MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Tersiksa


__ADS_3

Di kantor,


Seharian ini Annaya sama sekali tak melihat keberadaan Barra.


Contohnya pagi tadi,ia tak mendapatkan telpon untuk membuatkan secangkir kopi.


Tapi,Annaya merasa lega. Ia lega karena bisa menghindarinya.


Tiba-tiba saja, seseorang berdiri tepat di hadapannya.


Sontak saja Annaya langsung mendongakan matanya.


Matanya langsung membulat sempurna .


Sosok yang berdiri tegab dengan setelan Jas berwarna Cream kini sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


Barra membenci dirinya sendiri, setelah berjam-jam menahan diri untuk tidak melihat Annaya, ia seakan tersiksa.


" Ada apa dengannya, kenapa memberikan tatapan tajam seperti itu ?" guamam Annaya dalam hati.


" Apa ada yang bisa saya bantu pak. ?" tanya Annaya sembari menundukan pandangannya.


Dengan segera Barra meraih sebuah remot kontrol penutup gorden di dalam ruang kaca tersebut.


" A-apa yang bapak lakukan" Annaya kaget melihat seluruh ruangannya tertutup sempurna, di dalam ruang kaca tersebut suara mereka tidak akan terdengar di luar ruangan.


Barra menarik lengan Annaya dari sisi samping dan berhasil mendekat ke arahnya.


" Akhh... " sentak Annaya berhasil menabrak tubuh tersebut.


" Kau puas sekarang " tatap tajam Barra ke arahnya


" Apa maksud anda ?" Jujur saja Annaya merasa tatapan itu tersirat sebuah makna yang membuatnya ketakutan.

__ADS_1


Barra semakin mengeratkan pelukan di pinggang Annaya dan semakin menempel ke arahnya.


Ia pun perlahan mengarahkan Annaya di sebuah tembok, dengan sangat kesusahan Annaya berjalan tertatih dan tubuhnya kini berhasil menabrak sebuah tembok.


Barra mengunci pergerakan Annaya, dengan kedua tangannya.


Matanya memberikan tatapan yang tak biasa.


" Apa kau senang melihatku seperti ini ? Kau senang sekarang ?" tegas Barra semakin menekankan kata-katanya.


" Kenapa perasaan ini tidak bisa pergi dariku, kau tau, aku tidak bisa mengenyahkanmu. Bertahun-tahun ay... bertahun-tahun " lirih Barra semakin frustasi, ia pun menunduk mengawasi setiap sudut wajah Annaya.


Jantung Annaya semakin berdetak kencang. Di saat keduanya saling berdekatan seperti ini.


" Pak, kumohon jangan seperti ini" tolak Annaya berusaha mendorong tubuh Barra dari hadapannya.


Tapi sayang. Barra mengabaikan ucapannya.


Ia kembali menatap Annaya dengan tatapan yang sangat tajam.


" Jelaskan Ay. Jelaskan..." Barra meninju sebuah tembok yang ada di belakang Annaya dengan perasaan yang sangat Frustasi.


Darah segar sesikit mengalir di tangannya, dan memperlihatkan bekas yang menempel di bagian tembok tersebut.


" Kenapa kau pergi, kenapa kau menjauh dariku, Kenapa " lirihnya sembari memelankan suarahnya yang sedikit terasa serak.


Annaya yang melihat itu menyadari, bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini begitu sangat menderita.


" Ma-maaf " tanpa sadar Annaya menitihkan airmata bersalahnya.


Iya tak kuasa melihat kesedihan yang Barra alami.


" Aku, sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Ay, kenapa kau lakukan ini..." Lirih Barra dengan perasaan hati yang kacau. Dengan segera Barra pun mendekap Annaya. Di peluknya wanita yang paling ia cintai itu dengan perasaan yang sangat dalam.

__ADS_1


" Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Jangan pernah"


Annaya yang melihat kesedihan yang mendalam yang Barra rasakan, akhirnya membalas pelukan tersebut.


Melihat balasan itu, Barra semakin mengeratkan pelukannya.


Lama pelukan itu berlangsung keduanya saling melepaskan diri.


Keduanya saling terdiam dengan perasaan yang tak dapat di jelaskan.


Annaya yang sadar jika tangan Barra terluka, segera menuntunnya untuk duduk.


Barra mengernyit bingung melihat perlakuan yang di berikan Annaya terhadapnya.


Ia lupa jika tangannya sendiri saat ini sedang terluka ..


Setelah beberapa saat Annaya kembali dengan membawa kotak P3K yang terletak di sudut ruangannya. Dan meraih tangan Barra yang terlihat luka dan memar di sana.


Barulah saat itu ia tersadar, apa yang terjadi.


Dengan sangat hati-hati, Annaya mengobati luka tersebut, lalu membersihkannya dengan menggunakan kapas yang sudah di beri alkohol, setelah itu meneteskan beberapa tetes obat merah di sana, lalu membungkusnya dengan menggunakan sebuah kain kasa.


" Jangan menyakiti diri sendiri" ucap Annaya sekilas dan hendak berbalik mengembalikan kotak P3k tersebut, tapi sebuah tangan kekar menahan dan menariknya.


Brukh...


Annaya terjatuh tepat di pangkuan Barra,


Dengan sangat terkejut, Annaya hendak berdiri, akan tetapi Barra menahan pinggulnya dengan kedua tangannya sendiri, supaya tidak ada pergerakan.


Mata keduanya kini saling berhadapan.


_____

__ADS_1


# Jangan lupa like, komen , dan vote.


__ADS_2