MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Tertekan


__ADS_3

Saat hendak masuk ke ruangan Pemimpin Aditama.groub.


Sebuah suara menghentikan langkahnya.


" Di dalam sedang ada tamu penting, Tuan Barra sudah menitipkan pesan jika berkas tersebut di serahkan kepada saya sebagai sekretarisnya " ujar Gunawan sembari menatap Annaya,


" Oh, baiklah. Sesuai dengan perintah pak Barra, saya sudah menyelesaikan salinannya tepat waktu" Annaya pun menyodorkan berkas tersebut.


Segera Gunawan mengambil berkas yang ada di tangannya, dan hendak membawanya ke dalam ruangan.


" Permisi.." Sapa Gunawan hendak meninggalkan Annaya yang masih berdiri.


Annaya pun mengangguk, dengan perlahan menarik nafasnya secara teratur.


Ia sangat lega karena telah selesai mengerjakannya.


Matanya sedikit melirik ke arah pintu ruangan tersebut,


" Sebaiknya kita tak harus saling bertemu. Tapi kenapa takdir seolah mempermainkan waktu..." dengan tatapan kosongnya, Annaya perlahan menjauh dari ruangan tersebut.


__


" Pa, Barra sudah bilang . Barra belum siap untuk menikah " tegasnya menolak saran Papa Bagas untuk segera menyuruhnya menikah,


" Papa sudah tua, kamu mau perusahaan besar kita gak punya penerus " Tatap tajam Papa Bagas tak kalah tegasnya.


" Mau lihat Papa mati dulu " Ancam Papa Bagas begitu kesal dengan Putra satu-satunya ini.

__ADS_1


" Tapi pa..." Ucapannya terpotong setelah Gunawan masuk dengan membawa berkas yang ada di tangannya.


" Permisi Tuan Besar, Tuan Muda, Saya hanya ingin menyerahkan berkas tersebut kepada Tuan Barra " Tunduk Gunawan berkeringat dingin, ia tak menyangka jika kehadirannya ternyata dalam waktu yang tidak tepat, ia sungguh sangat tidak beruntung menyaksikan perdebatan pribadi dari Ayah dan Anak ini, Gunawan benar-benar berkeringat dingin saat masuk ke ruangan tersebut.


Sorot mata Barra langsung beralih ke arah map tersebut.


" Hm.. kemarikan " Dengan cepat Barra langsung meraih Map yang berisi berkas tersebut.


Untuk beberapa saat, Barra meneliti salinan yang di kerjakan oleh Annaya. Ia sedikit tertegun, ternyata dalam waktu satu jam, Annaya bisa menyalin berkas sebanyak ini dengan cepat, dan begitu rapi tanpa ada kesalahan.


" Kau boleh keluar" Perintahnya kepada Sekretarisnya itu.


Sementara , Papa Bagas yang sedari tadi memperhatikan mimik wajah dari anaknya itu sedikit curiga.


" Tidak biasanya kau begitu serius memperhatikan sebuah berkas yang tidak penting, apa lagi hanya perintaj hukuman. Siapa gadis itu ?" Tanya Papa Bagas, dan berhasil membuat Barra terkejut.


" Bagaimana Papa tau jika seorang Gadis, Aku kan tidak pernah memberitahu Papa sama sekali " ujar Barra mengernyitkan kepalanya


" Dia hanya Karyawan Magang, Barra sengaja membuatnya disiplin. Jika tidak tegas, bisa-bisa Karyawan lain akan seenaknya saja bekerja " ucap Barra santai, sambil duduk di kursi kerjanya.


" Hem yasudah, Papa akan pergi dulu ! Dan ingat, kau tidak boleh menolak permintaan papa untuk menyuruhmu menikah, Minggu depan keluarga kita akan mengadakan pertemuan " tegasnya sembari mendorong perlahan kursi yang ia duduki ke arah belakang, matanya menatap tajam sang anak.


" Tapi.. Pa " Barra tak habis pikir, sesungguhnya ia tak ingin menikah. Bukan tak ingin, tapi belum siap.


" Tidak ada tapi, Kali ini yang ada Harus " tegas Papa Bagas tak terbantahkan.


Dan berhasil membungkam mulut dari Barra Aditama.

__ADS_1


Pintu ruangan pun tertutup.


Barra mengusap wajahnya agak kasar, ada guratan ketidak siapan di dalam hatinya.


" Kenapa bisa begini" gumamnya perlahan.


Kepalanya sangat sakit sekali mendapat tekanan untuk menikah.


Terlebih lagi, kehadiran Annaya telah meleburkan hatinya kembali.


Ia sangat-sangat tak bisa memikirkan apapun.


Segera Barra langsung meraih Jas yang ada di kursi duduknya lalu menentengnya keluar.


Ia benar-benar butuh penyegar.


Barra pun bergegas keluar dari kantornya, , sementara pintu ruangan telah terbuka membuat Gunawan dengan cekatan melihat sosok atasannya, ia pun langsung mengekori dari Arah belakang.


" Kau hendle semua pekerjaan untuk beberapa jam kedepan. Aku akan keluar sendiri" ujar Barra sembari berjalan dengan di ikuti sekwrtarisnya itu.


Gunawan pun mengangguk mengerti.


" Baik pak "


" Kemarikan kunci mobilnya" Dengan cepat Gunawan langsung menyerahkan kunci mobil tersebut kepada Barra.


# Ayo guys.... Jangan lupa jejaknya !

__ADS_1


Caranya \=\=\=\=\=\=\= **LIKE.......COMENT.... DAN JUGA VOTE .....


Terimakasih supportnya** !!


__ADS_2