
" Ada apa denganmu, kenapa suka sekali menarik tanganku ? Tanganku sakit !" Annaya menatap Barra tajam, ia meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.
" Jika kau tidak berontak terus menerus, tentu saja tanganmu tidak akan sakit. Itu salahmu sendiri " tegas Barra, dan menghidupkan mesin mobilnya segera.
" Terserah " Ketus Annaya , ia memalingkan mukanya sendiri, ia sangat malas berhadapan dengan orann yang yang ada di sampingnya saat ini.
Di sepanjang perjalanan keduanya hanya saling mendiamkan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang ingin membuka suara.
Tiba-tiba, Barra menghentikan mobilnya.
Annaya melirik di sekitaran jalan, tidak ada satu pun perumahan disana.
Hanya ada jurang dan tebing yang tinggi.
Annaya tak sadar kemana Barra akan membawanya, sehingga saat ia menyadari raut mukanya menjadi panik.
Barra turun dari mobilnya, dan berjalan ke sisi pintu samping tepat dimana Annaya sedang duduk.
Di dalam mobil, Annaya mulai mulia panik.
" Apa ini ! Apa Barra mau membunuku, karena aku meninggalkannya selama ini ! Apa jangan-jangan ia sekarang sudah menjadi psikopat ? Tidakk !!!! selamatkan aku " teriaknya dalam hati, air matanya seketika jatuh karena ketakutan.
Ceklek
Pintu mobil pun kini terbuka
" Keluar " perintahnya datar
" Nggak mau... Aku ngga mau keluar ! " tolak Annaya beringsut menjauh dari jangkauan yang Barra ulurkan.
" Aku bilang keluar !" sentak Barra kesal,
" Kamu gila ! Ngapain kami bawa aku kesini, aku tau kamu pasti mau bunuh aku kan..." teriak Annaya ketakutan ,berusaha mempertahankan dirinya.
Air matanya berjatuhan, menolak ajakan Barra untuk segera turun dari mobil.
Apa !
Barra kaget atas ucapan yang Aya lontarkan untuk dirinya.
Siapa yang mau membunuh pikirnya
Kepalanya menunduk perlahan untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
Barra menatap Annaya tajam.
Ia meraih tengkuk Annaya dan kedua bola mata itu saling bertemu.
" Apa yang kau pikirkan ?" Mata itu seakan menusuk dirinya, seolah ada ketersinggungan di dalam sana.
" Cepat keluar ! Atau aku benar-benar akan membubuhmu " ancam Barra tepat di hadapan Annnya.
Dengan reflek, Annaya menuruti ucapan yang Barra lontarkan.
Tapi, saat tubuhnya kini telah turun dari mobil tersebut.
__ADS_1
Matanya tak sengaja mengedar memperhatikan sekitar.
Sontak saja Annaya membulatkan matanya tak percaya, saat melihat pemandangan di samping jurang yang di lihat olehnya yang begitu sangat menyeramkan.
Ternyata ada hamparan bunga-bunga yang sangat luas d bawahnya.
Annaya begitu terpukau dan sangat senang. Rasa takutnya seolah sirna begitu saja. Senyum begitu mengembang di wajahnya.
Sementara di sisi lain, Barra merenungkan perbuatannya hari ini.
" Ada apa denganku. Kenapa membawanya ketempat seperti ini " Pasalnya Barra tak tau mau kemana mereka akan pergi, ia hanya terbawa suasana, dan entah mengapa ingin menarik Annaya untuk selalu berada di dekatnya. Sungguh tak di sangka olehnya, mobil nya akan menuju ketempat seperti ini, Tanpa sadar terdapat hamparan bunga-bunga yang sangat luas.
" Hekhem." Barrra berdehem menghampiri Annaya.
Annaya otomatis menoleh ke arahnya.
" Maaf " Annaya menatap langsung ke arah Barra.
" Untuk apa" lirih Barra, masih memasang tampang dinginnya.
" Maaf Karena aku telah menuduhmu yang tidak-tidak barusan" lirih Annaya pelan.
" hmm" sahut Barra datar.
Sejenak, suasana menjadi hening kembali.
" Ada apa kau membawaku kemari ?" tanya Annaya yang tiba-tiba saja memecah keheningan.
Seketika Barra tersadar, ia sangat kebingungan harus menjawab apa.
