MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Kesulitan Baru saja di mulai


__ADS_3

Di Ruangannya,


Barra yang pada saat itu melihat Annaya mulai masuk ke dalam Ruang Kerjanya. Mengisyaratkan Gunawan untuk segera pergi dengan mengibaskan salah satu tangannya ke udara.


" Baik Tuan.." Sekilas Gunawan melirik ke arah Annaya, dan Gunawan bertanya-tanya , tidak seperti biasanya Tuannya ini akan turun tangan menghukum Karyawan langsung hanya karena masalah sepele. Biasanya dirinyalah yang sering melakukan itu.


Tapi, gadis ini...?


Ah sudahlah, sepertinya ini bukanlah urusannya, Gunawan pun segera berlalu.


Seketika ruangan tersebut tiba-tiba saja menjadi hening, hanya ada mereka berdua.


Barra menatap sosok wanita yang berdiri tegak di hadapannya dengan sangat intens.


Sememntara itu Annaya hanya diam seribu bahasa, iya tak berniat sama sekali untuk memulai obrolan.


Sedangkan Barra, iya sedikit mengepalkan tangannya.


Tapi sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan kekesalannya.


Sosok yang ada di hadapannya saat ini, benar-benar berhasil menjungkir balikkan perasaannya. Yang begitu hancur lebur telah di perbuatnya selama ini.


Ingin sekali Barra nenghujami wanita yang ada di hadapannya kini dengab beribu pertanyaan.


Tapi...


Iya harus bisa tahan.


" Bicaralah" lirih Barra datar.


" Maaf pak, apa yang harus saya bicarakan" sebisa mungkin dirinya harus santai dalam berucap.


Barra yang melihat ekspresi Annaya, sudah tak terbendung lagi kekesalan yang selama ini ia tampung.


Dengan susah payah ia menahan emosinya !


" Kemana kau selama ini " Sorot mata itu seakan meminta penjelasan.


Annaya sekilas menghembuskan nafasnya.


" Apa yang harus aku katakan, bukankah hubungan kita telah berakhir. " lirih Annaya sembari menggigit bibirnya sendiri karena gelisah.


Brakk


Sontak saja ,bunyi gebrakan meja berhasil membuat Annaya terkejut, dadanya seakan melompat menahan keterkejutannya.


" Aku bilang kemana kau selama ini !!" Tegasnya tak ingin di bantah.


Suara lantang itu berhasil membuat Annaya terlonjak menatapnya..


Barra tak tahan lagi, emosinya sudah meluap-luap. Iya begitu kesal dengan sosok wanita yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


" Kembali Ke Jerman" sahutnya Datar, matanya kembali menunduk. Annaya sebisa mungkin untuk tetap tenang.


Seketika, langkah kaki semakin dekat ke arahnya. Annaya tak tau apa yang harus iya lakukan, iya memelintir bajunya sendiri, pergerakan Barra semakin dekat ke arahnya. Tanpa sadar kakinya perlahan bergerak mundur dan berusaha menghindari Barra yang semkain mendekatinya.


" Mengapa ?" lirihnya pelan... " Mengapa ?" teriak Barra tepat di hadapan Annaya, tangannya semakin mengepal kencang, ingin menghantamkan tangan tersebut ke dinding tembkok di bekakangnya.


Kepalanya menunduk tersirat kekecewaan yang sangat mendalam..Seandainya Annaya tau penderitaannya selama ini.


Hanya demi dirinya, hanya demi Annaya.


Iya hampir kehilangan sebuah nyawa karena tak henti mencari keberadaannya selama ini.


Tapi apa, selama bertahun-tahun, Barra sama sekali tak kunjung mendapatkan Annaya kembali. Beruntung ruangan tersebut sangat kedap suara, sehingga dapat di pastikan kebisingan apapun yang terjadi di dalam tak dapat di dengar oleh para Karyawan.


" Aku harus apa..." lirih Barra pelan ,tanpa sadar matanya kini memerah.


Hatinya kembali menguak luka lama,


Annaya begitu sangat kebingungan. Iya tak tau harus melakukan apa.


Lidahnya kelu.


Tapi.. Annaya tak bisa seperti ini, ada rasa sedikit takut setiap kali melihat amarah yang terpancar di wajah Barra.


Ia tak menyangka, setelah bertahun-tahun karakter Barra yang ia kenal, bisa menjadi semenyeramkan ini.


Harus apa ? Sungguh Annaya berusaha menetralkan perasaannya, ia pun mengusahakan untuk tetap tenang .


