MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Penolakan!


__ADS_3

Di dalam sebuah Cafe, di sana sudah terlihat dua orang Pria paruh baya yang sedang berbincang-bincang.


Salah satunya tentu Barra sudah sangat mengenalnya.


Saat langkah kakinya semakin. mendekat.


" Nah itu dia Putraku. .Ayo kemarilah " Ujar Papa Bagas yang saat itu sudah terlebih dahulu menghadari rapat pertemuan bersama kliennya.


"Robert ini Putra saya, ," Ujar Papa Bagas


Barra pun menyalami Tuan Robert.


" Pak Robert ini, Klien kita dari Jerman nak, dia sekaligus teman lama Papa. Perusahaannya salah satu perusahaan terbesar dan berkembang pesat di Negara itu," Ujar Papa Bagas menjelaskan.


" Saya juga sudah banyak mengenal tentang om.. dan Perusahaan yang om Pimpin di Jerman , " Ujar Barra mengiyakan.


" Ohh ya, kau juga luar biasa nak, Sama seperti Papa mu ini, memang benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya " ujar Pak Robert sembari tertawa ringan.


Papa Bagas pun ikut tertawa, Suasana menjadi cair, mereka berbincang sampai sebuah kuputusan kerjasama pun terjalin.


Setelah selesai melakukan pertemuan itu.


Barra menyuruh sekretarisnya untuk mengheandel dan datang ke kantor sendirian menggunakan Taxy. Lalu Barra pun langsung melajukan kendaraannya ke arah yang berlawanan.


Di perjalanan, Barra menyetel musik, sembari mengetuk-mengetukan jarinya, Saat ini Barra sedang berada di sebuah lampu merah.


Saat lampu telah berganti warna menjadi hijau, Barra kembali melajukan mobilnya .


Tiba di sebuah Restauran ternama.


Barra turun dari mobil spot hitamnya.


Di ambilnya kaca mata hitam yang menggantung di bajunya, lalu mengenakannya.


Langkah kaki dan penampilan yang sangat Maskulin dan tampan, membuat semua mata memandang ke arahnya.


Barra acuh tak acuh, tak terlalu peduli dengan pandangan mata setiap orang yang menatapnya.


Dirinya hanya fokus mencari seseorang.


Ting


Sebuah pesan masuk


Fellice :


" Ruangan VVIV 408 :* "


Barra pun bergegas menuju Ruangan 408 yang ada di sudut Restaurand tersebut. Sebuah Restaurand yang memiliki ruangan pribadi dan tertutup untuk para petinggi.

__ADS_1


Langkahnya terhenti, dan memasuki ruangan tersebut.


Di lihatnya seorang perempuan, dengan menggunakan mini Dress Bluss berwarna merah, dengan bagian pundak terbuka lebar, yang menampilkan sedikit belahan dadanya. Dengan rambut tergerai ikal sedang duduk dengan minumannya, sembari memandangi sebuah pemandangan di luar jendala kaca.


Mata mereka saling bertemu.


Fellice melempar senyum manisnya ke arah Barra.


Barra pun datang menghampirinya.


Dan langsung duduk di samping Fellice.


" emm.. kau lama sekali " rengek manja Fellice, mendekatkan tubuhnya melakukan cipika cipiki, dan sekilas mencium bibir Barra, lalu merangkul lengannya.


" Maaf ..." ujar Barra,


Fellicia Anggel, Kekasih Barra Aditama.


Dirinya seorang Model ternama . Kedekatannya dengan Barra Aditama sangatlah tertutup.


Mengingat Fellice adalah seorang model, Barra tak ingin dirinya terekspos di media, Apalagi dirinya adalah seorang pebisnis harapan Aditama. Diriny sangat tidak ingin hubungan asmaranya terekspos.


Perkenalannya dengan Fellice, terbilang baru, terjalin sekitar 3 bulan. Fellice tak mempermasalahkan jika hubungan mereka adalah hubungan diam-diam. Bagi Fellice asal kebutuhannya tercukupi semuanya tak masalah.


Hubungan keduanya sudah di ketahui oleh Antony dan juga Josuah.


