
Sudah satu minggu waktu berlalu, tetapi Aiden belum sadar juga. Padahal Kibrit dan Kaisar sudah berusaha keras melakukan apapun yang mereka bisa, segala macam ramuan disuntikkan ke dalam tubuh Aiden, tetapi mereka tak mendapat hasil apa-apa.
Namun, anehnya tubuh Aiden tak membusuk atau pun hancur, dan hal tersebut membuat satu keluarga vampir itu merasa heran.
Sebenarnya kekuatan apa yang dihasilkan kalung milik Lyodra, hingga memberikan reaksi luar biasa pada sosok yang menghancurkannya.
Setiap hari yang dilakukan Lyodra hanya lah menangis di samping pembaringan Aiden. Bayangan akan indahnya pengantin baru musnah begitu saja, setelah sang suami mengalami kejadian yang tak terduga.
Seperti saat ini, setelah Kibrit memberikan suntikan yang kesekian kali pada tubuh Aiden, akhirnya Lyodra pun ikut masuk ke ruangan suaminya.
Wajah sendu dengan mata sembab menjadi tampilannya sehari-hari, karena keceriaannya terenggut bersama Aiden yang tak sadarkan diri.
Dia melangkah dengan gontai, lalu duduk di kursi sambil menatap mata Aiden yang senantiasa tertutup rapat. Rasanya sangat menyedihkan melihat orang yang kita cintai di ambang hidup dan mati.
"Aiden, kapan kamu akan bangun?" tanya Lyodra dengan air mata yang kembali mengalir, seolah takkan pernah habis, cairan bening itu selalu meluncur ketika Lyodra mengingat tentang Aiden.
Dia sama sekali tak memberitahu keluarganya tentang keadaan sang suami, karena dia tidak mau David maupun Margaretha tahu jika ternyata Aiden adalah seorang vampir.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Sayang. Apa kau tidak merindukan aku?" lirih Lyodra seraya meraih tangan Aiden yang dingin, dia mengecupnya berkali-kali berharap sentuhan itu bisa dirasakan oleh suaminya.
"Aku sedang menepati janjiku, Ai, apapun yang terjadi aku akan tetap berada di sampingmu. Maka dari itu bangunlah, kamu sudah terlalu lama tidur."
Hening. Tidak ada balasan apapun, sebab Aiden tetap bergeming, dan hal tersebut membuat Airish yang mengintip dari balik jendela ikut merasakan kesedihan yang sama. Dia kasihan melihat Lyodra.
"Jangan membuatku takut, Aiden. Aku tidak bisa melewati hari sendirian, bangunlah, Sayang ...."
Akhirnya Lyodra tergugu, dia meletakkan kepala di samping pembaringan Aiden sambil terisak-isak. Rasanya tidak tahan jika terus-menerus diabaikan seperti ini, andai dia bisa menyerahkan separuh nyawanya, mungkin dia akan sukarela memberikannya pada Aiden.
Perasaan marah, kesal sekaligus rindu bercampur menjadi satu. Lyodra tidak tahu takdir apa yang akan mereka hadapi ke depannya, tetapi dia selalu membatin agar Aiden kembali ke sisinya.
"Kau bilang ingin melakukan apapun bersamaku, ayo kita lakukan, Ai ... jangan seperti ini, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak sanggup!"
Suara tangis Lyodra terdengar semakin keras dengan dada yang terus naik-turun. Tak ada bosan-bosannya dia mengajak Aiden bicara, meskipun hanya sepi yang dia dapatkan.
"Kalau kau tidak mau membuka matamu, maka aku juga akan ikut pergi, aku akan menyusulmu." Ucapan Lyodra yang terdengar gila, karena saking sudah putus asanya.
__ADS_1
Dia tidak tahu jika sedari tadi bulu mata Aiden mulai bergerak. Tangannya yang semula dingin kini berubah menghangat dalam sekejap.
Perlahan, kelopak mata itu terbuka, dan yang pertama kali dia lihat adalah Lyodra yang menangis di samping pembaringannya.
Sedari tadi Lyodra terus menelusupkan wajah, jadi Aiden tak bisa melihat paras cantik isterinya.
Dia mengernyit saat merasakan detak jantung yang berubah normal, dan satu kata pertama yang terucap dari bibirnya adalah.
"Lyodra."
Deg!
Lyodra langsung menghentikan tangisnya, karena mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
Dia terdiam sesaat, tetapi suara itu tak ada lagi, hingga akhirnya dia memilih untuk mengangkat kepala, dan detik selanjutnya gadis itu mendapati kelopak mata Aiden yang terbuka sempurna.
Lyodra langsung terperangah.
__ADS_1