
" Salin ulang semua berkas yang ada di hadapanmu. Jangan ada satupun yang salah ! Dan ingat, kau harus mengerjakannya selama 1 jam. Terlambat 1 menit saja, kau harus menyalinnya kembali " Tegas Barra tanpa perasaan.
Iya, inilah Barra yang sebenarnya... Orang yang paling menyebalkan dan tak berperasaan.
Annaya mengutuk prilaku Barra yang menurutnya sudah keterlaluan.
" Apa yang mereka katakan memang benar tentang pemimpin yang Arrogan ini. Cih... aku sangat membencimu, semakin sangat membencimu" Tanpa sadar air mata kekesalan sedikit keluar di sudut mata Annaya, ia tak peduli lagi siapa orang yang ada di hadapannya saat ini, baginya mereka sudah tidak ada hubungan lagi. Yang ada hanya, ia sebagai bawahan dan Barra adalah atasannya.
Dengan hati yang sedikit tersayat, perlahan Annaya menunduk meraih satu persatu berkas yang tercecer di lantai.
Ia susun satu persatu, dan merapikannya.
Annaya pun berdiri, menatap Barra dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Kalau begitu saya permisi, saya pastikan semuanya akan selesai dalam 1 jam sesuai yang bapak mintak " Annaya pun segera berlalu tanpa menoleh kembali ke arah atasannya ini, yang tak lain adalah seseorang yang sudah di anggab mantan bahkan tak ingin dirinya kenali lagi.
Pintu ruangan pun tertutup sangat kencang, membuat Barra sedikit terlonjak
" Argghh...." Tangannya menghamburkan semua berkas yang ada di atas meja Kerjanya.
Barra mengusap kasar wajah nya sendiri sembari menundukan kepalanya.
" Apa yang kulakukan..." lirihnya pelan.
Sebetulnya Barra tak sengaja melempar Berkas itu kearah wajah Annaya.
Iya hanya berniat melempar berkas itu ke sisi lain dari tubuh Annaya.
Sorot mata yang di berikan Annaya kepadanya, sangat menusuk . Barra tau, Annaya sangat marah kepadanya.
Tapi Barra tak peduli, segera ia menghela nafas menetralkan perasaan rasa bersalahnya.
Iya tidak bisa luluh karena sebuah tatapan mata saja.
Ia harus memberi pelajaran kepadanya..
Barra sangat membencinya !
____
Jam istirahat makan siang pun tiba.
__ADS_1
Semua Karyawan kantor berhambur keluar untuk beristirahat atau sebagian pergi kekantin yang ada di kantor tersebut.
Sementara ini, Annaya masih berkutat dengan pekerjaannya, ia beruaaha secepat kilat menyalin kembali berkas yang di berikan atasannya itu kepadanya.
Annaya benar-benar mengutuk dan mengumpat Barra habis-habisan di dalam hati.
" Hei anak magang... Rasain makanya jangan suka cari gara-gara. Kerjain tu yang bener" ejek Sisi dengan mata merendahkannya.
" Keriting-keriting deh tuh tangan. Hahaha " timpal Debby mereka berduapun menertawakannya,
Annaya sedikit melirik ke arah dua wanita itu matanya sangat jengah melihat keberadaan mereka..
" Heh.. " Annaya tersenyum sinis dlm hatu, ia tak peduli, ia terus mengerjakan dan menyalin berkas yang ada di hadapannya,
" Mau ngapain kalian, mau mintak di hajar " serga Gita mengagetkan keberadaan mereka.
Kedua anak itu sontak saja terkejut...
" iih, apaan sih ni orang. Yuk Deb, cabut aja.. Gue males ladenin nenek lampir ini "Mereka berduapun bergegas menjauh dari sana.
" loh kali yang nenek lampir.. An*ing" teriak Gita emosi,
" Dasar apa gak ada kerjaan, tiap hari gangguin orang.. " gerutu Gita kesal.
Gita pun masuk dengan santainya dan langsung duduk di kursi depan meja Annaya.
" Lo beruntung kali nggak di pecat " Ujar Gita sembari menggigit buah apel yang ia bawak dari rumah . " Ini buat lo, kebetulan gue bawak bekal lebih. " Gita menyodorkan sebuah bekal untuk Annaya.
Annaya pun menoleh, menatap bekal yang di berikan Gita.
Annaya akui, ia memang sudah sangat lapar sekali, pagi tadi sebetulnya ia tidak sempat untuk sarapan.
" Tapi kamu gimana ?" tanya Annaya tak enak ." Gue udah kok, tdi bawak bekal dua. Sengaja satu buat lo. Gue seneng kali dapat teman baik disini, " Ujar Gita sembari tersenyum
Annaya pun mengambil bekal tersebut " Makasih ya git.."
" Santai aja... loh harus ekstra Sabar sama pak Barra, dia orangnya gak kenal ampun sama siapapun "
" ohh yah. " Annaya tersenyum miris dalam hati .
" Emm.. Dan loh beruntung gk di pecat, biasanya masalah sepele aja tu bos suka main pecat aja, apa lagi yang namanya Gunawan. Muka aja yang kalem, padahal tangan kanannya tu bos, lebih sadis lagi ngehukum orang "
__ADS_1
" Iya " Jawab Annaya datar, sebetulnya Annaya tidak peduli mau seperti apa sifat bos dan sekretarisnya itu, iya hanya akan fokus dengan pekerjaannya saja.
Annaya pun masih fokus menyalin berkas yang di berikan Barra kepadanya
.Dan setelah beberapa saat, berkas pun selesai. Annaya menyusun kembali berkas tersebut tanpa ada kesalahan.
Hanya tersisa 15 menit lagi.
Melihat waktu yang masih cukup, Annaya langsung membuka bekal yang Gita berikan kepadanya.
Secepat kilat, Annaya melahap bekal tersebut.
Gita yang masih ada di hadapannya, melongo takjub.
" Lo serius ??" mata Gita membulat sempurna melihat Annaya makan seperti orang kesetanan.
Mulutnya menganga tak percaya.
Annaya pun menoleh...
" Hemm.." Angguknya dengan mulut yang penuh.
" Waktu adalah uang " ujar Annaya di sela-sela makannya.
Sejujurnya bukanlah Gayanya sama sekali makan dengan cara seperti ini, tapi ia harus menunjukan kedisiplinan waktu, dan harus profesional dalam perintah kecepatsn bekerja.
Bukan Annaya sama sekali jika ia tidak serius dalam melakukan sesuatu.
Tet...
Alarm pun berbunyi, menandakan 5 menit telah berlalu. Annaya menghentikan makannya . Ia sengaja menghidupkan alarm pengingatnya.
Ia pun dengan segera bergegas keluar untuk pergi keruangan pemimpin Aditama.groub.
# Ayo... jangan lupa Like, comen, dan votenya ya supaya Author rajin update !!
. Bantu author untuk naikin lagi ratting novel ini ya.
Karena novel " Mantan ! Jadi Manten ! ini , sudah lama terbengkalai !
Author selama ini fokus d cerita sebelah.
__ADS_1
Bantuan kalian sangat berarti bagi author.
Terimakasih atas support kalian yang masih setia !!