
1 bulan telah berlalu
Barra semakin sibuk dengan pekerjaannya.
Ponselnya kini berdering.
Tertera nama Fellice di sana.
" Iya ada apa? " jawab Barra sekenanya.
" Aku di kantormu " ujar Fellice yang berhasil mengejutkan Barra.
" Apa "
Sontak saja Barra langsung berdiri dari duduknya.
" Tunggu sekertarisku akan menjemputmu" Barra langsung bergegas menghubungi Gunawan. Menyuruh untuk membawa seorang wanita yang ada di lantai bawah.
Setelah beberapa saat, Fellice tiba di ruangannya.
" Fel, ngapain kamu kemari? " Barra memandang Fellice tajam.
Sungguh Barra tak suka, seseorang mengganggu waktu dalam jam sibuk nya.
" Kok kamu gitu , Aku itu kemari karena kangen banget sama kamu " Fellice berjalan menghampiri Barra. " Seharusnya kamu senang aku kesini " Fellice sengaja datang ke kantor Barra, supaya hubungan mereka segera di ketahui oleh semua orang.
Lalu Fellice, bergelayut manja di lengan Barra
" Hentikan fel, ini jam kantor. Sebaiknya kamu pulang aku masih banyak pekerjaan" Barra sengaja menghindar.
" Aku gk mau, kenapa sih Bar akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dari aku. Sudah 1 bulan loh kamu cuek banget, chattingan aja kadang balesnya singkat-singkat. Kamu berubah " ujar Fellice, seraya memasang wajah ngambeknya
Alih-alih mendapat perhatian, dan Barra membujuknya supaya jangan ngambek, malah ucapan dingin yang ia terima.
" Aku sibuk" ujar Barra, sembari membuka kembali berkas kerjanya
Dengan lancangnya, fellice menutup berkas yang ada di hadapan Barra...
" Fell..!!! " sentak Barra yang mulai kehilangan kesabarannya.
" Kamu teriakin aku ?" ujar Fellice tak percaya, selama ini Barra selalu lembut dengannya.
" Kamu itu yang kenapa? Aku benar-benar sibuk. Tapi kamu tidak mengerti sama sekali. Sebaiknya kamu pergi dari sini " ujar Barra di puncak emosinya, menatap Fellice dengan sangat tajam. Benar-benar.. wanita yang ada di hadapannya saat ini, tidak mengenal dirinya sama sekali.
__ADS_1
" Kamu Keterlaluan. Aku hanya ingin mengunjungimu, tapi respon kamu berlebihan. Kamu berubah! Apa jangan-jangan ada wanita lain selaiin aku selama ini? " dan benar saja, ucapan Fellice menghancurkan imagenya.
" Heh... sebaiknya kamu pergi. Atau aku akan... " ucapan Barra terputus, Fellice langsung menyela ucapannya.
" Akan apa? Akan memutuskanku begitu? Brengsek... Aku tak terima di perlakukan seperti ini. Kau tau.. Kau ini laki-laki yang begitu munafik. Sebelum kau mengatakan putus denganku, aku yang akan memutuskanmu terlebih dahulu. Mulai sekarang kita putus!! " Ujar Fellice mulai tersulut amarah. " Plak!!! " sebuah tamparan mendarat di wajah Barra Aditama " Dasar laki-laki Munafik" Fellice lalu pergi dari ruangan Barra tersebut, saat melewati pintu keluar, Fellice sengaja membanting pintu itu dengan sangat kasar.
Di dalam ruangannya, Barra masih berdiri di tempat, masih merasakan hangat tamparan yang baru saja ia terimah.
Sebuah senyuman tak percaya ia pancarkan.
"heh.. " Barra menyunggingkan senyum sinisnya.
Lalu ia fokus dengan pekerjaannya lagi.
Barra tak terlalu memikirkan hubungannya barusan.