Sesungguhnya Annaya tak menyangka, ia bisa di pertemukan kembali dengan Barra. Ia tak tau apa yang akan Barra lakukan kepadanya saat ini.


Mendengar jawaban yang terlontar langsung dari Annaya . Membuat Barra semakin kesal di buatnya, ia dengan tak berperasaan akhirnya berbalik dan menendang kasar bangku tamu yang ada di depannya.


Brakkk.....


Bangku pun terpental tak berdaya di sudut ruangan, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


" Baik, kau mau aku memperlakukanmu seperti atasan dan bawahan bukan. Heh..Aku akn menunjukannya kepadamu " Barra dengan langkah kasar menjauh dari Annaya, dan membenarkan kembali jasnya yang sedimit berantakan.


Setelah beberapa saat, Barra akhirnya merubah 180 derajat keadaan yang ada, ia tak peduli lagi dengan apa yang baru saja terjadi.


Matanya kini menatap tajam wanita yang ada di hadapannya, dengan sangat angkuh dan arrogan, Barra menggeser kursi kebesarannya dan duduk dengan sangat santai dan dingin.


Annaya sedikit melirik ke arah meja kerja yang di tempati Barra.


Di dalam hati, bukannya Annaya tak ingin menjelaskan tentang kepergiannya ke jerman.


Ia ingin sekali membagi kesedihannya beberapa tahun yang lalu dengan Barra. Tapi setelah kejadian di Appartement dan Barra mencium seorang wanita lain selain dirinya, masih membekas di ingatannya.


Terutama setelah kejadian insiden di Appartement tersebut berlalu. 2 hari kemudian, Annaya berpapasan dengan Bianca yang pada saat itu juga sedang bersama seorang wanita paruh baya.


Yang Annaya yakini itu adalah, ibu dari Barra sendiri. Annaya tak percaya, Bianca akan sangat keterlaluan menceritakannya sebagai wanita murahan.

__ADS_1


Annaya sangat syok mendengarnya. Tapi beruntung ibu Barra tak mengetahui kedekatannya dengan Barra. Saat itu, Bianca sengaja menjelek-jelekan namanya, tujuannya hanya satu, menyebar opini buruk tentangnya.


Jadi ketika Barra mengenalkannya kepada Mami ira, maka mami ira tidak akan merestui hubungan mereka. Sungguh licik sekali wanita ular itu . Annaya sangat membencinya.


Rasa bencinya juga tak kalah besar untuk Barra, yang hampir saja menjadikannya wanita murahan sungguhan.


Barra juga tak bisa menguasi emosinya yang hampir berujung atas peniduran atas tubuhnya dahulu dengan paksa.


Terbukti pada saat ini, Barra kembali tak bisa menguasi emosiny. Yang dimana karakternya telah berubah 180 derajat berbanding terbalik dengan dirinya terdahulu.


Annaya masih tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia masih serius menantikan sesuatu yang akan Barra berikan kepadanya.


Di dalam hati, Annaya yakini jika hari ini dirinya akan mulai mendapatkan kesulitan besar.


Tapi apapun itu, Annaya tak peduli.


Iya akan tetap menghadapinya, pekerjaan ini sangat di butuhkan sekali baginya.


Sebagai seorang Karyawan magang Luar Negeri, iya sudah sangat beruntung sekali bisa di terima di sebuah perusahaan besar


Meski itu perusahaan milik Barra, percayalah.. Annaya tak tau sama sekali akan hal itu.


Ia akan secepatnya menyelesaikan masa magangnya ini dengan serius


Tiba-tiba saja, sebuah berkas menampar wajah depannya dengan sangat keras.


Sehingga membuat Annaya tersadar dari lamunannya.


Barra dengan tak berperasaannya sengaja melemparkan sebuah map kuning ke arahnya.


Annaya berhasil membulatkan matanya sempurna seakan tak percaya, atas apa yang baru saja Barra lakukan kepadanya.


Kasar sekali !


# Maaf atas lama up.nya.


Author habis menyelesaikan projek novel sebelah.


Yang insyallah, Author akan mulai fokus ke cerita ini.


Tapi....sebelumnya. Author minta dukungan kalian semua !


Untuk memberikan :


LIKE, KOMEN, DAN VOTENYA !!!


Supaya Novel yang satu ini, bisa Up kembali !!!!!!!


Dukungan kalian, sangat berharga bagi Author .


.

__ADS_1


__ADS_2