MANTAN JADI MANTEN

MANTAN JADI MANTEN
Halusinasi


__ADS_3

Hari ke-2


Hari ini Annaya super sibuk, iya mulai mendalami pekerjaannya,


Kring..Kring


Tiba-tiba suara dering telpon itu menghentikannya.


" Iy.." Belum sempat iya berbicara, suara seorang laki-laki langsung memutus ucapannya.


" Bawakan Kopi kemari..."


Tut...Tut....


Sambungan telpon pun berakhir


" Apa ? Bahkan aku blm sempat menjawabnya." gumam Annaya dalam hati sedikit tak percaya dengan sifat atasannya ini.


Iya pun bergegas ke pantry , untuk segera membuat satu cangkir kopi.


Tanpa sadar, iya menabrak seseorang


Brukh...


" Aw..." Annaya terkejut tubuhnya hampir saja terduduk, jika pria di hadapannya tidak dengan cepat menangkapnya.


" Sorry...Kau tidak apa-apa ?" tanya seorang pria tampan , berperawakan bule.


Annaya pun mendongak, di lihat dari wajahnya , laki-laki di depannya ini...dia cukup tampan .


"Tidak apa-apa pak, maaf saya salah " ucap Annaya menunduk. Iya tidak tau siapa orang di hadapannya, yang jelas iya harus bisa menjaga image sopan di depan siapapun, dirinya tidak ingin menyianyiakan pekerjaannya.


Karena dia adalah anak magang luar negeri yang beruntung bisa mendapatkan sebuah perusahaan yang mau menerimanya yang bukan berasal dari indonesia.


" Hei, aku lah yang salah karena terlalu terburu-buru. Saya Daniel... Kalo boleh tau siapa namamu ?" ujar Daniel, menatap gadis di depannya ini cukup menarik.

__ADS_1


" Annaya..."


" Nama yang menarik... Sepertinya kau bukan asli indo. Jika kita bertemu lagi, aku akan mentraktirmu makan, jadi jangan menolaknya sebagai permintaan maaf dariku. dan Sorry aku terburu-buru Kuharap kita bisa bertemu lagi" Daniel melambaikan tangannya dan bergegas meninggalkan Annaya sendirian.


Annaya pun segera berlalu dan menuju pantry.


Ruangan Pemimimpin/CEO.


Annaya masuk, ke dalam ruangan.


Sebelumnya iya sudah mengetok pintu terlebih dahulu.


Tapi, orang yang di dalam terlalu sibuk menerima telpon bisnis dari seseorang.


Annaya pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Dengan membawa secangkir Kopi.


Saat masuk, Annaya memperhatikan punggung sang pemimpin.


Entah mengapa hatinya seakan berdesir kembali.


" Ada apa denganku " gumamnya dalam hati,


" Permisi pak, saya membawakan kopinya " ucap Annaya sopan.


" Letakkan saja di sana" ujar Barra tanpa melihat,


Annaya perlahan meletakkan kopinya, dan segera berlalu dari ruangan tersebut.


Barra pun membalikan tubuhnya, saat satu tangan masih menerima telpon.


Matanya jatuh ke arah punggung wanita yang akan segera berlalu dari penglihatannya .


Aroma wangi parfum yang menyeruak membekas di ruanganannya, membuat Barra terdiam dan mengabaikan suara panggilan telponnya.


" Wangi ini..Dimana aku pernah menciumnya..." Barra mengernyitkan keningny seraya berpikir mengingat sesuatu.

__ADS_1


Aroma khas itu telah menghipnotisnya untuk sesaat.


Barra pun kembali fokus dengan teleponnya.


Jam Pulang kantor telah tiba,


Sedari tadi Annaya hendak memasan taxi online, tapi sayang tak ada yang merespon.


" Ada apa dengan para sopir taxi hari ini " gerutu Annaya kesal.


Tin.


Tin..


Bunyi Klakson mengejutkannya.


" Butuh tumpangan ?" Seseorang mengintip di balik pintu kaca mobil sport hitamnya.


" Kamu yang tadi kan, ayo naik " ujar Daniel.


" Tapi pak, saya..." ujar Annaya ragu.


" Hei ayolah apa aku memiliki tampang penjahat ?" ujar Daniel sedikit gemas.


Annaya pun terkekeh, dan akhirnya mau menerima ajakan Daniel.


Di dalam kantor, Barra mematung melihat sosok Annaya berada di luar kantornya.


Seakan tak percaya, dirinya keluar dengan secepat kilat. Tapi sayang mobil yang di naiki olehnya telah melaju dengan cepat.


" Arggghh......." teriaknya begitu frustasi.


Barra seakan hilang arah semua karyawan kantor sedang menatap ke arahnya.


Tapi tatapan tajam yang Barra berikan membuat mereka benar-benar ketakutan.

__ADS_1


" Aya....? " gumamnya dalam hati.


__ADS_2