
Sekolah telah usai,
Tiba-tiba saja sebuah tangan meraih pergelangan tangan Annaya.
" Aya, kita harus bicara !" Kata Barra, dan dengan cepat ia menarik Annaya untuk masuk ke dalam mobilnya
" Lepasin Bar, malu di lihat orang," Brontak Annaya berusaha menepis tangan Barra yang saat ini menggenggam erat pergelangan tangannya,
Semua orang menatap mereka penuh tanda tanya, tak terkecuali Nadin sahabatnya.
" Ay loh mau ke mana ?" teriak Nadin, dari kejauhan, dan tak sempat mengejar lagi, karena langka kaki Barra dan Annaya begitu cepat.
" BARAA !!! Tangan aku sakit tau gak . Lepasin !" bentak Annaya kesal
" Nggak, kamu harus ikut aku. Kita harus bicara "
Dengan wajah tegasnya ia bersikeras untuk membawa Annaya bersamanya, dan mobilpun terbuka.
Dan kini masuklah Annaya di dalam mobil itu, dengan cepat Barra menghidupkan mesin mobilnya, ia pun langsung tancap gas menjalankan mobilnya tersebut.
Di dalam perjalanan,
" Apa lagi yang kamu ingin bicarakan ! Kita tuh udah berakhir Bar " bentak Annaya begitu emosi
Sementara Barra hanya diam saja tidak menanggapi, dan ia tetap fokus mengemudikan mobilnya
" Gak ada yang perlu kamu jelasin. Aku mau turun, berhenti disiini !!" Teriak Annaya yang mulai geram
" Kalau nggak aku lompat"
Seketika saja semua pintu mobil terkunci otomatis, saat Annaya hendak nekad membuka mobilnya.
" Kamu jangan gila Ay,, " Sebelah tangan Barra menggenggam tangan kanan Annaya, dan satu tangan lagi, sedang berusaha memegang stir mobil .
" Lepasiin aku, jangan pegang tangan aku . " Teriak Annaya kembali.
" Ok, fine, aku lepas, kamu diam !" ucap Barra dengan tatapan tajamnya.
Kini Annaya hanya diam mengikuti alur , kemana Barra akan membawa dirinya.
Tibalah di sebuah Apartemen elit ternama, milik keluarga Barra.
Yah , saat ini Barra sudah hidup mandiri, dan ia sudah tinggal di Apartemennya itu, semenjak kelas 1 Sma,
Annaya yang tampak bingung, hanya pasrah saja, ia lelah beradu Argument.
Mobil pun berhenti, setelah memasuki basement, Dan pintu mobilpun di buka oleh Barra,
ia gapai tangan Annaya, dan mereka masuk ke dalam lift menuju lantai 3 ,
" Lepasin tangan aku " sungut Annaya kesal.
" Tidak akan, kamu kabur nanti " ujar Barra tegas.
" Dasar gila " umpat Annaya
Ting...
Lift pun kini telah terbuka,
Barra membawa Annaya menuju Apartemennya. Saat di depan pintu Apartement, Barra memasukan kode pasword pada pintunya,
dan saat pintu terbuka, Barra mengajak Annaya untuk masuk.
" Duduk yank. " ucap Barra
" Aku gak mau ya, di panggil sayang dari mulut kamu lagi " ketus Annaya
Dan hanya di balas senyuman oleh Barra, ia pun berjalan ke pantry untuk mengambil botol air mineral.
" ini, minum, nanti haus ngoceh melulu" ujar Barra, dan langsung menaruh botol minum tersebut ke meja
Annaya pun, merasa memang tenggorokannya sangat kering saat ini. ia pun meneguk air itu sampai kandas.
__ADS_1
" Benerkan kamu haus " Barra pun terkekeh melihatnya
" Apaan sih, udah deh aku gak mau ya lama lama disini. Jadi cepetan kamu mau ngomongin apa !" ketus Annaya kesal.
" Hmm. . Aku kangen banget sama kamu sayang " Barra pun memeluk tubuh Annaya dengan erat. Sontak saja, Annaya yang terkejutpun ingin berontak
" Pliis, sebentar saja . Biar seperti ini " Lirih Barra berat, .
Annaya yang merasa jantungnya kini kembali deg deg kan, hanya diam saja.
Setelah itu, Barra mulai menjelaskan kesalah pahaman yang ada pada hubungan mereka.
" Sekarang ikut aku ya,," Barra pun menggandeng tangan Annaya lembut,
" Kita mau ke mana ?" tanya Annaya datar
" Kamar "
" What ! kamu jangan macam macam ya Bar " Ancam Annaya
dan lagi, hanya senyuman yang ia lemparkan
Di dalam kamar, Barra mulai membuka laptopnya, dan mengajak Annaya untuk duduk di ranjang sebelahnya.
