
Semakin tinggi perusahaan yang di pimpin seseorang, semakin pula besar badai yang akan menghancurkannya.
Kejadian hari ini, membawa pelajaran bagi Barra.
Jika tidak hati-hati, musuh bisa masuk kapan saja untuk menghancurkannya.
Melewati orang yang dekat dengan kita.
Alih-alih mengecoh konsentrasi kerjanya.
Barra tidak terpengaruh sama sekali dengan Video syur yang dirinya terimah.
Bahkan, sangat beruntung, dirinya kini telah terlepas dari Wanita itu. Lewat Video ini, Barra tau. Jika perempuan tersebut bukanlah Perempuan yang terbaik untuknya. Jika saja mereka masih mempertahankan hubungan, maka akan di pastikan ia akan emosi.
Di Cafe,
Barra bertemu dengan teman-temannya.
" Jadi serius loh udah putus Bro? " Tanya Antony terkejut.
" Kenapa memangnya? " tanya Barra mengernyitkan kening.
Barra mengambil minuman dan menegaknya.
Sementara itu, Antony dan josuah menatap Barra dengan seksama.
" Sorry Bro, kita-kita gak menyangka kalo Fellice kayak gitu " ujar Josuah merasa bersalah.
" loh yang sabar yah. Maaf kita ngenalin orang yang gak bener sama lo" ucap mereka prihatin.
" Ha.. ha.. ha.. Muka kalian kenapa ? Udahlah, Gue baik-baik saja. Malah bersyukur Dia yang mutusin! " ujar Barra santai.
" Anji*ir loh yah... Kita takut lo frustasi. Kirain hubungan kalian adem ayem gimana. Gak taunya biasa aja respon lu. " sungut Josuah kesal.
" Kalian pikir akan ada drama sedih-sedihan gitu. Oh ayolah... kalian pikir gue apaan " Tanpa sadar Kedua sahabatnya tersebutpun menertawakan ucapannya.
" Yakin bro.. hahha... gak ingat dulu lo kayak apa saat.... " Tiba-tiba saja mereka berdua tersadar, jika mereka telah membahas hal yang sangat tabu " ups, sorry bro kita gak sengaja " dan benar saja ekspresi wajah Barra yang tadinya menyenangkan, kini kembali berubah menjadi ekspresi yang sangat dingin.
" loh sih jo, ngapain sampai keceplosan gitu "
ujar Antony sembari menatap Josuah.
" loh juga, ikut-ikutan tertawa tadi. " bisik Josuah membela diri.
__ADS_1
" haish.. fatal banget ini bro " gumam Anthony lemah.
Saat mereka menatap Barra dengan wajah yang sulit di tebak.
" Sorry bro... "cicit Anthony takut-takut.
" Bro.. kita ada janji dengan klien, kita pamit dlu . Ini mendadak " ujar Josuah yang terlihat tergesa-gesa ingin meninggalkan Barra. Dan menarik lengan Anthony, mereka tidak ingin menjadi amukan masa oleh Sang Barra Aditama.
Suasana menjadi hening, ruangan yang semula berisik kembali dalam keheningan. Di mana mereka memesan sebuah tempat VViV di Cafe tersebut.
Barra duduk bersandar di sebuah sofa panjang, dan memejam kan matanya.
Sekilas Barra, memutar ingatanny kembali mengingat lagi apa yang terjadi dengannya bertahun-tahun yang lalu.
Saat ini, ia sangat membenci hal tersebut.
Bahkan.. Seseorang yang sempat mengisi hatinya sampai terluka cukup lama karena di tinggalkan, membuat hatinya bergemuruh.
Barra mengepal kan tangnnya cukup dalam dan kencang.
Ada emosi yang tertanam di dalam jiwanya.
" Annaya Pandey,,,, heh" Barra menyunggingkan bibirnya, sekilas melengkung menandakan bahwa ia tak ingin lagi mengingat nama itu. Sosok yang menghilang dalam sekejab dari hidupnya, dan menghancurkan harapannya, perasaannya, cintanya, penantiannya, semuanya hancur seketika.
" Argggghhhh...... " teriak Barra begitu Frustasi.
Perasaannya yang masih sangat rapuh.
Meski sudah 5 tahun berlalu.
Tidak mudah, bagi Barra melupakan sosok Annaya.
✈✈✈✈
Di Bandara.
Sosok Perempuan berjalan , menarik sebuah koper besar.
Dengan kaca mata hitam yang melekat di matanya, rambut panjang bergelombang, tubuh tinggi, berkulit putih.
Berhasil memikat semua orang yang melihatnya.
Ia, dia adalah Annaya Pandey.
__ADS_1
Di sisi lain, terlihat sosok tegas berpenampilan Formal sedang menjemput kedatangannya.
" Silahkan Nona muda, saya adalah pengawal kepercayaan Ayah Nona, di perintahkan langsung oleh Tuan Pandey untuk menjemput Nona " ujar Pengawal tersebut sopan,
Annaya pun masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
Dengan segera pengawal tersebut bergegas mengangkat sebuah koper yang di bawah oleh Nona mudanya itu, dan masuk ke dalam kursi pengemudi.
Mobil pun melaju dengan cepat, menuju tempat kediaman kedua Pandey selama ini, selain di Jerman.
Tiba di Gerbang besar utama sebuah rumah yang sangat megah, beberapa pengawal membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan Nona muda Pandey untuk memasuki halaman rumah yang sangat luas itu.
Annaya membuka pintu, dan turun dari mobil mewah yang ia naiki.
" Selamat datang kembali Nona Muda " ujar para Pengawal dan pekerja di Kediaman Pandey.
Semua berbaris dengan rapi, menundukan kepala dengam sopan, menyapa Nona muda mereka itu.
Annaya tersenyum memandangi mereka.
Dan berjalan melewati semua pekerja Pandey tersebut.
" Nona kita semakin cantik dan ramah " bisik salah satu pelayan bagian belakang.
" Kau benar, sudah lama sekali akhirnya Nona muda kembali, penampilannya semakin Dewasa dan berubah. "
" Hei.. sudah-sudah, jangan saling berbisik. Jika Tuan Pandey tau kerjaan kalian hanya berbisik-bisik seperti ini, habis kalian " ujar Kepala pelayan Pak Han namanya. Sosoknya yang gemuk, dan berumur, tapi sangat tegas. Meskipun menakutkan, Pak Han adalah orang yang bijaksana dan menjadi panutan setiap pelayan dan pengawal yang bekerja di Kediaman Pandey.
" Ah, Pak Han ini. kita hanya mengagumi Nona Muda saja kok. Tidak membicarakan macam-macam. Iya kan..iya kan. " ucap Pelayan tersebut, menoleh kepelayan lainnya.
Pak Han hanya menggeleng-geleng saja.
" Sudah-sudah. Ayo kembali bekerja " Pak Han membubarkan barisan tersebut.
Ceklek
Sebuah pintu terbuka,
Annaya melihat, Ayahnya sedang duduk di kursi kerjanya. Sementara itu, di hadapannya terdapat sebuah laptop yang terletak di atas meja sedang menyala. Terlihat dari kejauhan, ada beberapa wajah yang tertera di dalamnya.
Sepertinya Ayahnya sedang melakukan sebuah rapat, melalui sambungan Video dengan beberapa klien, dari berbagi perusahaan penting.
Annaya pun tersenyum, dengan perlahan menutup kembali ruangan tersebut. Tak ingin mengganggu waktu kerja sang Ayah. Lalu ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
🍧🍧🍧.
# Jangan lupa, LIKE, COMEB, DAN VOTENYA!