Maid Of Vampire

Maid Of Vampire
Bab 23. Bagaimana Kalau Begini?


__ADS_3

Sebelum berangkat kuliah, Lyodra berinisiatif untuk membuat kopi terlebih dahulu untuk Aiden, karena pria itu bilang ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerja.


Dia masuk ke dalam ruangan yang tak jauh dari kamar Lucy, dan ternyata Aiden belum ada di sana. Dia memperhatikan tiap sudut, seolah mencari sesuatu yang terlihat mencurigakan.


"Apakah dia juga menyimpan sesuatu di sini?" gumam Lyodra, dia meletakkan kopi di meja, lalu berjalan menuju rak buku yang berisikan dokumen.


"Sepertinya ada beberapa rahasia perusahaan di ruangan ini," tebaknya seraya mengambil satu buah dokumen, tetapi sebelum Lyodra membukanya, pintu ruangan berdecit dan menampilkan wajah Aiden yang selalu terlihat pucat.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Aiden, matanya yang tajam menatap pada dokumen yang ada di tangan Lyodra.


Gadis itu langsung berubah gugup, tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Lyodra tersenyum tipis sambil berkata. "Saya membuat kopi untuk anda, Tuan. Tapi tiba-tiba saya tertarik untuk membaca dokumen ini, kebetulan saya juga belajar tentang perusahaan, jadi saya merasa akan mendapatkan ilmu setelah membacanya."


Aiden langsung menarik sudut bibirnya, karena alibi Lyodra terasa cukup masuk akal. Pria tampan itu mendekat ke arah Lyodra dengan tatapannya yang nyaris tak terputus.


"Siapa yang menyuruhmu membuat kopi?" tanya Aiden sambil mencondongkan wajah ke arah Lyodra, hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.


"Tidak ada, saya berinisiatif sendiri, karena Tuan bilang ingin bekerja di rumah."


Aiden tersenyum lebar, tetapi bukannya senang, Lyodra malah merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh tuannya.

__ADS_1


Mata Aiden menyipit, menatap penuh selidik. "Apakah diam-diam kau ingin menggodaku?"


Secara reflek Lyodra membulatkan kelopak matanya. "Saya tidak memiliki niat seperti itu, Tuan. Lagian apa hubungannya membuat kopi dengan menggoda anda?!"


"Tentu saja ada hubungannya!" tuding Aiden, dia semakin mendekat, hingga membuat Lyodra semakin mundur. "Kalau tidak, mungkin kau tidak akan ada di sini. Sudahlah jujur saja ... kau mulai tertarik padaku 'kan?"


Hih! Lyodra langsung mengerutkan pangkal hidungnya, merasa bahwa Aiden adalah pria paling narsis yang dia temui.


"Tuan, tolong sadarlah. Tidak ada yang tertarik pada anda. Saya hanya membuat kopi, dan terlebih ini adalah pekerjaan saya, karena saya adalah pelayan pribadi anda!" tegas Lyodra, ingin mematahkan kepercayaan diri Aiden. Meskipun saat ini dia merasa jantungnya jedag-jedug tidak karuan, karena ditatap dengan begitu intens.


"Oh ya?" Aiden memangkas jarak, hingga membuat Lyodra melotot dan menahan nafas. "Sayangnya aku tidak percaya. Karena sudah beberapa kali kau mencoba untuk mencari perhatianku."


"Bagaimana kalau begini?"


Cup!


Aiden mengecup bibir Lyodra sekilas, membuat gadis itu mati kutu. Kakinya gemetar dan sulit melangkah, padahal dia ingin sekali menghindari pria satu ini.


Lagi-lagi Lyodra merasa lemah dengan rayuan pria tampan. Sementara Aiden merasa bibirnya berkedut, dengan jantung yang kembali hidup. Suka sekali dia menggoda Lyodra seperti ini.

__ADS_1


"Hah, ketahuan kan? Kau pasti suka padaku!" ejek Aiden melihat Lyodra yang terbengong-bengong seperti kerbau kekenyangan.


"Siapa bilang?!" cetus Lyodra dengan terbata.


"Buktinya kau diam saja saat aku cium. Pasti kau menyukainya 'kan?" Aiden mengetuk pucuk hidung Lyodra, semakin membuat gadis itu kesulitan bernafas.


"Dengarkan saya baik-baik, Tuan. Saya tidak tertarik pada anda, dan apapun yang saya lakukan, bukan untuk membuat anda tergoda!"


Kalimat itu lolos meskipun sedikit tersendat di bibir Lyodra. Gadis cantik itu meletakkan kembali buku dokumen yang sempat dia ambil, tetapi ketika dia berbalik dia justru mendapat serangan dari Aiden.


Tubuh Lyodra dikunci begitu juga dengan bibirnya. Gadis itu mendelik, karena Aiden malah berusaha untuk mendobrak pertahanan dirinya.


Sukses, mulut Lyodra terbuka, lidah Aiden langsung mengobrak-abrik apapun yang ada di dalam sana. Hingga membuat jantung Lyodra berpacu dengan sangat cepat.


Lyodra, sadarlah!


Malaikat di sisi kanannya berbisik. Namun, suara setan lebih mendominasi, karena Lyodra malah menikmati ciuman Aiden, hingga pria itu menyeringai tipis.


Sial, kenapa aku malah menyukai permainannya!

__ADS_1


__ADS_2