" Kemarilah, aku sudah pesankan makanan kesukaanmu " ujar Fellice mengambilkan sebuah hidangan Steak yang ada di atas meja.


" Tapi... Aku mengajakmu untuk menikmati ini semua. Kita jarang makan bersama Bar " ujar Fellice sedih.


" Hm, baiklah " Barra pun meletakkan ponselnya. dan meraih garpu dan pisau yang ada disisi piring steak tersebut.


" Sudah. Aku sudah memakannya " ucap Barra, Fellice pun ternyum senang.


" Terimakasih sudah menemaniku " ujar Fellice manja.


" Bagaimana dengan pemotretanmu? Apa lancar? " tanya Barra sembari menyeruput minumannya.


" Iya, tapi akhir pekan ini, akan di sibukan dengan pemotretan lagi. Sepertinya kita akan jarang bertemu " ujar sedih Fellice.


" Perusahaan Papa juga baru saja mendapatkan kontrak kerja sama dari luar, aku juga sepertinya akan fokus untuk menangani kontrak kerjasama tersebut "


" Oh ya, selamat ya sayang..! Yang penting selalu jaga kesehatan dan juga hatimu untukku, jangan tergoda wanita lain selama berjauhan" Ancam Fellice manja.


Barra pun menyunggingkan senyumnya.


" iya "


Setelah itu, Fellice langsung mendaratkan ciumannya ke Bibir Barra.

__ADS_1


Tapi, Barra menolaknya. Dengan mendorong halus tubuh Fellice.


" Kenapa? " tanya Fellice kecewa.


" Aku ada pertemuan kembali sebentar lagi, maaf aku harus segera pergi fel " ujar Barra.


" No.. No.. No.. Bar, aku gak suka kamu selalu nolak saat aku cium ya, Aku juga butuh ini... " Ujar Fellice semakin mendekatkan tubuhnya.


Jari tangannya saat ini menyentuh bibir Barra, dan tangan satu lagi mengelus dada bidang Barra..


" Kenapa? Kenapa selalu menolak saat aku memintanya Bar? " lirih Fellice kesal.


" Hentikan Fel, jangan melewati batas " ujar Barra berusha menahan tubuhnya.


" Batas... ini bukan batasan sayang, ini juga kebutuhan. Aku sangat menginginkan ini..." Fellice terus berusaha menggoda Barra, menaiki dan menggesek gesekan pinggulnya ke arah bawah celana yang tertutup rapat itu.


Entah setan mana yang merasukinya, tubuh Barra merespon apa yang di lakukan Fellice terhadapnya sesuatu terasa sesak di bawah sana.


"Si.. sial... " gumam Barra berusaha menahan nafsunya.


Barra akui, selama berhubungan dengan Fellice dirinya tak pernah melakukan kontak fisik berlebihan. Hanya saja Fellice lah yang sellau curi-curi kesempatan untuk selalu bisa mencium bibirnya walau hanya sekilas.


Ada trauma sendiri bagi Barra.


Barra tak ingin kelewatan batas, saat bersentuhan dan berdekatan langsung dengan perempuan, dia takut kejadian beberapa tahun yang lalu terulang, saat dirinya hampir saja menyakiti seorang wanita yang paling ia cintai. Dan entah dimana saat ini wanita yang sangat ia cintai itu berada.


Barra menjalin hubungan bersama Fellice, hanya sekedar menetralkan perasaannya yang kacau.


Antony dan Josuah lah yang mendorong hubungan mereka sampai sejauh ini.


Berharap, Barra melupakan cinta masalalunya yang hilang itu.


Sebuah ponsel berbunyi.


Barra bergegas meraih ponselnya.


Disana tertera nama Papa Bagas.


Dan langsung menghentikan aksi Fellice.


Fellice pun terdiam, setelah itu Barra pamit untuk segera berangkat ke kantornya.


" Sorry fel... aku harus pergi, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu hari ini " Barra bergegas meraih jasnya.


" Tapi.. Bar " Fellice sangat kesal dengan perlakuan Barra hari ini terhadapnya.


" Sorry... " Barra hanya mencium sekilas kening Fellice dan berlalu.


# Jangan lupa, Dukungannya iya.

__ADS_1


Sorry baru up kembali.


,


__ADS_2