MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR

MARRIAGE CONTRACT WITH THE COLD DOCTOR
Bab 10: Acara makan malam keluarga!


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Hari ini Dava pulang lebih awal dari biasanya. Hari-hari sebelumnya, dia akan pulang tengah malam bahkan terkadang hingga pagi baru kembali ke rumah. Tapi, hari ini adalah hari kebahagiaan keluarga nya. Ia tidak mau mengacaukannya. Sebelum kembali ke rumah, ia menyempatkan singgah di sebuah toko kue, untuk membeli beberapa makanan penutup mereka nantinya.


Di perjalanan menuju ke rumah, ia menelepon seseorang yang tak lain adalah istrinya, lebih tepatnya istri kontraknya.


"Halo" Sahut Rea dari seberang.


"Apa kamu sudah bersiap-siap? Aku akan sampai beberapa menit lagi!" Sahutnya datar.


"Ehh, iya. Baiklah! Aku akan segera selesai!" Ucapnya datar.


"Emm, hanya dibalas singkat oleh Dava.


"Di tempat tinggal Dava dan Rea"


Dava yang baru saja tiba, langsung bergegas masuk menuju kamarnya. Ia segera mandi dan memakai pakaian yang senada dengan Rea. Sengaja memakai pakaian yang bercorak sama, agar orang tua mereka tidak curiga tentang hubungan keduanya. Setelah selesai, ia segera turun ke bawah. Ia sempat bertanya kepada pelayan, dimana istrinya berada.


"Bi, Rea dimana?" Tanyanya kepada pelayan tersebut.


"Ehh, nyonya ya Tuan? Nyonya masih di kamar Tuan!" Sahutnya sopan.


"Apaaa?" Teriaknya.


"Apa yang dia lakukan dari tadi? Kenapa sangat lama? Apa semua wanita juga begitu? Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdandan? Sungguh merepotkan!" Gerutunya dalam hati.


"Iya, Tuan! Tapi.. penampilan Nyonya hari ini benar-benar sangat memukau, tuan! Semua orang pasti akan terpikat saat melihatnya!" Lanjut pelayan tersebut.


Dava hanya terdiam. Beberapa saat kemudian, setelah ia berpikir begitu keras, ia memutuskan untuk menemui Rea. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar Rea.


Tok..tok..tok! Suara pintu diketuk.


"Masuk!" Sahut Rea dari dalam.


Setelah mendapat ijin dari si empunya kamar, Dava langsung masuk.


"Kenapa kamu begitu.." ucapannya tergantung, kala ia melihat wanita yang ditunggunya tampil dengan anggun. Ia menganga dan menelan salivanya.


"Ada apa?" Sahut Rea sambil menyerngitkan dahinya.


"Apa aku terlihat jelek? Apa gaun ini tidak cocok aku pakai? Kenapa ekspresinya begitu?" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Ia menjadi salah tingkah, karna Dava tak berhenti menatapnya.


"Uhuk..uhuk! Ayo kita pergi!" Sahut Dava mencoba mencairkan suasana.


"Emm, baiklah!" Sahut Rea singkat.


Kemudian keduanya segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam mobil yang telah terparkir di halaman depan. Di sana, mereka telah lama ditunggu oleh Leon, sang supir.


"Selamat malam, Tuan! Silahkan, Tuan.. Nyonya!" Sahutnya sopan.


"Emm, kau tidak perlu mengantar kami. Aku yang akan menyetir sendiri!" Sahut Dava dan dibalas anggukan oleh sang supir.


"Baik, Tuan!" Balasnya dan berlalu pergi dari sana.


Sementara Dava, langsung berinisiatif membukakan pintu untuk istrinya itu.


"Silahkan, masuk!" Sahutnya pelan.


Bukannya masuk, Rea malah melamun. Dia merasa bahwa tingkah Dava sedikit berbeda hari ini dari hari sebelumnya.


"Apa dia sedang kesurupan, ya? Tumben hari ini baik. Sejak tadi, aku perhatikan.. sikapnya begitu aneh. Apalagi.." Lamunannya terhenti, karna Dava sudah mengangkat tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Ehh, apa yang kamu lakukan?" Kesalnya sedikit berteriak. Namun, Dava tidak mengindahkan perkataannya. Ia malah bersikap cuek seolah tidak terjadi apa-apa.


"Dasar es balok! Ditanya malah diam! Apa dia mati jika menjawab pertanyaan ku? Cih! Kamu tidak pantas disebut sebagai seorang pria sejati. Meskipun kamu tampan, tapi kamu lebih cocok disebut sebagai manusia kutub Utara!" Gerutunya dalam hati.


Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Tanpa bersuara. Sesekali Dava meliriknya sekilas, melihat ekspresi kesal Rea. Sementara Rea berpura-pura tidak melihat, karna dia masih kesal dengan Dava.


"Di kediaman orang tua Dava"


Dava dan Rea yang baru saja tiba, langsung disambut hangat oleh orangtua mereka.


