Mahar 200 Ribu

Mahar 200 Ribu
Mencari Tahu


__ADS_3

Ya, Fiza adalah teman sekaligus kaki tangan pria misterius itu. Karena sikapnya yang dingin, dia di utuskan menjadi dosen di universitas xx untuk menjaga gadis masa kecil sahabatnya. siapa sangka hatinya yang semula beku kian berdebar setiap kali menatap dan berada di dekat Laura. Awalnya Fiza berusaha menghilangkan perasaan yang menurutnya akan menghancurkan hubungan persahabatannya. tapi semakin lama rasa itu semakin besar, hingga dia bertekad akan menjadikan Laura miliknya sekalipun harus bermusuhan dengan sahabatnya sendiri.


"Saya rasa kalo posisi kita di tukar, anda pasti melakukan hal yang sama seperti saya" cibir Fiza berusaha bangkit.


"Bang Al" baik Fiza maupun pria misterius serempak menoleh kearah sumber suara, dimana Cherry sedang berlari kecil menuruni anak tangga.


"Jangan pukul kak Fiza lagi" Cherry memeluk erat tubuh sang kakak, yang tidak lain pria misterius.


"Dia pantas dapetin itu, karena udah berani nampar kamu" ucapnya dengan tatapan membunuh ke arah Fiza.


"Please" pinta Cherry mendongak, terlihat jelas pipinya yang lebam akibat tamparan Fiza. bisa di bayangkan bukan, bagaimana kuatnya tenaga pria? membayangkan kejadian itu, spontan pria misterius yang di ketahui bernama Aldi mengepalkan tangannya. jika saja Cherry tidak datang menghentikannya, maka dapat dia pastikan kalau Fiza akan menginap di ruang ICU untuk beberapa hari ke depan.


"Ya udah, sekarang kamu ke kamar istirahat"


"Tapi Abang juga ikut ya?"


"Kamu duluan, Abang masih ada urusan sama dia"


"Enggak! aku tau, Abang pasti mau adu jotos lagi kan sama kak Fiza?" Aldi menghela nafas panjang mendengar penolakan Cherry. karena apa yang di katakan nya memang benar, bahwa dia ingin kembali menghajar wajah Fiza. rasanya belum puas menghajar orang yang sudah berani menyakiti adik semata wayangnya.


"Ya udah ayo" dengan terpaksa Aldi mengikuti kemauan Cherry, toh masih ada hari esok.


"Dan Lo, urusan kita belum selesai!" tegas Aldi tanpa suara sambil merangkul bahu Cherry. Sebelum kaki menginjak anak tangga pertama, Cherry berbalik menatap Fiza sebentar kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai ke tiga.


Sedangkan Fiza masih diam di tempat melihat kedua punggung yang berbeda itu perlahan menghilang. wajahnya memang sudah memar sana-sini akibat pukulan Aldi, namun bibirnya masih terlihat jelas membentuk sebuah senyuman misterius.


****


"CK, lama-lama mata Lo gue colok tau nggak!" ketus Laura mengacungkan pulpen ke wajah Mila yang sejak tadi menatapnya sambil terus tersenyum.


"Jangan lah, nanti mata gue nggak bisa lagi liat adegan live kayak tadi" ledek Mila mengerlingkan mata yang mana langsung mendapatkan lemparan bantal cukup keras dari Laura. namun bukannya berhenti, sahabat laknat nya itu justru tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Kesal bercampur malu, itulah yang di rasakan Laura saat ini. bagaimana tidak, tadi saat Arvin melepaskan tautan bibirnya, mereka di kejutkan dengan kehadiran Mila di samping mereka yang entah sudah sejak kapan. ketika di tanya, jawaban yang di lontarkan Mila adalah 'gue nggak liat apa-apa, anggep aja roh halus' padahal sudah jelas-jelas dia melihat semuanya. merasa wajahnya semakin memerah, Laura segera beranjak keluar dari kamar.


"Tuh anak kemana?" gumam Laura mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tapi tidak mendapati keberadaan orang yang telah membuatnya malu beberapa waktu yang lalu. "CK ngapain gue mikirin dia, nggak penting".


