
Keesokan harinya.
Aiden dan Lyodra sepakat untuk pergi mengunjungi David dan Margaretha. Mereka sama-sama ingin meminta restu pada dua orang itu, agar bisa secepatnya menikah.
Sepanjang perjalanan Lyodra terus mengulum senyum, seperti tidak ada beban. Berbanding terbalik dengan Aiden, tiba-tiba pria itu merasa cemas, takut jika hubungan mereka ditentang habis-habisan.
"Kau tidak takut sama sekali jika nantinya Ayahmu menolakku?" cetus Aiden, melayangkan pertanyaan begitu mendadak.
Dan hal tersebut membuat Lyodra menoleh, dia menatap Aiden yang duduk di sampingnya, karena kini mereka pergi menggunakan mobil, Aiden yang mengendarainya.
Lyodra tersenyum tipis, lalu menyenderkan kepala di lengan Aiden. "Kau tenang saja, aku akan membujuk Daddy dengan keras. Aku pastikan dia tidak akan menolakmu."
"Kau memiliki sebuah rencana?"
Lyodra mengangguk-angguk lucu. "Benar, jadi jangan khawatirkan apapun."
Mendengar itu, Aiden sedikit merasa lega. Hah, ternyata vampir bisa merasa cemas juga. Kendaraan roda empat itu melandas cepat, karena jalanan masih cukup lenggang di waktu sepagi ini. Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah yang pernah ditinggali oleh Lyodra.
Aiden menatap rumah yang cukup besar itu, dia yakin hanya rumah itu yang dipertahankan oleh David setelah perusahaannya hancur.
Mengingat itu, Aiden menggigit bibirnya sendiri, karena sekarang dia malah datang untuk meminta putri dari pria paruh baya itu.
"Ai, ayo turun!" ajak Lyodra ketika melihat sang kekasih yang melamun.
"Bisakah kau memberiku semangat? Aku sedikit takut untuk bertemu dengan ayahmu," balas Aiden yang membuat Lyodra tergelak kencang.
"Kau ini ada-ada saja, masa vampir takut dengan manusia?"
"Karena manusia itu ayahmu, jadi aku takut."
Lyodra semakin terkikik geli. "Ya sudah, aku harus apa supaya kau semangat?"
__ADS_1
Aiden tak menjawabnya dengan kata-kata, karena dia malah menarik tengkuk Lyodra dan melumaat habis bibir gadis cantik itu. Karena rasanya yang begitu nikmat, Lyodra tak menolak sedikitpun, bahkan terkesan dia yang memimpin.
Hingga mereka tak sadar jika sudah ada seorang pria paruh baya yang berdiri sambil memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
Lama dia menunggu, tidak ada pergerakan sedikitpun dari mobil itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendekat.
David tidak bisa melihat kegiatan di dalam mobil, berbanding terbalik dengan Lyodra dan Aiden. Namun, keduanya masih asyik bercumbu, membuat David jadi bertambah penasaran.
Pria paruh baya itu mendekat dan mulai menempelkan wajahnya tepat di kaca mobil. Dia langsung mendelik begitu melihat putrinya sedang berciuman dengan seorang pria yang entah siapa. David hanya bisa melihat punggungnya saja.
Sama halnya dengan David, Lyodra pun membuka kelopak matanya lebar-lebar begitu melihat wajah sang ayah sudah memenuhi kaca. Dengan reflek dia mendorong dada Aiden hingga ciuman mereka terlepas.
"Ai!" panggil Lyodra sambil menepuk paha kekasihnya. Sementara manik matanya terus tertuju pada satu arah.
Aiden terlihat kebingungan. "Ada apa?"
Karena Lyodra tak merespon, Aiden mengikuti arah pandang gadis itu, hingga dia ikut terkejut saat melihat wajah David.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di ruang tamu, Aiden duduk di sofa single dengan wajahnya yang datar. Sementara Lyodra sudah bergelayut di samping David.
