
Hari mulai berganti dengan cepat, hingga tak terasa bulan purnama telah tiba dan tepat jam sembilan malam, pesta pernikahan antara Aiden dan Lyodra akan dilangsungkan.
Semua keluarga vampir yang tinggal di tengah hutan kini berdatangan untuk menyaksikan acara janji suci kedua mempelai. Tak terkecuali Lucy, yang saat ini sudah bebas dari tahanan.
Dia datang dengan membawa rasa cinta yang sudah lebur. Berharap melihat Aiden dan Lyodra bersatu, sudah tidak ada lagi rasa cemburu.
Di rumah besar Aiden, Prima dan seluruh pelayan nampak sibuk menyiapkan makanan. Sementara Lyodra tengah didandani, seperti pengantin pada umumnya.
Gaun putih yang menjuntai ke lantai, nampak sangat pas di tubuh ramping gadis itu. Sementara riasan tipis, membuat wajah Lyodra tampak semakin ayu.
Malam ini penampilan Lyodra benar-benar sangat sempurna, apalagi setelah dia memakai mahkota kecil di kepalanya.
Bak Cinderella di dalam dongeng, kecantikan Lyodra memancar sama seperti bulan purnama.
"Apakah benar ini aku?" gumam Lyodra sambil memperhatikan wajahnya sendiri, karena dia tidak percaya akan secantik ini.
Elena — nenek Aiden — yang saat itu membantu Lyodra berdandan, nampak mengulum senyum. "Tentu saja benar, kau terlihat sangat cantik, Sayang. Aku yakin Aiden akan sangat senang."
__ADS_1
"Terima kasih, Grandma, sudah mau membantuku," ujar Lyodra, kini dia sudah mengenali semua keluarga Aiden, dan dia akan menganggap mereka semua sama seperti manusia.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang ayo kita keluar. Pasti Aiden dan semua orang sudah menunggumu."
Lyodra mengangguk cepat, ketika dia berdiri jantungnya mendadak berdebar dengan keras. Dia yakin ini reaksi alami ketika seorang pengantin ingin menikah.
Pasti Aiden juga merasakannya. Batin Lyodra sambil mengulum senyum tipis.
Lalu detik selanjutnya, Lyodra digandeng oleh Elena untuk keluar. Semua orang menunggu di lantai dua, sementara Lyodra bersiap-siap di lantai satu.
David tersenyum lebar ketika melihat Lyodra yang sangat cantik. Persis seperti mendiang istrinya. Dan ketika gadis cantik itu sudah berdiri tepat di depan David, pria itu langsung melipat tangannya, agar digandeng oleh Lyodra. Sementara Elena bergabung dengan yang lain.
"Daddy akan mengantarmu sampai ke hadapan Aiden," ucap David yang membuat Lyodra merasa haru. Apalagi saat dia melihat ada Jayden dan juga Margaretha. Rasanya sudah lengkap sekali kebahagiaan Lyodra.
"Terima kasih, Dad," ungkap Lyodra, nyaris meneteskan air mata.
Mereka sama-sama berjalan dengan pelan, sementara musik mulai mengalun dengan indah. Dan pada saat Lyodra sudah melihat sosok calon suaminya, jantung Lyodra semakin bertalu-talu.
__ADS_1
Pesta pernikahan itu diadakan di balkon rumah Aiden yang terlihat cukup luas. Karena keduanya ingin menjadikan bulan purnama sebagai saksi pernikahan mereka yang melegenda.
Aiden tersenyum lebar ketika melihat pengantin wanitanya datang. Tangan pria itu terulur ketika David menyerahkan tangan putrinya, sebagai simbol bahwa kini Lyodra telah menjadi milik Aiden sepenuhnya.
"Kau terlihat sangat cantik, Sayang," ucap Aiden dengan mesra, bahkan untuk pertama kali dia memanggil Lyodra dengan sebutan seperti itu.
Lyodra langsung tersipu malu, terbukti dari rona merah di pipinya. "Kau juga sangat tampan, Ai. Aku jadi makin tergila-gila padamu."
"Harus, kau tidak boleh berpaling dariku sedikitpun, Lyodra Dawson."
Sepasang calon pengantin itu saling melempar senyum, hingga mereka dinyatakan sah menjadi suami istri.
Tepuk tangan langsung terdengar sangat riuh, sementara Aiden menarik tengkuk Lyodra untuk mencium bibir wanitanya. Di hadapan semua orang dan juga purnama yang tengah memancarkan cahayanya, Aiden dan Lyodra saling bertukar saliva. Mengisyaratkan tentang kisah cinta mereka yang berakhir bahagia.
Sementara di tempatnya, Jayden nampak sangat gelisah, karena di sini hanya dia yang tahu siapa Aiden dan keluarganya. Terlebih ada Lucy, si wanita serigala, yang terkadang melirik ke arahnya.
Cih, aku benar-benar serba salah. Mau menelan ludah saja rasanya susah!
__ADS_1