat" ucap Laura menyeringai
GLEG
Perasaan Arvin mulai tidak enak, terlebih saat Laura mengeluarkan tali jemuran dari dalam jok. benar saja, sepanjang perjalanan pulang menuju kost, Arvin di buat senam jantung oleh aksi ugal-ugalan Laura di jalan raya. sebisa mungkin Arvin mengimbangi tubuhnya saat tiba-tiba Laura menginjak rem secara mendadak.
"Ya Allah! Astaghfirullah! Allahuakbar!" teriak Arvin gemetaran saat merasakan motor yang di kendarai wanita gila ini ingin menghantam truk kontainer di depan. ingin memeluk pinggang Laura tapi tidak bisa, karena sekarang tangannya berada di belakang punggung dalam posisi terikat.
"Akhirnya sampe juga" gumam Laura setelah memarkirkan motor.
Sekuat tenaga Laura menahan tawa, melihat kondisi Arvin yang masih duduk di atas motor dengan kaki yang gemetar.
"Udah nyampe woi" seru Laura menepuk bahu Arvin, setelah sebelumnya melepaskan ikatan di tangan, kemudian berbalik pergi dengan tawa yang langsung pecah.
"Cewek psikopat, stress" umpat Arvin berusaha turun, kakinya lemas seperti kangkung yang layu saat di masak. walau tertatih-tatih, akhirnya Arvin tiba di kamar dan melihat kondisi rambut serta baju nya yang sudah babak bingkas, persis seperti korban penganiayaan.
"Siapa Lo" tanya Arvin menunjuk bayangannya sendiri.
"Aarrrgggghhh cewek gila" jerit Arvin menendang tembok.
DUGH
"Hahahaha emang enak, Laura di lawan"
*
*
*
Bersambung.....
Dukung karya aku dengan cara 👇
🌳 Like 👍
🌳 Komen Sebanyak-banyaknya 🥰
🌳 VOTE
🌳 Hadiah🙈
🌳 Rating ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Dari jam 18.40 terus ganti lagi jam 20.00 tetep belom lulus review sampai sekarang. jadi maaf, bukan nggak mau double up🤧