
Sore itu Aiden dan keluarganya benar-benar meninggalkan rumah, begitupun dengan Lucy. Sementara Lyodra kembali ke kamar, dan dia langsung mencari kalung permata yang sempat dia lepaskan sebelum mandi.
Gadis itu membuka laci nakas yang ada di samping ranjangnya. Akan tetapi kosong, tidak ada apapun di sana, hingga membuat jantung Lyodra mendadak berpacu dengan cepat.
Dia membuka laci lain, tetapi jawabannya tetap sama.
"Aku yakin, aku menaruhnya di sini, tapi kenapa sekarang tidak ada?" gumam Lyodra dengan perasaan cemas. Dia tidak akan mungkin seceroboh itu, meninggalkan benda berharga di sembarang tempat.
Lyodra langsung mengacak-acak kamarnya, dia membuang apapun yang ada di atas ranjang, demi menemukan satu-satunya benda yang mampu melindunginya.
Namun, sampai beberapa saat berlalu, Lyodra tetap tidak mendapatkan hasil apapun. Gadis cantik itu langsung meraup wajahnya, mencoba mengingat-ingat terakhir kali dia menyimpan kalung permata tersebut.
"Apakah ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku? Tapi apa tujuannya? Lagi pula tidak banyak orang tahu mengenai kalung itu," gumamnya lagi, dia mulai merasa frustasi, karena dia tidak tahu, bahaya apa yang akan mengancamnya.
Hingga tiba-tiba tercetus sebuah pemikiran yang melintas di otaknya.
"Apakah ini semua rencana Tuan Aiden, agar aku tidak meninggalkan rumah ini?" tebak Lyodra, karena dia merasa hal tersebut paling masuk akal. Ya, di rumah ini hanya Aiden yang membahas tentang kalungnya, jadi ada kemungkinan bahwa pria itu yang mengambilnya.
__ADS_1
"Hah, dia benar-benar licik ya?"
Lyodra mencebikkan bibir dan akhirnya duduk di atas ranjang dengan tubuh yang terasa lemas. Jadi, sebelum Aiden kembali ke rumah ini, dia tidak bisa ke mana-mana.
Namun, tak berselang lama kemudian, Lyodra mendapat telepon dari David. Gadis cantik itu langsung menyambar benda pipih miliknya, lalu menerima panggilan sang ayah.
"Ada apa, Dad?" tanya Lyodra langsung. Akan tetapi bukan David yang menjawabnya, melainkan sang nenek, Margaretha.
"Halo, Lyo. Ini nenek, Daddy-mu masuk rumah sakit, Sayang. Dia mengalami kecelakaan kerja," ucap Margaretha, memberi kabar mengenai kondisi David yang saat ini sedang ditangani oleh dokter.
Mendengar itu, tentu Lyodra merasa tertegun. Dia bimbang, karena di satu sisi, dia tidak boleh pergi ke manapun, terlebih lagi kalungnya tidak ada. Sementara di sisi lain, ayahnya sedang berada di rumah sakit.
"Halo, Lyo, Lyo!" panggil Margaretha, karena sang cucu tak lekas menjawab.
"I-iya, Nek. Lyo ke sana sekarang, di mana Daddy dirawat?" putus Lyodra, karena dia tidak akan mungkin bisa diam saja, sementara dia tidak tahu bagaimana kondisi sang ayah.
Margaretha langsung menyebutkan alamat rumah sakit yang dekat dengan tempat kerja David. Dan setelah panggilan itu terputus, Lyodra langsung bergegas, dia bersiap-siap untuk keluar rumah, dengan berbagai macam benda yang harus dia bawa.
__ADS_1
Ketika dia baru saja melewati pintu kamar, dia langsung berhadapan dengan Prima yang saat itu ingin pergi ke dapur.
"Bu Prim, aku harus pergi sekarang, karena Daddy-ku kecelakaan. Jadi, tolong jangan bilang pada Tuan kalau aku keluar," ujar Lyodra dengan raut memohon. Karena dia tahu, jika dirinya melanggar peraturan di rumah ini, maka Prima lah yang harus bertanggung jawab.
"Tapi, Lyo—"
"Bu, tolong—sekali ini saja. Daddy membutuhkan aku." Raut wajah Lyodra yang kerap terlihat cengengesan, kini hilang seketika, membuat Prima akhirnya merasa tak tega.
"Kalau begitu, biar supir mengantarmu," pungkas Prima, dan Lyodra langsung mengangguk setuju.
Akhirnya malam itu, Lyodra keluar dari rumah dengan diantar oleh supir pribadi Aiden. Ketika mobil melandas, melewati wilayah perbatasan, Edge langsung menyeringai penuh. Karena dia merasakan mangsanya yang mulai mendekat.
Lyodra duduk dengan gusar, sepanjang jalan dia terus berdoa untuk keselamatan David dan juga dirinya. Hingga dia tak menyadari, saat bahwa di depan sana, ada sosok bertaring yang menghadang jalannya.
Mobil langsung mengerem secara mendadak, hingga membuat tubuh Lyodra terhuyung ke depan. Saat Lyodra mengangkat kepala, kedua matanya langsung melebar dengan sempurna.
Edge sudah menunggunya dengan wajah sumringah.
__ADS_1
***