" Aku gak mau . Kamu jangan ngajak aku nonnton yang macam-macam ya ! " ancam Annaya lagi
Tak..
Barra menyentil kening Annaya
" kamu tu ya, curigaan mulu "
Lalu ia tarik tangan tersebut. dan Annaya pun kini duduk tepat, berada di sampingnya Barra.
Lalu video pun di putar.
Di mana di dalan video tersebut, menampilkan CCTV, saat Bianca Masuk ke dalam Ruangan Musik .
" Kamu manggil aku kesini ya Bar, ada apa ?" tanya bianca kesenangan.
Barra yang saat itu sedang duduk, mememainkan Drum. Kini menatap tajam ke arah Bianca.
" Apa maksudnya, kita punya hubungan ? Kau mengakui dirimu di hadapan semua orang berpacaran denganku bukan ? " tanya Barra mengintimidsi
" I..itu, karena aku memang menyukaimu Barra" jawab Bianca gugub
" Suka ? dengan cara merusak reputasiku ? heh, kau sungguh tak tau malu " geram Barra, yang saat ini sangat emosi, mengingat hubungan dirinya bersama Annaya hampir dibuat berantakan oleh wanita yang ada di depannya kini.
" Aku tau kau itu siapa, berapa yang kau minta heh !! " bentak Barra yang sangat emosi.
" Jaga ucapanmu ya bar !!" sentak Bianca tak terima
" Lalu APA ??? kalau bukan karena Mamimu yang berteman baik dengan Mamiku, dan menyuruhmu untuk mendekatiku. lalu apa ? Aku tau keluarga kalian mendekati keluargaku hanya untuk sebuah harta bukan " sindir Barra , dan seketika membuat hati Bianca teriris.
" Kau jangan kurang ajar ya Bar, ! Kenapa kau harus semarah ini ? Kenapa harus berkata kasar ? ingat ya Bar. Aku bisa laporin kamu dengan Mami kamu.. " Ancam Bianca tak terima di perlakukan kasar seperti itu
" Silahkan Laporkan, kau pikir kau siapa ? kau bukan siapa siapa " jawab Barra tak kalah tajam.
" Brengsek kau Barra.." dengan air mata berlinang, Bianca memberanikan diri menghampiri Barra, dan mencium bibirnya dengan kasar.
Saat pintu terbuka, Annaya masuk dan melihat semuanya, dan dengan seketika Barra mendorong tubuh Bianca dengan kasar, dan tersungkur di lantai.
flashback off..
Suasana kamar pun menjadi hening ketika Video telah usai di putar.
" Maaf..." lirih Barra sambil menggenggam tangan Annaya.
" Untuk apa ? Kita sudah berakhir !" Ujar Annaya tertunduk, dan merasa bingung.
" Ay,, jangan seperti ini " Barrapun memegang wajah Annaya, untuk berusaha menghadap ke arahnya.
" Lihat aku,,," Pinta Barra " Sungguh aku sangat mencintaimu " lirihnya dan menyentuhkan kening mereka berdua.
__ADS_1
" Tapi aku sudah tidak lagi, aku mau pulang " Annaya pun berangkat dari duduknya, dan melepaskan tangannya dari genggaman Barra.
" Apa ?? Aku tidak akan membiarkanmu pergi, aku sudah menjelaskan semuanya, seharusnya kamu mengerti, aku hanya mencintai mu" dengan perasaan marahnya melihat respon Annaya
Barra pun menarik kembali lengan Annaya, dan dengan cepat ia jatuhkan tubuh itu ke atas kasur, lalu mengunci pergerakan tubuh Annaya dalam kungkungannya, Barrapun langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir tersebut, Barra ******* habis Bibir itu dengan sangat rakus, ia berusaha membuka pergerakan mulut Annaya yang saat ini terkatup, dan berhasil menerobos pertahanan itu, iapun mulai mengabsen satu persatu bagian yang ada di dalam rongga mulut Annaya, dan memainkan lidahnya di sana.
Annaya sungguh sangat ke walahan, dan tak bisa melakukan perlawannan, ia pun terhanyut dalam ciuman panjang tersebut. Barra kini semakin memeprdalam ciumannya itu, ia pun menyesap habis bibir tersebut, dan membuat bibir itu sedikit membengkak.
" hmmppt... " lenguh Annaya , yang kini meringis menahan sakit.
