
Malam itu Aiden benar-benar tidak sadarkan diri, hingga semua keluarga vampirnya berdatangan karena mendengar teriakan Lyodra yang sangat kencang.
Ketika masuk ke dalam kamar pengantin, mereka semua langsung menghampiri Aiden dan mengangkat tubuh vampir itu untuk direbahkan di atas ranjang.
Kibrit dan yang lain mengecek keadaan Aiden, sementara Kaisar mendekati Lyodra yang sudah menangis. Lyodra benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Aiden, apakah itu semua ada hubungannya dengan kalung permata miliknya?
"Kenapa Aiden bisa seperti ini, Lyo?!" tanya Kaisar dengan wajah yang terperangah. Sebab untuk pertama kalinya Aiden sampai terkapar seperti ini.
Lyodra menggelengkan kepala dengan bercucuran air mata. "Aku tidak tahu, Daddy. Tadi Aiden sedang menghancurkan kalung milikku, tapi tiba-tiba dia terpental dan tidak sadarkan diri." Jawab Lyodra dengan rasa takut yang mulai menyelimuti hatinya.
"Kalung?" Kaisar mengulang kata itu, dan dia teringat dengan benda penangkal vampir yang dimiliki Lyodra.
"Kai, gawat! Jiwa Aiden sepertinya sudah menghilang!" teriak Kibrit, yang membuat semua orang terkejut. Bahkan Airish sampai melebarkan kelopak matanya dengan sempurna.
"Daddy, jangan bercanda!" teriak wanita itu, dia kembali memeriksa keadaan putranya. Namun, seperti yang Kibrit katakan, bahwa Aiden tidak memiliki tanda-tanda kehidupan.
__ADS_1
Manik matanya menggelap dengan tubuh yang semakin terasa beku.
Lyodra langsung berlari ke arah Aiden dan memeluk tubuh itu. Namun, hanya ada rasa dingin yang menyusup. "Bangun, Aiden! Kau pasti sedang membodohiku, ayo bangun!" Teriak Lyodra dengan perasaan kalut, dia tidak menyangka jika malam pertamanya akan hancur seperti ini.
"Kita harus segera membawa Aiden ke tengah hutan, atau jiwa Aiden tidak akan kembali lagi," ucap Kibrit dengan menggebu, yang membuat Lyodra semakin tergugu.
Ini semua bagaikan mimpi buruk, karena baru saja mereka menuai kebahagiaan. Petaka malah datang secara tak terduga.
"Mom, Dad, biarkan aku ikut," ujar Lyodra, karena dia tidak akan mungkin bisa berpisah dengan Aiden. Dia akan menemani Aiden sampai sadar.
Akhirnya malam itu juga, Aiden dibawa ke rumah yang ada di tengah hutan, dan di sepanjang waktu Lyodra terus menangis, karena dia tidak akan rela jika harus kehilangan pria yang sangat dicintainya.
"Aku mohon, selamatkan suamiku, kembalikan dia ... aku tidak ingin berpisah dengan Aiden, aku sangat mencintainya," ucap Lyodra sambil sesenggukan, dia terus menatap Aiden yang dibawa ke suatu ruangan. Entah apa yang akan dilakukan keluarga vampir itu, yang jelas mereka akan berusaha sekuat tenaga, untuk membuat Aiden kembali membuka mata.
"Kami pasti melakukan yang terbaik, Sayang," balas Airish seraya mengusap air mata Lyodra yang berhamburan.
__ADS_1
"Aku percaya pada kalian semua, kalian pasti bisa mengembalikan suamiku."
Airish mengusap puncak kepala Lyodra, lalu meninggalkan gadis itu, karena dia akan ikut masuk ke dalam.
Kini Lyodra hanya sendiri, hingga tiba-tiba Lucy datang. Jujur saja, sedari tadi Lucy sangat khawatir dengan keadaan sepupunya, tetapi rasanya dia tak mampu untuk sekedar mengeluarkan suara.
"Tenangkan dirimu, Aiden pasti bisa melewati ini semua," ucap Lucy, meskipun dia tidak menyukai Lyodra, tetapi mengingat Aiden sangat mencintai gadis itu, Lucy tidak bisa berbuat apa-apa. Selain hanya menerima.
Mendengar itu, Lyodra pun mengangkat pandangan matanya. "Aku tidak akan pernah bisa tenang sebelum melihat Aiden kembali sadar. Aku tidak ingin kehilangan dia."
"Bukan hanya kau yang merasakan itu, jadi, jangan terlalu berlebihan!" cetus Lucy, dia berkata seperti itu karena ingin membuat Lyodra berhenti menangis. Meskipun sebenarnya hati Lucy pun menjerit sakit.
Lyodra mengusap air matanya dengan kasar. Dia berusaha untuk berhenti menangis, tetapi tidak bisa. Karena hatinya terus merasa cemas, sementara ketakutan itu semakin membuncah.
Aiden, kita sudah berjanji untuk selalu menjalani hidup ini berdua, jadi kau tidak boleh meninggalkan aku. Kau harus selamat, kau harus membuka matamu.
__ADS_1