Pria paruh baya itu melayangkan tatapan permusuhan, meskipun Lyodra terus membujuknya. Dia benar-benar tak menyangka jika Lyodra berhubungan dengan orang yang pernah menghancurkan perusahaannya.
Kau benar-benar gila, Lyodra! rutuk David dalam hati.
"Jadi, karena hal ini kau meminta Daddy untuk libur bekerja?" tanya David buka suara. Sementara Aiden tetap stay cool di tempat duduknya.
"Benar, Dad. Aku tidak hanya ingin memperkenalkan Aiden sebagai kekasih, tapi juga calon menantu Daddy," jawab Lyodra yang membuat David terasa sesak nafas.
"Apa?! Kau bercanda, Lyo?" sentak David langsung. Sementara Margaretha yang turut serta menyimak obrolan itu, terus memperhatikan Aiden yang memiliki kulit pucat seperti mayat hidup.
"Itu semua benar Ayah Mertua, aku akan menikahi Lyodra," sambar Aiden, yang membuat mata David langsung melotot seketika. Apalagi mendengar panggilan pria itu kepadanya. Ayah mertua? Cih, sungguh menggelikan.
__ADS_1
David menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
"Aku menolakmu!" ketusnya tanpa pertimbangan. Mengingat betapa sombong dan kejamnya Aiden saat itu, dia tidak mau menjadikan pria itu sebagai menantu.
"Tapi putri anda ingin menikah denganku, Ayah Mertua," jawab Aiden dengan santai serta wajahnya yang senantiasa datar.
"Berhenti memanggilku seperti itu! Aku bukan ayah mertuamu!" cetus David dengan tatapan kesal.
Lyodra memejamkan matanya, lalu mencengkram kuat lengan David. "Dad, kami ini saling mencintai, dan semua yang aku lakukan adalah bentuk baktiku pada Daddy." bisik gadis itu mulai meloloskan rencana.
"Apa maksudmu, Lyo?"
"Asal Daddy tahu, dari awal aku ini sengaja mendekatinya. Aku pura-pura menjadi pelayan dan menggodanya sampai dia tergila-gila padaku. Sekarang aku sudah berhasil menundukkan macan liar yang Daddy cari, lalu kenapa Daddy malah menolaknya? Terima saja dia supaya perusahaan Daddy kembali, dan aku akan ikut menguras hartanya," jelas Lyodra dengan suara yang hanya mampu didengar jelas oleh David.
Mendengar itu, David pun mengerutkan kedua alisnya. Dia nampak mempertimbangkan, sementara Aiden mulai senyum-senyum tidak jelas.
"Kau yakin melakukan itu semua untuk Daddy?" tanya David memastikan.
"Tentu saja benar, Dad. Untuk apa aku memiliki keberanian sebesar ini, kalau bukan untuk menuntut balas atas apa yang dia lakukan? Sudahlah terima dia jadi menantu Daddy, selanjutnya biar aku yang bekerja. Daddy minta apapun, aku pastikan langsung ada di depan mata," ujar Lyodra dengan yakin sekali.
Jiwa pendendam David mulai berkobar. Akhirnya dia pun menganggukkan kepala dengan mata yang menyipit. "Baiklah, aku akan merestui pernikahan kalian. Asalkan kau mau menyanggupi semua permintaanku sebagai jaminan hidup putriku."
"Apa itu, Ayah Mertua?"
"Aku minta perusahaan yang sudah maju pesat, satu kapal pesiar, rumah mewah di kawasan elit beserta perabotan termasuk mobil. Dan satu lagi, aku minta pesawat pribadi supaya perjalanan bisnisku lancar," jawab David dengan semangat yang menggebu-gebu, sementara semua orang yang mendengarnya hanya bisa melongo.
"Oh iya, aku mau itu semua besok!" sambung pria paruh baya itu.
Glek!
Ayah Mertuaku matre juga ternyata.
__ADS_1