
Lucy sudah melakukan segala cara agar Lyodra bisa keluar dari rumah Aiden. Namun, nyatanya semua usaha wanita itu tak kunjung berhasil, sebab Lyodra sudah benar-benar jatuh cinta pada vampir tampan tersebut.
Hingga akhirnya Lucy nekat merencanakan sesuatu. Dia yakin bahwa apa yang ia lakukan kali ini, tidak akan gagal lagi.
"Kau tidak bisa bersatu dengan Aiden. Karena selamanya kalian adalah dua makhluk yang berbeda. Aku tidak akan membiarkan Aiden merasakan sakit hati ketika kehilanganmu, jadi lebih baik kau musnah saja dari muka bumi ini!" gumam Lucy dengan tangan yang mengepal kuat, mengisyaratkan kebencian yang sudah mendarah daging.
Otak Lucy benar-benar sudah tak bisa dikendalikan, hingga tak peduli pada resiko yang akan dia terima akibat perbuatannya.
Malam ini, Lyodra masuk kuliah seperti biasa. Dia di antar oleh Aiden menggunakan mobil mewah, menunjukkan betapa perhatiannya pria itu pada sang kekasih.
Ketika mobil sudah berhenti di depan kampus, Lyodra langsung pamit, tetapi sebelum dia meraih handle pintu, Aiden menahan tangan gadis itu. "Pamitlah dengan benar, setidaknya balas kebaikanku dengan sesuatu yang setimpal."
Lyodra menatap lekat wajah yang tengah kesal itu, tiba-tiba Lyodra terkekeh merasa lucu dengan sikap manja Aiden. "Kamu mau aku seperti apa? Aku yakin kamu tidak ingin aku membalasnya dengan uang. Karena uangmu sudah banyak."
Aiden masih menatap lurus ke depan, dia mengetuk bibirnya menggunakan jari telunjuk, membuat Lyodra makin terkekeh keras.
Harusnya Lyodra sadar, bahwa kekasihnya ini memiliki tingkat kepercayaan diri dan juga gengsi yang sangat tinggi.
Dengan cepat Lyodra mencondongkan wajah, lalu mengecup bibir Aiden. Namun, sebelum dia menarik diri Aiden justru menahan tengkuknya.
__ADS_1
Pria itu membalas kecupan Lyodra dengan lumataan yang cukup dalam, membuat Lyodra ketar-ketir, karena kini mereka berada di area kampus.
Haish, bagaimana kalau ada yang melihat?
Lyodra ingin mendorong dada Aiden, tetapi pria itu justru semakin melesakkan lidahnya, mengabsen tiap sudut rongga di mulut kekasihnya.
Tsk!
Bunyi perpisahan antara dua mulut itu terdengar nyaring, Lyodra terengah-engah dengan bibirnya yang terlihat memerah, akibat gigitan kecil Aiden.
"Kamu pandai sekali dalam berciuman, pasti sudah banyak gadis yang mencicipi bibirmu itu!" gerutu Lyodra dengan tatapan sebal, tetapi dengan melihat itu Aiden justru merasa gemas.
"Hih, aku tidak mau lagi berciuman denganmu, Tuan Mesyum!" teriak Lyodra sebagai bentuk protes, dia keluar dari mobil, sebelum membanting pintu Lyodra lebih dulu menjulurkan lidah untuk mengejek Aiden.
Brak!
Pria yang ada di balik kemudi hanya mendesaahkan nafasnya sambil geleng-geleng kepala. "Kau sudah semakin berani ya, lihat nanti, aku akan membuatmu tidak bisa bernafas!"
Lyodra berjalan dengan menghentak-hentak tanah, sebuah pemandangan yang membuat bibir Aiden makin berkedut.
__ADS_1
Hingga saat gadis itu tiba di kelas, ternyata dia tidak melihat Jayden. "Ke mana lagi dia?" gumam Lyodra sambil duduk di kursinya.
Semenjak kejadian penyerangan itu, kini Lyodra sudah tidak diganggu lagi oleh makhluk-makhluk penghisap darah, dan Lyodra sangat yakin, bahwa itu semua karena ada Aiden di sampingnya.
Lyodra terus menunggu kedatangan Jayden, tetapi sampai kelas telah selesai, pemuda itu benar-benar tidak datang. Biasanya Jayden akan memberi dia kabar, walaupun hanya sekedar pesan singkat. Namun, sekarang tidak ada apapun yang dia terima.
Hingga saat Lyodra hendak pulang, tiba-tiba ada panggilan masuk dari sang sahabat. "Haish, kelas sudah selesai kamu malah baru menelponku, Jay, Jay!" Gumam Lyodra, jarinya mengusap layar pintar itu, hingga terdengar suara Jayden di seberang sana.
"Halo, Lyo. Tolong aku, Lyo. Tolong aku!" ucap Jayden dengan suara yang terdengar tergesa-gesa.
Kedua alis Lyodra langsung menaut sementara perasaannya berubah tak enak. "Ada apa, Jay? Kau ada di mana sekarang?"
"Lyo, tolong secepatnya datang ke alamat yang aku kirimkan. Aku dijebak seseorang, dan hanya kau lah yang bisa menolongku. Lyo .... argh!"
Terdengar suara teriakan Jayden, bersama ponselnya yang jatuh ke lantai, Lyodra langsung merasa cemas, hingga dia memanggil-manggil nama sang sahabat. "Jay, apa kau baik-baik saja? Halo, Jay!"
Tidak ada jawaban apapun. Karena sepertinya ponsel itu terpelanting jauh. Sontak saja Lyodra langsung membuka pesan, dan ternyata ada sebuah alamat yang kirimkan Jayden.
Tanpa ba bi bu, Lyodra langsung berlari keluar untuk menyelamatkan sang sahabat. Dan di setiap langkahnya, Lyodra berharap dia belum terlambat.
__ADS_1