
Seperti terbebas dari kutukan, kalung permata yang dihancurkan oleh Aiden justru membuat darah vampir di tubuhnya menghilang. Dan kini hanya ada satu julukan dalam dirinya, yaitu seorang manusia.
Tubuh dingin nan pucat itu seketika menjadi hangat, layaknya manusia biasa. Begitu pun juga dengan bola mata Aiden yang terang, membuat mereka semua tak bisa memungkiri bahwa Aiden telah menjadi manusia sepenuhnya.
Karena kalung permata berwarna merah delima itu, mereka telah melukiskan sejarah yang begitu melegenda.
Kini Aiden sudah duduk di tengah-tengah keluarganya dengan wajah yang terlihat sangat segar bugar. Namun, mereka semua masih menatap Aiden tak percaya.
Bahkan Airish terus menggelengkan kepala, karena ternyata anak yang telah dia lahirkan bisa kembali menjadi manusia.
"Ini benar-benar dirimu, Ai?" tanya Airish, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya, karena merasa mustahil dengan apa yang ada di hadapannya.
"Ya, Mom. Ini aku, anakmu ... aku juga tidak tahu kenapa ini semua bisa terjadi. Mungkin karena aku terlalu meremehkan kalung itu, sehingga Dewa Alam mengutukku," jawab Aiden, kini kekuatan pria itu telah menghilang semua. Tak ada satupun yang tersisa dari identitas dirinya di masa lalu.
Dan hal tersebut tentu membuat Lyodra merasa bersyukur, karena akhirnya Aiden menjadi manusia normal seperti dirinya. Mereka akan menjalani kehidupan seperti yang lain, dan menjadi keluarga yang bahagia.
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Kaisar dengan raut penasaran. Melihat putranya yang seperti itu, tentu membuat dia pun ketar-ketir, takut jika kelak ada kejadian yang tak terduga lagi.
"Karena Lyodra sudah menjadi istriku, aku merasa dia tidak membutuhkan kalung penangkal vampir warisan leluhurnya. Jadi, aku berinisiatif untuk menghancurkan benda itu. Tapi saat itu, aku malah merasa sesuatu dalam diriku ditarik secara paksa, aku benar-benar kehilangan kendali, hingga tak merasakan apa-apa," jelas Aiden sesuai dengan apa yang dia rasakan malam itu.
Dan penjelasan itu benar-benar diluar pemikiran semua orang. Sama seperti kehadiran Aiden yang tumbuh di rahim seorang manusia istimewa.
"Apa itu artinya kau bukan anakku lagi?" tanya Kaisar, karena dia merasa sudah tidak ada darah campuran di tubuh Aiden.
__ADS_1
"Kau ini bicara apa, Kai? Aiden tetaplah anakmu, karena kau dan Airish yang membuatnya ada," timpal Kibrit dengan tatapan serius.
"Mommy, Daddy dan kalian semua. Aiden tetaplah bagian dari keluarga ini, jadi, jangan anggap Aiden adalah mahkluk asing," ucap Aiden, tak ingin membuat keluarga vampirnya merasa segan.
"Dan kau—" Aiden melirik ke arah Lyodra yang sedari tadi diam di sampingnya. "Terima kasih sudah menungguku. Aku sangat merindukanmu, Sayang."
Bibir Lyodra langsung tersenyum sumringah. Dia merabaa wajah Aiden yang nampak seperti manusia pada umumnya. "Aku sangat senang karena kau kembali, Ai. Kemarin aku benar-benar takut."
Lyodra langsung membenamkan wajah di dada Aiden, dia kembali menangis sesenggukan, karena ternyata takdir baik masih berpihak padanya.
"Jangan khawatirkan apapun lagi, karena mulai sekarang aku akan terus di sampingmu. Aku mencintaimu, Lyodra."
"Aku juga sangat mencintaimu, Ai," balas Lyodra, dan semua orang termasuk Lucy hanya mampu melihat pemandangan manis itu.
Tidak ada yang bisa Lucy lakukan selain ikut merasa bahagia saat Aiden pun bahagia. Apalagi kini Aiden telah menjadi sosok manusia.
Malam harinya.
Aiden kembali ke rumahnya yang ada ada di tengah kota. Prima yang semula ikut cemas, kini merasa lega saat melihat Aiden sudah baik-baik saja.
Begitu masuk ke dalam rumah, Aiden langsung membawa Lyodra ke kamar. Karena rasanya sudah tidak sabar, ingin memadu kasih dengan gadis cantik itu.
Dia ingin menyelesaikan malam pertama yang sempat tertunda. Dengan menuntaskan hasrat hingga mereka merasa puas.
__ADS_1
"Aiden, apakah ini semua tidak terlalu terburu-buru? Kau baru saja sadar, Sayang," ucap Lyodra dalam gendongan Aiden.
Namun, pria itu tampak tak peduli. "Malam ini aku hanya menginginkan kau, Lyo. Jadi jangan membantah."
Aiden membaringkan Lyodra di atas peraduan, lalu dengan cepat dia membuka bajunya hingga menyisakan dada bidang yang polos.
Tanpa segan lagi, Aiden langsung menyergap tubuh Lyodra dengan cumbuuannya. Dia memancing hasrat gadis itu, hingga Lyodra benar-benar merasa basah.
"Akh, Ai!" teriak Lyodra saat Aiden merobek pakaian, lalu menyerang pucuk dadanya dengan manja.
Seketika tubuh yang sempat tidak berdaya itu berubah menjadi sangat ganass. Hingga Lyodra hanya bisa pasrah.
"Kau cantik sekali, Sayang. Aku menyukai lekuk tubuhmu," puji Aiden, semakin menyusuri tiap jengkal tubuh Lyodra. Dan yang bisa gadis itu lakukan hanyalah mendesaah.
"Aiden, ini gila!" teriak Lyodra sambil menjambak rambut Aiden. Dan hal tersebut membuat Aiden semakin bersemangat.
Hingga pada saat dia merasa tubuh Lyodra siap dimasuki, Aiden langsung memposisikan dirinya di antara kaki gadis itu.
"Aku akan melakukannya dengan baik, Lyo. Jadi, nikmatilah," ucap Aiden sambil menatap wajah istrinya yang sudah memerah.
Tanpa menunggu persetujuan, Aiden sudah berusaha untuk melandaskan pusakanya. Hingga pada hentakan yang kesekian kali, Lyodra menjerit bersama penyatuan mereka yang sempurna.
"Aku mencintaimu, Sayang. Biarkan aku bergerak," ucap Aiden.
__ADS_1
"Ini sangat sesak, Ai! Jangan terburu-buru," jawab Lyodra, dia mencengkram bahu Aiden, hingga menyisakan beberapa cakaran.
Sementara pria itu mulai bergerak menciptakan kenikmatan yang tiada tara. Hingga entah pukul berapa, mereka sama-sama tumbang dengan nafas yang terengah-engah.