Sifat dingin, dan suka menyakiti itu sedikit timbul kepermukaan. Barra yang tak berperasaan pun hanya menganggabnya sebuah angin lalu.
Sifat dingin, dan tatapan tajam itupun, ia terapkan kesemua orang. Terutama bagi karyawan di kantornya. Siapa yang tak mengenal sosok Barra Aditama, semua orang tak berani apa lagi menyinggung dirinya. Dalam hitungan menit, dengan mudahnya Barra akan membalikan hidup orang tersebut.
______
Di club.
" Laki-laki brengsek!!! Dasar munafik!!! . " teriak Fellice sembati menegak minumannya.
Fellice sengaja memesan begitu banyak sekali minuman. Tanpa sadar, sepasang mata sedang menatap dirinya.
" Hei.. boleh aku temani " ujar salah satu Pria yang ada di club tersebut datang menghampiri Fellice.
Fellice dengan perlahan mengangkat kepalanya, dan menatap wajah orang yang ada di hadapannya saat ini.
Sebuah senyuman terukir di wajahnya.
" Hmm... "
" Kau begitu cantik! Apa kau sedang patah hati? "
" Aku sangat patah hati. Laki-laki bodoh itu, begitu munafik... Hahaha... dia laki laki munafik!! " teriak Fellice sangat mabuk
" Munafik! Apa dia tak bisa memuaskanmu? " ujar Pria tersebut memancing.
Fellice pun langsung menatap Pria tersebut,
__ADS_1
dan mengangguk.
" Sayang sekali, Pria itu tak bisa melihat wanita secantik dirimu. Kalau boleh.. aku bisa memberi kepuasan untukmu? " bisik Pria tersebut dengan seringai liciknya.
" Benarkah.. kalau begitu. Kau bertanggung jawab atas ucapanmu " ujar Fellice tersenyum manja.
" Baiklah, akan ku pastikan, aku akan memuaskanmu " Dengan Perlahan pria tersebut menyentuh tubuh Fellicez dan meraih kepalanya. Merekapun berciuman dengan sangat intim.
Fellice yang telah di kuasai minuman pun, menerima sentuhan pria tersebut.
" Tentu tidak disini sayang " bisik Pria tersebut, yang melihan Fellice sudah terlalu bernafsu dengan dirinya.
Lalu mereka pergi ke sebuah ruangan yang telah di persiapkan untuk para pengunjung yang datang untuk beristirahat di dalam Club tersebut.
Saat tiba di dalam ruangan, mereka mulai melanjutkan aksinya yang sempat tertunda sebelumnya.
Pria tersebut, mencumbu Fellice dengan sangat rakus, melepas semua pakaian yang di kenakan oleh Fellice satu persatu. sampai akhirnya mereka , sudah tidak menggunakan pakaian lagi. Lalu setelah beberapa saat, mereka akhirnya melakukan penyatuan.
" Sudah tidak perawan rupanya" gumam Pria tersebut dalam hati.
Pria tersebut terus menghajar tubuh Fellice habis-habisan. Fellice sangat menikmatinya.
" Akh.... kau sungguh luar biasa" racau fellice di bawah kungkungan Pria tersebut.
.
Tanpa mereka sadari, seseorang melihat aksi keduanya..
Video tersebut meluncur , dan langsung di ketahui oleh Barra.
" Cih, Dasar wanita murahan!!" guamam Barra pelan
Tiba saja sebuah pesan misterius masuk.
" Wanitamu sudah bersama orang lain ! " ujar Pesan asing tersebut.
Barra yang mendapat notifikasi seperti itu, tertawa dalan hati.
Dan mengabaikan Notifikasi pesan tersebut..
Tanpa orang itu ketahui, sebenarnya hubungan mereka telah berakhir
" Tapi, siapa orang ini? " lirih Barra seraya memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Seseorang yang mengirim pesan tersebut, menggertakan giginya. Kenapa tidak ada balasan sama sekali dari Barra.
______