
Setelah mengantar Jayden ke rumah sakit dan menghubungi orang tua pemuda itu, akhirnya Lyodra dan Aiden pulang ke rumah.
Namun, kali ini mereka tak menggunakan kendaraan, karena Aiden membawa Lyodra melesat bersamanya.
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Lyodra seolah tak percaya. Pasalnya dia masih merasa ini semua tidak nyata.
Sebelum menjawab, Aiden lebih dulu merangkul pinggang ramping Lyodra. "Tutup matamu. Dan setelah ini, kau baru boleh berkomentar."
Lyodra mengerjap beberapa kali, hingga akhirnya dia patuh pada perintah Aiden. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, sementara tangannya melingkar di sepanjang leher Aiden.
Bagai angin yang berhembus kencang, tubuh keduanya melesat begitu saja. Hingga tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Aiden.
"Buka matamu dan lihat di mana kita sekarang!" titah Aiden lagi, Lyodra mengernyit, dia seperti tak merasakan apa-apa.
Namun, saat kelopak matanya terbuka sempurna, dia langsung terperangah, karena dia benar-benar sudah ada rumah Aiden. Benar-benar ajaib.
"Sayang, ini sungguh?" tanya Lyodra antara takjub dan bingung.
"Kau lihatnya bagaimana?" balas Aiden dengan pertanyaan pula, dia mencondongkan wajah untuk mengecup bibir tipis itu. Lalu mengajak Lyodra untuk masuk ke dalam.
Di sepanjang langkah mereka, Lyodra masih celingukan karena merasa tak percaya dengan sesuatu yang dialaminya. "Astaga, jadi kekasihku benar-benar seorang vampir. Bahkan aku baru saja diajak terbang."
Mendengar gumaman itu Aiden terkekeh kecil. Bersama Lyodra entah kenapa wajah dingin itu berubah menjadi lebih sumringah.
Di ambang pintu keduanya sudah disambut dengan penuh hormat, bahkan ada Prima juga di sana. Namun, Aiden tak memedulikan itu semua, karena dia malah membawa sang kekasih untuk masuk ke dalam kamarnya.
Namun, ketika Aiden menutup pintu, Lyodra langsung menahan pergelangan tangannya. Dia ingin bertanya, meskipun banyak keraguan. "Ai, bagaimana dengan Nona Lu? Kau tidak berbuat macam-macam padanya 'kan?"
__ADS_1
Aiden terdiam sesaat, baru kemudian dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Lyodra. "Kau ini manusia macam apa sih? Masih saja peduli pada sosok yang menjahatimu?"
"Tapi dia sepupu, Sayang. Bagaimana pun kalian adalah keluarga, aku yakin dia memiliki alasan untuk ini semua," ujar Lyodra dengan suara yang dipenuhi kecemasan.
Aiden menangkup satu sisi wajah gadisnya. "Kau tidak perlu memikirkannya. Lucy sudah diurus oleh Mommy dan Daddy."
Lyodra mengangkat kepalanya, menatap kedua netra yang tidak memiliki bayangan itu. "Jadi, mereka benar-benar ayah dan ibumu?"
"Benar, tapi tidak banyak yang tahu, karena wajah mereka tidak bisa menua. Sama sepertiku."
"Berarti kau selamanya akan seperti ini?"
Aiden menatap semakin lekat, beginilah hubungan antara seorang vampir dan manusia. Jika manusia bisa menua dan mengalami perubahan, tetapi tidak dengan makhluk penghisap darah seperti dirinya. "Kau seharusnya sudah tahu itu, Lyo."
Tiba-tiba bibir Lyodra melengkung sempurna, membuat Aiden terlihat kebingungan. "Tidak apa-apa, artinya aku akan terus bersama pria tampan."
Dengan berani Lyodra mengecup bibir Aiden lebih dulu. "Aku akan selalu menyukaimu, Ai."
Mendengar itu, perasaan Aiden kembali menghangat, semua yang ada di diri Lyodra benar-benar membuatnya menggila.
Tanpa banyak kata, Aiden menarik tengkuk gadis cantik itu, lalu kembali menyatukan bibir mereka berdua.
Lyodra hanya bisa pasrah, apalagi saat tubuhnya diangkat dan dibawa masuk ke dalam kamar mandi. Aiden sengaja menyalakan shower, hingga tubuh mereka sama-sama basah.
Mereka terus bercumbu hingga hasrat di dalam tubuh masing-masing semakin terasa membuncang.
Aiden membuka pakaiannya hingga kini dia bertelanjang dada, dan hal tersebut tentu saja Lyodra semakin bergairah.
__ADS_1
Gadis itu benar-benar pasrah saat tangan besar Aiden merayapi tubuhnya, apalagi saat jemari Aiden mempreteli kancing kemejanya dengan lihai.
Pakaian mereka yang basah tergeletak di lantai, kini hanya tersisa penutup di kedua inti Lyodra.
"Ai, bisakah kita melakukannya?" tanya Lyodra dengan tangannya yang menangkup kedua sisi wajah Aiden. Dia sudah tak mampu lagi untuk menahan gejolak yang memenuhi dadanya.
Aiden yang terengah-engah nampak begitu seksi di mata Lyodra. Namun, bukannya mengiyakan pria tampan itu justru menggeleng. "Tidak bisa, Lyo. Aku dan kau berbeda. Aku tidak ingin menyakitimu."
"Apa maksudmu, Ai? Lalu untuk apa kita melakukan ini semua?" ujar Lyodra dengan menggebu. Merasa dipermainkan oleh Aiden.
"Aku tidak ingin kau menjadi makhluk sepertiku, Lyo. Karena dengan kita melakukannya, kau bisa saja hamil."
Lyodra langsung terperangah. Apakah benar seorang vampir bisa menghamili manusia?
"Kau bercanda?"
"Tidak, Sayang. Aku adalah hasil perkawinan antara vampir dan manusia berdarah suci. Mommy-ku dulunya seorang manusia, karena dia mengandungku, Daddy merubahnya menjadi seorang vampir. Dan aku tidak ingin itu semua terjadi pada kau!" jelas Aiden, berharap Lyodra mengerti, meskipun dia pun sangat berhasrat pada gadis ini.
"Lalu bagaimanakah denganku? Kau ingin menyiksaku?"
Aiden memeluk pinggang Lyodra dengan erat, hingga tubuh mereka saling berhimpitan. "Kita lakukan dengan cara lain. Aku akan berusaha memuaskanmu."
Lyodra bergeming, sesaat dia merasa kesal dengan keputusan Aiden, tetapi inilah bentuk perbedaan di antara mereka. Dia yang sudah menjatuhkan diri ke jurang cinta Aiden, jadi sekarang pilihan ada di tangannya. Ingin mundur atau tetap bersama pria itu.
Detik selanjutnya, Lyodra meraup bibir Aiden lebih dulu. Entah dengan cara apapun, asal bersama Aiden dia akan terima.
Akhirnya pergulatan panas itupun kembali terjadi. Aiden melakukan apapun untuk memuaskan gadisnya, karena dia tahu Lyodra tidak akan mungkin bisa menahannya lebih lama.
__ADS_1
"Ahh ...." Hanya ada kata itu, saat Aiden menyusuri benda sensitif milik Lyodra.