Dava langsung merangkul pinggang Rea dengan tangan kirinya, agar orangtuanya tidak curiga dengan hubungan mereka yang kurang baik. Tapi, lain dengan Rea. Ia masih belum menyadari kenapa Dava bertingkah demikian.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Bisiknya ke telinga Dava dan membuat si pria es dingin itu menyerngitkan dahinya.


"Huh! Aku bisa saja melepaskanmu. Tapi, bagaimana kamu akan menjelaskan tentang hubungan kita kepada mereka?" Balasnya berbisik dengan sedikit kesal.


"Ehh, ap..?" Rea tidak melanjutkan perkataanya lagi. Ia baru tersadar dan menelaah perkataan Dava barusan.

__ADS_1


"Dia ada benarnya juga. Apa yang akan ku lakukan jika sampai mama sama papa curiga dengan hubungan kami yang tidak harmonis? Apalagi mereka sampai tahu, kalau kami hanya menikah kontrak saja. Tidak terbayangkan, apa yang akan terjadi nantinya!" Gumamnya dalam hati.


"Jangan tunjukkan wajah murung mu itu. Bersikaplah tenang!" Sahut Dava singkat.


Lalu Rea segera merangkul tangan kekar Dava dan menunjukkan senyum mengembangnya.


"Kalian sudah datang, sayang?" Sahut mama Zahra, ibu mertua Rea. Dan dibalas anggukan oleh keduanya, sambil tersenyum tipis.


Mama Zahra tersenyum bahagia. Ia merasa senang melihat putra kesayangan nya dan juga menantunya terlihat sangat harmonis. Begitupun sang suami dan juga orangtua Rea dan adik kesayangannya tak luput merasa bahagia. Kedua keluarga itu, diselimuti dengan kebahagiaan yang melipat kali ganda.


"Yaudah, kita masuk yuk?" Sahut Tuan besar Mourinho. Lalu mereka masuk ke dalam menuju ruang makan.


"Di ruang makan!"


Sebelumnya, semua hidangan telah dipersiapkan oleh si Tuan rumah beserta para pelayannya. Hidangan-hidangan mewah telah tertata rapi di meja makan dan siap untuk disantap. Tak menunggu waktu lama, mereka langsung makan dengan lahap.


Dava dan Rea juga, harus tetap melanjutkan aktingnya. Keduanya selalu bersikap harmonis seolah mereka memiliki hubungan yang baik. Agar orang tua mereka tidak curiga dan kecewa dengan tindakan yang telah mereka lakukan.


Disela-sela makan, mama Zahra membuka percakapan yang ditujukan kepada pengantin baru itu.


"Emm, sayang! Jadi kapan kalian akan memberi kami cucu?" Tanyanya penuh harap sambil tersenyum bahagia.


Mendengar hal itu, Rea langsung terkaget dan membuatnya tersedak.


"Uhuk..uhuk..uhuk!" Semua merasa khawatir melihatnya. Dan Dava langsung menyodorkan segelas air putih untuknya.


"Minumlah!" Sahutnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung Rea.


Sementara mama Zahra dan yang lainnya, merasa heran. Kenapa Rea bersikap demikian? Apa dia belum siap punya anak? Lagipula mereka adalah pengantin baru yang harmonis. Kebahagiaan mereka akan semakin lengkap jika dikarunia seorang anak. Itulah pemikiran orang tua mereka saat ini. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa mama salah bicara? Mama hanya ingin menggendong cucu saja. Mama kesepian dirumah, kalau papa mu lagi kerja!" Lanjut mama Zahra dengan nada memelasnya.


"Iya, sayang! Mama sama papa juga pengen cepat-cepat nimang cucu. Lagipula, kehadiran seorang anak akan semakin melengkapi rumahtangga kalian!" Sambung mama Laila.


"Baiklah, ma! Kami akan berusaha, kalian juga harus bersabar menunggu!" Sahut Dava sambil tersenyum tipis. Dan hal itu, membuat Rea semakin kaget.


"Apa maksudnya? Berusaha? Untuk punya anak? Aku tidak akan mau punya anak dengan pria es dingin seperti mu ini. Aku tidak tau, apa jadinya anakku nantinya. Ayahnya es balok, dan anaknya menjadi es lilin? Tidak, itu tidak boleh terjadi." Gerutunya dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Mama sama mama mertuaku juga.. kenapa mereka menginginkan seorang cucu sekarang? Aku belum siap! Lagipula.. kami hanya menikah kontrak saja. Ya, Tuhan.. tolonglah aku!" Gumamnya lagi.

__ADS_1


Sementara kedua wanita yang menginginkan cucu tersebut, tersenyum bahagia mendengar jawaban Dava. Begitupun dengan Tuan Mourinho dan Tuan Rei. Mereka mendambakan kehadiran seorang cucu sesegera mungkin.


TBC


__ADS_2