MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Rasa Lapar !


__ADS_3

" Aku membencimu !!" teriak Annaya semakin mengencangkan suaranya, ia terisak dengan tangisnya sendiri.


Tanpa sadar Bara melihat bibir yang sedang bergetar tersebut sedikit membengkak atas perbuatannya barusan.


Barra dengan cepat meraih pergelangan tangan Annaya dan membawanya kembali untuk memasuki mobil.


" Lepaskan, aku tidak mau ikut denganmu ! Lepaskan tanganku !!!" teriak Annaya begitu emosi dengan orang yang ada di hadapannya saat ini.


" Diamlah ! " sentak Barra kesal


" Masuk "


" Aku tidak mau " tolak Annaya mentah-mentah.


" Jika kau tidak masuk, aku akan melakukan lebih dari ini " Ancamnya , dan seketika berhasil membuat Annaya terdiam mengikuti perintahnya.


Dengan sangat terpaksa, Annaya masuk kembali kedalam mobil.


" Kau dengar aku membencimu, " teriak Annaya di dalam mobil, meneriaki Barra yang pada saat ini masih berada di luar,


Barra pun segera mengitari mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.


Semua pintu mobil, kini terkunci sepenuhnya.


Annaya mengalihkan pandangannya kesisi lain, ia tak ingin menghadap ke arah orang yang pada saat ini sedang duduk di sampingnya.


" Kemarilah" Barra menyodorkan sebuah minuman dingin yang terdapat di dalam box kecil yang tersedia di mobilnya.


" Aku tidak haus" jawabnya ketus.


" Keras kepala sekali, aku bilang kemarilah" dengan jengkel, Barra memajukan tubuhnya, dan memaksa Annaya untuk menghadap ke arahnya.


Kedua bola mata itu kini saling beradu,


Barra meraih dagu Annaya pelan.


" He-hentikan, apa yang kau lakukan" gugub Annaya , merasa takut jika Barra akan menciumnya kembali.


Tiba-tiba saja, minuman dingin tersebut, menyentuh mulutnya.

__ADS_1


Annaya membelalakan matanya kaget, sensai dingin ia rasakan.


Ia tak menyangka. jika Barra akan mengompres mulutnya yang memang terasa perih tersebut akibat perbuatannya sendiri.


" Apa yang kau pikirkan ? Aku hanya ingin mengompres ini sebentar "


Mata keduanya saling berpandangan.


Barra pun mengalihkan pandangannya , ke arah bibir yang pada saat ini masih membengkak .


Diam-diam Annaya mengawasi wajah itu, seakan tersihir ia tak melakukan penolakan


Setelah beberapa saat Barra menarik kembali tubuhnya.


" Aku akan mengantarmu pulang" Barra segera menghidupkan mesin mobilnya kembali.


Mobilpun kini membelah perkotaan yang sangat padat lalu lintas.,


Sejujurnya Annaya masih sangat jengkel dengan orang yang berada di sampingnya saat ini.


Mereka berdua pun kini saling mendiamkan, suasana hening kembali tercipta.


Tapi sebisa mungkin ia berusaha menahannya.


Kriyukkk....


Bunyi keroncongan pun kini tak sengaja terdengar oleh Barra.


Barra yang saat ini sedang fokus menyetir, tiba-tiba saja matanya teralihkan.


" Kau lapar ?"


" Ti-tidak " kilahnya berbohong,


" Tidak usah berbohong, aku mendengarnya" Annaya merasa sangat malu, ia merutuki perutnya sendiri yang tidak bisa di ajak kompromi.


Setelah beberapa saat, mobil berhenti tepat di sebuah Cafe .


" Ayo turun, aku tau kau lapar, jadi tidak usah menolak " tegas Barra, dan terpaksa Annaya menurutinya, karena memang iya sudah sangat lapar, perutnya sudah terasa sangat sakit sekali.

__ADS_1


Mereka berduapun kini mausk ke dalam Cafe tersebut, dan makan bersama.


Setelah itu, Barra mengantar Annaya pulang ke Appartementnya.


Mobil pun tiba di sebuah Appartement kawasan elit ternama di kota itu.


" Apa kau selama ini tinggal disni " tanya Barra mengernyitkan keningnya. Pasalnya ia mengira Annaya adalah orang yang memiliki kehidupan yang sederhana. Tapi saat melihat kawasan elit tersebut, Barra menjadi curiga.


" Iya, " ucapnya datar, dan Annaya ingin segera turun dari dalam mobil tersebut.


Tapi satu tangan tiba-tiba saja menariknya kembali.


" Sejak kapan ?" tatapnya tajam seolah mempertanyakan,


Annaya tak Sadar jika perbuatannya telah membuat Barra mengetahui tempat tinggalnya sendiri selama ini dimana.


" Apakah itu penting , apa urusannya denganmu ?" ketus Annaya tanpa rasa bersalah


Dan iya,


Barra membulatkan matanya, ia tak sengaja memukul kursi samping yang saat ini sedang di duduki Annaya.


Annaya tersentak kaget.


" Kau gila, apa yang kau lakukan ?"


Tiba-tiba saja , Barra menyunggingkan senyum sinisnya.


" Berarti selama ini aku seperti orang gila mencarimu kemana-mana, kau ada disini ?" tanya Barra perlahan dengan sorot mata yang sulit di artikan.


" Apa maksudmu ?" Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, seketika Annaya tersadar, atas apa yang sebenarnya terjadi.


" Turun!!!" teriak Barra menggelegar.


" Tidak usah berteriak kepadaku, aku akan turun " sungut Annnaya begitu kesal, dan membanting pintu mobil tersebut dengan sangat kasar.


Barra pun bergegas pergi meninggalkan Annaya sendiri di halaman gedung Appartement tersebut, dengan perasaan yang begitu kesalm


" Kenapa juga harus berteriak-teriak, dia pikir aku tuli apa " sungut Annaya tak terimah

__ADS_1


# Jangan lupa, like, komen, dan Votenya


__ADS_2