Tentu saja ia tidak tau mengapa ia melakukannya.
" I-itu tidak penting, tidak usah bertanya" kilah Barra dengan raut wajah bingungnya.
" Dasar aneh " lirih Annaya pelan, dan tentu saja Barra mendengarnya.
" Siapa yang kau bilang aneh ?" tatap Barra tajam.
" Apa ! Aku tidak bilang apapun " kilah Annaya tanpa rasa bersalah.
" Kau tau sedang berbicara dengan siapa ? "
tegas Barra kesal, " , kau mau aku menghukummu ?"
" Iya , kau memang atasanku. Tapi maaf, ini di luar pekerjaan. Apa anda lupa Pak Barra Aditama, ?" sentak Annaya menekankan kata-katanya.
" Oh. jadi kau mengabaikan ucapanku "
Barra dengan cepat meraih tubuh Annaya dengan sekali tarikan, dan berhasil menjatuhkannya tepat kedalam pelukannya sendiri.
Barra menatap lekat wajah Annaya yang pada saat ini sedang balik menatapnya tajam
" Lepaskan ! Apa yang kau lakukan " brontak Annaya berusaha melepaskan dekapan itu .
" Diamlah ! Kau tau Ay, aku tidak akan melepaskanmu " lirih Barra pelan.
Dekapannya semakin kencang . Tatapan mata itu seolah berhasil membuat Annaya seketika memucat.
__ADS_1
" Apa maksudmu ?" Annaya merasa Barra semakin menyiksa tubuhnya.
" Aku akan menghukummu,"
" Jangan konyol, aku tidak melakukan kesalahan apapun . Kau dengar ?" ujar Annya masih berusaha untuk melepaskan diri.
" Kau yakin tidak melakukan kesalahan apapun ? Haruskah aku mengulanginya?"
" Kamu keterlaluan," teriak Annaya kesal.
" Heh, kenapa kau harus muncul kembali ? " Tatap Barra tiba-tiba dengan ribuan pertanyaan di setiap ucapannya.
Matanya seolah-olah hendak meminta penjelasann.
Kini keseriusan mulai terpancar di setiap sorot matanya, tersirat amarah yang tersembunyi di dalamnya.
" Bar, kau menyakitiku" lirih Annaya pelan, ia merasa sesak sekali.
Mendengar ucapan Annaya yang sama sekali tak berniat menjelaskan.
Membuat Barra kembali kesal.
Matanya yang memerah, seakan ingin menghukum lebih.
"Kau dengar ini Ay ! Mulai saat ini jangan pernah bermimpi untuk bisa lepas dariku lagi, " Ancam Bara terbawa suasana .
Ia melirik bibir yang sangat membuatnya jengkel itu karena tidak kunjung juga menjelaskan yang sebenarnya, membuat Barra sangat gerget ingin melahapnya.
Barra dengan cepat meraih tengkuk kepala Annaya, dan menyambar langsung Bibirr tersebut dengan sangat kasar. Ia melumatt habiss-habisaan biibir tersebut dan menyeesapnya dengan sangat dalam.
Annaya yang merasakan serangan tersebut, meringis kesakitan.
Air matanya luruh seketika.
Ia tersentak saat mendapatkan sebuah perlakuan dadakan seperti ini.
Satu tangannya berusaha memukul dada bidang Barra dengan sangat kencang , tapi sayang kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan yang Barra berikan untuk mengendalikan tubuhnya.
Annaya pasrah dengan apa yang Barra lakukan.
Tangannya perlahan terjatuh, ia tersengal tak bisa bernafas , ciiuman itu telah menghisap habiss pasukan oksigennya .
Bara yang merasakan pergerakan Annaya semakin melemah dan tidak melakukan perlawanan, menarik kembali ciiumannya.
Ia melihat, Annaya sedikit kesulitan bernafas dan terisak atas perbuatannya barusan.
Melihat itu, Barra tak melanjutkan aksinya lagi.
" Aku mwmbencimu" lirih Annaya dengan mata yang kini berkaca-kaca dan memerah karena marah. Tangannya kini terangkat.
Dan....
Plakk.....
Sebuah tamparan hangat kini melayang
Barra tersentak atas apa yang Annaya lakukan.
__ADS_1
Ia memegang wajahnya sendiri, yang terasa sangat ngilu.
#Jangan lupa, like komen, dan vote.