Maid Of Vampire

Maid Of Vampire
Bab 29. Itukan Yang Kau Mau?


__ADS_3

Aiden langsung membawa Lyodra ke rumah sakit terdekat. Agar gadis itu ditangani dengan cepat. Dan dari semua gerak-gerik Aiden, semua orang termasuk kedua orang tuanya, tahu jika sang anak sudah jatuh hati pada gadis yang dianggap istimewa itu.


Mereka tidak pernah melihat Aiden bersikeras menolong manusia, apalagi Aiden sudah tahu sejak awal tujuan Lyodra meminta pekerjaan padanya.


"Bagaimana dengan anak buah Edge, Dad?" tanya Aiden pada Kaisar, mereka masih berada di ruang tunggu, karena Lyodra masih ditangani oleh dokter.


"Mereka sudah dibawa ke markas," jawab Kaisar, dia sudah meminta anak buahnya untuk mengurus semuanya.


"Baguslah kalau begitu, aku tidak akan membiarkan mereka kembali menyerang manusia," jawab Aiden dengan tangan yang terkepal kuat. Menunjukkan keseriusannya.


"Kau takut mereka melukai Lyodra?" tanya Kaisar dengan tatapan mengejek. Hingga membuat Aiden berubah salah tingkah, sikapnya sekarang pasti sangat kentara, bahwa dia telah menyukai gadis itu.


Tiba-tiba Airish terkekeh saat melihat raut wajah putranya yang berubah dalam hitungan detik.


"Kau tidak bisa menyembunyikannya lagi, Aiden," ucap Airish sambil menepuk bahu Aiden sekilas.


"Memangnya terlihat sekali ya?"


Kekehan Airish malah berubah jadi tawa saat mendengar pertanyaan putranya. Dia tahu kalau Aiden memiliki sifat gengsi yang begitu tinggi, sama seperti ayahnya.


"Jangan seperti Daddy. Ungkapkan apa yang ingin kau ungkapkan, karena kau tidak akan pernah tahu, sampai kapan gadis itu akan bertahan di sisimu!" kata Airish, mengingat bagaimana sang suami yang sulit sekali saat menyatakan cinta untuknya.


Aiden tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka yang sepertinya harus dilestarikan. "Mommy tidak perlu khawatir, aku pastikan dia tetap berada di sampingku."


Airish langsung mengusap kepala Aiden dengan pelan. Sementara Lucy yang sedari tadi menyimak obrolan, merasa bahwa hatinya telah terbakar.

__ADS_1


Otaknya terus bertanya, kenapa Aiden tidak merasa cukup dengan kehadirannya? Padahal sudah sangat lama mereka bersama. Sumpah demi apapun, Lucy tidak rela jika akhirnya Aiden menjadikan Lyodra sebagai kekasihnya.


Tidak ada yang boleh memiliki Aiden, cukup aku! Batin Lucy, semakin menunjukkan keposesifannya.


***


Pagi menyapa dengan cepat, dan Aiden masih setia menemani Lyodra di rumah sakit. Sepanjang malam pria itu terus berdiri di samping Lyodra sambil menggenggam tangan gadis itu.


Hingga akhirnya Lyodra mengerjapkan kelopak matanya saat bias cahaya mulai memenuhi ruangan.


Gadis itu langsung tersentak, karena mendapati Aiden yang berwajah datar sedang menatap ke arahnya.


Dia melihat sekeliling, dan ternyata sekarang dia ada di rumah sakit. Lalu ke mana vampir yang menyerangnya?


"Ehem!" Aiden berdehem untuk menyadarkan Lyodra. Gadis itu mendongak, dan kembali mendapati raut wajah Aiden yang tidak pernah berubah.


"Aku sudah bisa menebak, bahwa ini semua adalah caramu untuk menggodaku," cetus Aiden, membuat Lyodra langsung mendelikkan matanya.


"Menggoda apa sih, Tuan? Saya ini baru sadar," jawab gadis itu dengan menggebu. Dia masih ingat dengan jelas, bahwa semalam dia bertemu dengan seorang vampir, tetapi entah bagaimana saat dirinya dicekik, dia malah tidak sadarkan diri.


Aiden menarik sudut bibirnya ke atas, dia duduk di sisi brankar sambil terus memperhatikan wajah cantik Lyodra. "Ya, kau benar. Tapi ini semua taktikmu bukan? Kau sengaja ingin menarik perhatianku."


Mendengar itu, Lyodra semakin menganga. Dia berusaha untuk duduk meski tubuhnya terasa sakit semua, hingga akhirnya dia berhadapan dengan Aiden. "Bukankah sebelumnya Tuan sudah pergi? Kenapa malah ada di sini? Itu artinya Tuan yang berinisiatif sendiri, bukan karena saya!"


"Hei, sadarlah! Kau yang sengaja melakukan ini agar aku tidak jadi pergi, iya 'kan?"

__ADS_1


Haish, rasanya Lyodra ingin mengumpat, karena Aiden terlalu percaya diri. Ya, meskipun dia suka, tapi tidak seperti ini juga. Kesannya jadi dia yang terlalu berharap.


"Kenapa? Kau mau mengelak? Dasar tidak tahu terima kasih!" cetus Aiden, membuat Lyodra mengernyitkan keningnya.


Dia jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa tiba-tiba berada di sini, siapa yang membawanya?


"Apakah Tuan yang menolong saya?" tanya Lyodra, menurunkan nada suaranya.


"Tentu saja, ada yang melapor katanya kau kerampokan, jadi aku langsung datang. Dan lihatlah!" Aiden menunjuk ke arah tangan mereka. "Semalaman kau menahanku, membuatku nyaris tidak tidur!"


Lyodra langsung membulatkan kelopak matanya.


"Benarkah?"


"Tentu saja benar, memangnya aku pandai mengarang sepertimu?!"


Mendengar penuturan itu, entah kenapa Lyodra merasa suka, dia menggigit bibir bawah untuk menahan senyum. Sementara bibir Aiden diam-diam berkedut, merasa gemas dengan reaksi gadis yang ada di hadapannya.


"Kalau begitu saya minta maaf, dan saya juga berterima kasih karena Tuan sudah perhatian pada saya," ucap Lyodra dengan malu-malu.


"Baguslah, akhirnya kau sadar diri. Karena aku baik hati, aku akan memaafkanmu. Aku juga sudah memutuskan kalau mulai hari ini kita berpacaran, jadi kau tidak perlu lagi membuat rencana untuk menggodaku," ujar Aiden panjang lebar, dan hal tersebut sukses membuat jantung Lyodra seperti mendapat serangan dadakan.


"Ki—ta? Ki—kita pacaran?" tanyanya memastikan.


"Hem, itukan yang kau mau?"

__ADS_1


Glek!


__ADS_2