Maid Of Vampire

Maid Of Vampire
Bab 42. Tanganmu Nakal


__ADS_3

"Bagaimana, apa dia mau bicara denganmu?" tanya Kaisar saat Aiden baru saja kembali ke ruang keluarga. Melihat raut wajah putranya, Kaisar merasa bahwa Aiden tidak berhasil membujuk Lucy.


"Aku sudah bicara dengannya. Ada kesalahpahaman di antara kami, makanya Lucy melakukan hal senekat itu. Sekarang dia sedang menerima hukuman, dan aku memberinya waktu sampai bulan purnama tiba," balas Aiden sambil mengingat ucapan Lucy beberapa saat lalu.


Dia masih tak percaya jika wanita serigala itu diam-diam menaruh rasa padanya. Karena selama mereka hidup berdampingan, Aiden merasa bahwa semua perhatian Lucy hanya bentuk perhatian antar saudara.


"Kau tidak sedang membohongi kami 'kan, Aiden?" timpal Airish, seolah tak yakin dengan jawaban putranya.


Aiden hanya menggelengkan kepala. Ada sedikit rasa bersalah, saat dia teringat ingin membunuh Lucy menggunakan kedua tangannya. Dan selanjutnya Kaisar kembali melayangkan pertanyaan. "Lalu bagaimana dengan gadis itu?"


Semua orang nampak menunggu jawaban Aiden, tetapi pria itu lebih dulu menghela nafas panjang.


"Aku dan Lyo memutuskan untuk menikah, Dad. Dia sudah menerima identitas asliku, dan sekarang kami hanya perlu meminta restu ayahnya," jawab Aiden apa adanya.


Dan hal tersebut membuat Kaisar dan Airish saling pandang. Mereka jelas tahu bagaimana hubungan antara vampir dan manusia, di samping perbedaan yang sangat membentang, ada pula resiko yang harus mereka terima.


"Lalu bagaimana jika dia hamil anakmu, Aiden? Kau akan menjadikan dia sepertimu?" tanya Kibrit. Mengingat kisah Kaisar dan Airish, salah satu dari mereka akhirnya harus berkorban.

__ADS_1


"Aku tidak akan membuatnya hamil, Grandpa. Aku dan dia sudah sepakat untuk tidak melakukannya," jawab Aiden, meskipun dia cukup merasa ragu, karena pasti sulit untuk menahan hasrat di dada mereka.


Semua makhluk pucat itu terlihat bingung, karena mau mencegah seperti apapun, Aiden tidak akan mungkin mengubah keputusannya. Karena vampir tampan itu sudah benar-benar jatuh cinta pada Lyodra.


"Kalau begitu segeralah temui ayahnya. Aku yakin dia tidak mungkin menerimamu begitu saja. Apalagi kau dan dia pernah terlibat masalah," ujar Kaisar sambil menepuk bahu sang anak.


Lantas setelah itu dia pun keluar dari rumah untuk berburu hewan liar. Dia merasa haus sekarang, ingin meminum darah yang masih segar.


Dan yang lain ikut menyusul, meninggalkan Aiden dan Kibrit di ruangan itu. Mereka sama-sama terdiam, hingga akhirnya Kibrit kembali buka suara. "Kau yakin bisa menahannya? Lalu bagaimana jika dia bersedia untuk menjadi seorang vampir seperti dirimu?"


Cintanya pada Lyodra bukan hanya sekedar obsesi semata. Dia ingin membahagiakan Lyodra, tetapi tidak dengan mengubah jati diri gadis itu. Biarlah Lyodra tetap menjadi manusia, manusia yang istimewa.


Kibrit mengulas senyum tipis setelah mendengar jawaban Aiden. "Kau harus menjaga dia betul-betul. Apa yang dia miliki sekarang adalah daya tarik, kelak kau akan kesulitan untuk mengalihkan pandangan orang-orang pada calon istrimu."


Mengingat tentang Lyodra cukup membuat dada Aiden bergetar. Seperti apa yang dikatakan Kibrit, daya tarik Lyodra memang begitu kuat, hingga dia sulit terlepas dari gadis cantik itu. Di dekat Lyodra, dia seperti merasakan kehidupan yang benar-benar nyata.


***

__ADS_1


Sore harinya Aiden pulang ke rumah, wajahnya terlihat lebih segar, karena dia telah meminum banyak darah di rumah Kibrit.


Saat tiba di rumah, dia langsung mencari keberadaan Lyodra. Dia bertanya pada Prima. "Di mana dia?"


"Anda sudah pulang, Tuan? Nona ada di kamar anda. Sudah satu jam dia belum keluar," jawab Prima apa adanya.


Mendengar jawaban itu, Aiden langsung melengos pergi masuk ke dalam kamarnya. Namun, dia tidak melihat sosok calon istrinya.


Ketika dia hendak melangkah, terdengar tawa keras berasal dari kamar mandi. Membuat Aiden yakin jika Lyodra ada di dalam sana.


Dengan seringai licik Aiden membuka pakaiannya dan masuk begitu saja. Dan hal tersebut tentu membuat Lyodra merasa terkejut, gadis itu menghentikan tangannya yang sedang bermain busa di dalam bathtub.


Mata Lyodra membola saat melihat tubuh polos Aiden. "Kau sudah kembali?" tanya Lyodra dengan tergagap.


Namun, dia hanya mendapatkan senyum ambigu dari Aiden. Detik selanjutnya, Aiden ikut masuk ke dalam bathtub dan memeluk Lyodra dari belakang, tangannya yang kekar menyusuri lekukan tubuh Lyodra yang tertutup busa, hingga bermuara di dua gundukan sintal milik gadis itu.


"Ai, tanganmu nakal!" teriak Lyodra mulai merasa getaran aneh. Akan tetapi Aiden hanya terkekeh lalu mengecupi tengkuk Lyodra dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2