Setelah merasa wajahnya tidak lagi memerah dan suara tawa Mila tidak lagi terdengar, Laura hendak beranjak. namun niatnya di urungkan kala mendengar suara seseorang yang tidak lain adalah Arvin yang sepertinya sedang berbicara melalui handphone.


"Ogah, kenapa jadi nyuruh gue" πŸ“²


"Ya karena cuma Lo yang bisa bantuin gue. Lo tau sendiri sekarang gue nggak punya apa-apa untuk cari tahu tentang Cherry" ucap Arvin sambil memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut ketika mengingat kondisi Cherry yang terlihat kurang waras, di tambah dengan kehadiran Fiza yang kemungkinan besar adalah kakak kandung nya.


Ya, selama pacaran Cherry pernah bercerita tentang kakaknya, namun tidak pernah sekalipun menunjukkan foto kepadanya. itulah mengapa Arvin penasaran hingga meminta Syafi untuk menyelidikinya. jika benar mereka Kakak beradik berarti Fiza mendekati Laura ada maksud tertentu dan dia tidak akan membiarkan hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Oke gue ngerti, tapi hubungan kalian itu udah berakhir Vin dan Lo juga udah berumah tangga. apa jangan-jangan Lo masih suka sama Cherry?" πŸ“²


"Gu....


"Oh come on Vin move on dong, Lo udah liat dengan mata kepala sendiri tapi tetep aja masih suka sama cewek kayak dia? kalo Lo lupa, istri Lo kemana-mana jauh lebih cantik dari Cherry dan gue yakin waktu malam pertama dia masih ori kan?"πŸ“²


"Fi, Lo bisa positif thinking nggak sih sama gue?"


"Nggak! nggak ada positif thinking buat Lo di otak gue, apalagi ada kaitannya sama tikus got. gue ini peduli sama Lo Vin..." πŸ“²


Tuth


Arvin langsung mematikan panggilan tanpa mendengar ocehan Syafi yang tiada habisnya. percuma, lebih baik dia mengirimkan pesan agar tidak berdebat panjang kali lebar.


Sedangkan Laura sudah sejak tadi masuk kedalam kamar karena entah mengapa hatinya merasa sedikit sakit saat mendengar bahwa Arvin meminta sahabatnya untuk mencari tahu keadaan wanita yang menyerangnya pagi tadi. itu berarti, ada hubungan spesial antara mereka bukan? ah iya, dia hampir lupa dengan seseorang. Segera setelah mengirim sebuah pesan, Laura bergegas berganti pakaian.


"Lo mau kemana si?" tanya Mila penasaran, karena sejak masuk kedalam kamar wajah Laura seperti orang kesal.


"Mau ketemu Fiza" jawab Laura melirik sekilas lewat cermin. "Gue mau tanya soal Cherry, cewek tadi pagi yang nyerang gue"

__ADS_1


"Gue ikut ya?"


"Nggak! takutnya Fiza nggak mau jujur kalo ada orang lain" tolak Laura yang kini sudah siap dengan setelan kerja. karena hari mulai sore jadi sekalian saja, pikir Laura.


"Iya juga sih" Mila mengangguk setuju "ya udah Lo hati-hati, gue cabut dulu bye"


ceklek


Laura sedikit gugup melihat Arvin yang sedang duduk bersila di kursi sambil menatapnya. entah karena takut ketahuan menguping atau memang dasar jantung nya yang ingin berdetak kencang, setenang mungkin Laura berjalan menghampiri Arvin.


"Bos tadi ngabarin dan minta gue untuk dateng kerja lebih awal, tapi Lo berangkatnya kayak biasa" ucap Laura yang di jawab anggukan kepala oleh empunya. "kalo gitu, gue berangkat dulu ya"


"Tunggu!"


*


*


*


Bersambung....


Hai readers ku tersayang, Arvin sama Laura hadir lagi nih. maaf banget udah bikin kalian kecewa, bukan maksudku untuk gantungin cerita ini. soalnya di real aku sibuk kuliah + kerja, jadi waktu untuk bikin novelnya nggak ada. tapi insyaallah sebisa mungkin aku selesain cerita Arvin & Laura.


Yuk dukung karya ku dengan cara😍


🀍Like


🀍 Komen


🀍 Fav/Subscribe

__ADS_1


🀍 Hadiah/Vote sebanyak-banyaknya 😻


__ADS_2