" Be-berhenti " lirih Annaya
Ciumanpun beralih dan turun ke bagian leher , di sesapnya dalam dalam leher tersebut, dan Barra meninggalkan bekas kemerahan di sana,
" Akhhh...... "
Annaya yang merasa tak dapat mengontrol dirinya, kini ikut terbuai, Birahi keduanya sama sama memuncak, tanpa Annaya sadari, tangan Barra menyelinap masuk ke dalam pakaian dalamnya, dan meremas gundukan kenyal tersebut yang ada di dalamnya
" Akhhh.. emptt.... " Annaya melenguh menikmati setiap sentuhan sentuhan yang Barra berikan kepadanya. Tak lama setelah itu , kini bajunya telah tersingkap, dan gundukan kembar tersebut terpampang jelas di depan matanya, yang masih terbalut Bra. Barra yang melihat itu menelan salivanya, tak dapat menahan birahinya yang sudah memuncak tinggi, ia benamkan wajahnya di antara gundukan kembar itu, lalu dengan perlahan, membuka kaitan Bra tersebut. Tanpa sadar kini tubuh atas Annaya sudah sangat ter ekspos dan sangat polos, 2 gundukan kenyal yang lumayan besar tersebut, kini telah menyembul keluar dari persembunyiannya.
" glekk. " untuk kedua kali Barra menelan air liurnya, tanpa aba aba lagi, ia langsung mendaratkan mulutnya, menimati gundukan kembar tersebut,dan ******* habis gunduk itu dengan sangat rakus, ia pun memainkan lidahnya di sana, ia sesap habis, dan sesekali meremas gunduk itu, terasa sangat kenyal, dan membuat gairah keduanya semakin meningkat .banyak sekali bercak merah yang tertinggal di sana.
" Ughh...ba..barra...akhh...!" lenguhan pun kembali keluar dari mulut Annaya
Suasana kamarpun menjadi panas, Barra merasakan sesuatu yang sangat sesak, seperti ingin memaksa keluar dari persembunyiannya di bawah sana.
" akhh,,,, A..aku sudah tidak tahan lagi !" ujar Barra, dan membuka resleting rok seragam Annaya.
Saat ini kedua insan tersebut, telah di selimuti Gairah yang sangat tinggi, hingga tak dapat mengontrol diri mereka masing masing.
Rok seragam dan dalaman yang terpakaipun kini semuanya terlepas , begitu juga dengan celana panjang yang melekat di tubuh Barra, kini tubuh mereka berdua sudah sangat polos, tanpa menggunakan apapun lagi,
Barra, turun, dan menciiumi area sensitive Annaya dengan sangat dalam, ia memainkan lidahnya, dan menyesap habis bagian tersebut. Seketika Annaya merasakan dirinya kini menggelinjang hebat, dan merasakan sensasi sensai yang tak biasa, Annaya pun kini tak henti hentinya meracau, dan menikmati semuanya.
Barra yang mendengar lenguhan tiap lenguhan dari mulut Annaya, semakin membuat dirinya bersemangat.
Dan hendak melakukan penyatuan,, saat kemalluannya sudah menyentuh area sensitive milik Annaya, ia pun berusaha menekan masuk, dan sangat kesulitan,
Tiba-tiba
Ting Tong...
Belum sempat penyatuan itu berhasil,
Suara bel Apartemen pun berbunyi.
Sontak saja Aksi merekapun terhenti, dan menyadarkan perasaan keduanya.
Annaya yang melihat dirinya berada dalam kungkungan Barrapun dan bertelanjang bulat, mendorong keras tubuh Barra ke belakang, dan menarik sebuah selimut untuk menutupi dirinya, sunggu ia sangat malu, bisa bisanya ia melakukan hal tersebut, dan menikmatinya, jujur saja, Annaya mengakuinya, ia sangat menikmati semuanya. ini adalah pengalaman pertama baginya. dan hampir berujung penyesalan , seketika saja ia sangat sedih...
" Hikss..hikss...!" isak Annaya menahan malu , dan merutuki dirinya.
Barra yang sudah sadar dengan apa yang telah ia lakukanpun , sontak saja mengusap wajahnya dengan kasar.
ia melihat sudut mata Annaya ber air, dan ia merasa frustasi.
Barra pun berusaha memakai pakaian santainya, lalu berlalu. untuk membuka pintu Apertemennya.
.
.
#
Siapa ya kira kira ? Bebeb Barra gak jadi enak enak dong... padahal author ngarep 😂
.hehe tapi jangan dulu dong. masih panjang alurnya.
>>>>
Jangan lupa TINGGALKAN JEJAK >>> LIKE, COMEN, DAN VOTE SEBANYAK BANYAK ya !
TERIMAKASIH !
__ADS_1